
Abi hanya bisa menatap kekesalan Nisa. Membiarkan nya pergi dengan segala amarah yang ada. Langkah kakinya terbaca begitu cepat, dengan hentakan yang begitu kuat dan kasar. Abi hanya membulatkan mata dan menggelengkan kepalanya lagi.
"Eeerrrrghhh! Ngeselin!" gemas Nisa.
"Kamu kenapa sih? Dokumenmu, di tolak Pak Abi?" tanya Defi, mendekat dan membantu Nisa memeriksa semuanya.
"Engga kok, ngga ditolak. Malah udah di tanda tangan. Kamj beruntung loh, langsung di baca sama Pak Abi."
"Beruntung, aku beruntung? Rasanya, itu adalah sebuah kesialan besar dalam hidupku!" gerutu Nisa dalam hati.
Kejadian barusan, membuat mood Nisa benar-benar buruk. Membuatnya lantas tak berselera melakukan apapun. Bahkan, makan siang pun Ia malas. Ia menolak, ketika Feby mengajaknya ke kantin untuk makan siang. Ia memilih di ruangan dan menelpon bagian Rumah sakit untuk menanyakan kabar Neneknya.
Sempat menyesal kembali, kenapa harus bertanya. Bukan ketenangan yang Ia dapat, justru malah sebuah pemberitahuan gawat darurat bersama beberapa tagihan yang harus Ia bayar segera.
"Kenapa pake nanya? Harusnya nanya nya besok aja. Kalau begini, yang ada makin stres." gumamnya, menempelkan keningnya pada ujung meja kerja.
__ADS_1
"Nisa, kamu ngga makan siang?" Dita menghampirinya. Nisa pun segera mengangkat kepala. Menatap Dita yang menjadi harapan terakhirnya, seperti seorang penyelamat dengan harapan yang begitu besae.
"Heh, kenapa kamu natap saya begitu? Bikin geli aja." tegurnya Dita padanya.
"Bu... Boleh, saya minta tolong?" tanya Nisa, dengan begitu lembut.
"Apa?" balas Dita dengan ketus.
"Sa-saya, mau cash bon, boleh? Potong gaji aja tiap bulan, ngga papa."
"Bu, tolong. Saya butuh dana untuk nenek saya. Sampai sekarang masih koma."
"Sesuai peraturan, Nisa. Nanti malah ada huru hara, seolah saya menganak emaskan kamu. Pegawai lama, akan nuduh saya macem-macem." jawab Dita.
Tak ingin perdebatan berlanjut, Dita pun segera pergi dari hadapan Nisa. Nisa hanya bisa kembali diam, dengan segala kegaulauan di hatinya. Bingung, perih, cemas. Semuanya bercampur menjadi satu saat ini.
__ADS_1
"Aku bahkan belum pernah melihat uang segitu banyak." gumamnya.
Hari pun semakin gelap. Semua berberes untuk pulang ke rumah masing-masing. Tapi tidak dengan Nisa. Ia masih diam, bingung akan pulang kemana kali ini. Dari kejauhan, Abi menatapnya dalam diam. Hingga akhirnya, Ia melihat Nisa mulai beranjak, namun tatapannya begitu galau dan kosong.
"Bi, kau tak pulang? Sebentar lagi gelap, dan Alex sedang tak bisa mengantarmu." tegur Dita.
"Ya, sebentar lagi. Ini masih sore, dan tak akan ada yang menembakkan lampu mobil nya padaku."
"Kita tak tahu, apa yang akan terjadi di jalanan nanti, Bi."
"Iya, aku pulang." ucap Abi, meraih jas hitam nya dan segera berjalan menuju mobilnya.
Abi diluar. Tanpa sadar menatap Nisa yang melamun diatas motornya. Tampak begitu berat fikiran nya saat ini. Ia berusaha cuek, masuk kedalam mobil dan mulai memanaskan mesin. Namun, Ia terus manatap gadis dengan segala rasa galaunya itu dari kejauhan. Hingga Nisa pun menghilang dari pandangan matanya.
"Dimana cerewetnya? Aneh, ketika aku melihatnya diam begitu." gumam Abi. Ia pun segera pulang, melihat langit yang sudah mulai gelap. Menyetir dengan suasana yang tenang di antara hiruk pikuk jalanan.
__ADS_1
Nisa berjalan dengan segala gundah dalam hatinya. Lima puluh juta, darimana Ia akan dapat uang itu dalam hitungan hari. Bahkan, jika keajaiban cashbon mendatanginya, perusahaan tak akan mau meminjamkan sebanyak itu untuk seorang pegawai baru.