Nisa Untuk Abi

Nisa Untuk Abi
Temani aku, disini.


__ADS_3

"Sebenarnya jasadku sudah mati sejak hari itu. Hanya saja, jasadku tak dikubur di dalam tanah, melainkan terkubur di dalam rasa trauma yang tak kunjung punah. Seseorang yang terluka, mungkin bisa sembuh. Tapi tidak dengan trauma. Mungkin bisa pulih, tapi tidak seutuhnya. Dia sudah cacat, tak mungkin akan kembali seperti semula. "


Nisa merapatkan selimut Abi. Ingin pergi, namun Abi menahannya.


"Jangan pergi, disini saja." pinta Abi. Mungkin, Ia takut jika bayangan itu akan datang kembali.


"Tapi, Mas. Mama?"


"Aku, yang akan menjelaskannya." ucap Abi, tanpa membuka mata.


Nisa meraih sebuah kursi, dan membawanya mendekat di ranjang itu. Ia duduk, menemani Abi hingga pulas. Namun, Ia pun tanpa sadar tidur di sisi Abi hingga pagi menjelang.


Abi sudah tampak tenang. Tentu saja, semua karna bantuan dari obat itu. Dan apakah, Abi akan terus meminumnya seumur hidup?


**


"Mba? Mba Nisa, ini sudah pagi loh. Kok belum bangun?" ketuk Bibik, dipintu kamar Nisa. Ia membukanya perlahan, namun tak menemukan Nisa disana.


"Lah, kemana? Pagi-pagi udah ngga ada." fikirnya, mencari hingga ke kamar mandi.

__ADS_1


Ia kemudian memberanikan diri, masuk ke dalam kamar Abi. Karena Abi pun tak biasanya, bangun kesiangan seperti ini. Bibik mengetuk perlahan, dan sama saja tak ada jawaban. Ia pun membuka pintu kamarnya perlahan.


"Astaghfirullah," ucapnya lirih.


Bagaimana tidak? Ia menemukan Nisa tidur di kamar Abi, dan posisi mereka adalah saling berpelukan. Memang, pakaian mereka masih lengkap satu sama lain. Tapi, Bibik begitu syok melihat nya.


"Bibik?" Nisa tersentak, dan langsung bangun dari tidurnya. Memutar badan dan melewati Abi, tanpa sadar menginjak lengan pria itu.


"Aaaarrrkkhhh!" Abi berteriak sejadi-jadinya.


"Ma-maaf, ngga sengaja." ucap Nisa. Namun, Ia ternyata Ia tak perduli. Justru terus berlari dan kembali ke kamarnya.


"Mas Abi, ngga papa?" tanya Bik Nik, yang langsung menghampirinya.


"Engga. Saya mandi dulu. Tunggu kami di bawah," pintanya pada sang Bibik.


Bik Nik segera menurutinya, keluar dan langsung membereskan meja makan. Di sana Mama Sofi pun tengah menunggunya.


"Kamu kenapa, Bik?" tanya Mama Sofi, yang melihat Bik Nik dalam kebingungan.

__ADS_1


"Saya, menemukan Nisa sama Abi satu kamar. Dan... Satu ranjang," jawabnya ragu.


Mama Sofi langsung terdiam. Menghentikan segala aktifitas yang tengah Ia lakukan saat itu. Tangan nya langsung gemetar, fikirannya langsung menerawang jauh tanpa kontrol.


"Tapi, mereka ngga lakuin apapun. Sepertinya." imbuk Bik Nik, membuat Mama bernafas sedikit lega.


"Saya yakin, mereka dapat menjaga diri masing-masing, hingga hari itu tiba. Tinggal beberapa hari lagi," gumam Mama Sofi.


Bik Nik hanya bisa mengusap bahunya, untuk sedikit menenangkan.


"Aku yang memintanya kemari. Aku yang memintanya menikah. Aku, yang ragu dengan berita itu. Kenapa aku juga, yang takut terjadi sesuatu yang tak ku inginkan?" batin Mama Sofi, sedikit galau pagi ini.


Abi dan Nisa turun bersamaan. Nisa masih mengenakan dres itu, karena Abi memberinya beberapa lembar semalam. Entah, darimana Abi mendapatkan nya. Tapi, Nisa tampak begitu anggun.


" Mas, tangan nya ngga papa?" tanya Nisa.


"Kau lihat saja sendiri," Abi menunjuk kan lengannya, ketika telah duduk di meja makan. Nisa pun spontan mengusapnya, dengan sesekali meniupnya untuk meringan kan rasa sakit yang mungkin Abi rasakan.


"Bagaimana malam kalian?" tanya Nama Sofi, yang sontak membuat Nisa melotot dan menunduk kan wajahnya.

__ADS_1


"Aduh, Bibik cerita apaan ini?" takutnya.


__ADS_2