Nisa Untuk Abi

Nisa Untuk Abi
Apa, itu tadi?


__ADS_3

"Kau kenapa?" tanya Abi, menatapnya aneh.


"Oh, ngga papa. Nisa, cuma mimpi tadi." jawabnya, berusaha bangkit dari tempatnya tersungkur.


"Seperti anak kecil. Bermimpi apa hingga terjatuh?" omel Abi, sembari membuka satu persatu pakaian kotornya.


Nisa hanya bisa menghela nafas dengan begitu panjang. Memijati bahunya nya yang sedikit sakit. Bahkan, pinggangnya serasa terkilir hingga harus Ia bunyikan.


" Ya, seharusnya aku faham jika itu mimpi. Dan harusnya, aku segera bangun bukan bertahan disana. Itu mimpi. Ingat? Mimpi! Membayangkan dia bisa memperlakukan aku begitu, rasanya seperti menunggu tetangga ku membayar hutang yang sudah Lima tahun tak lunas." gerutunya dalam hati.


" Aaah, sakitnya..." rengek Nisa dengan pinggangnya. Siapa sangka, Abi justru menghampiri dan membuka pakaian belakangnya.


" Hey, mau apa? Ini masih sore, nanti...."


Ucapan terpotong, ketika Abi menunjukkan sebuah salep di tangannya.


"Menurutmu?" tanya Abi, datar. Lalu mengoles salep itu dibagian yang nyeri. Nisa pun dengan tenang, menikmati kehangatan yang meresap disekujur punggungnya. Dari salep tentunya, bukan kehangatan dari sang suami.


"Kau berfikir apa?"

__ADS_1


"Engga... Ngga mikir apa-apa. Kenapa?"


"Kenapa membicarakan nanti malam?" tanya Abi.


"Nisa cuma bilang, ini masih sore. Bukan bilang nanti malam,"


"Tapi, intinya begitu. Itu yang ku cerna..." ucap Abi.


Nisa menoleh kebelakang. Ia melihat Abi yang tampak beku menatap punggungnya. Diam, tanpa mengedipkan mata sedikitpun.


"Mas? Mas kenapa?" tanya Nisa. Ia hanya cemas, karena ketika Abi mendadak diam, pasti akan ada sesuatu yang terjadi. Terutama, pada halusinasinya.


"Hey, ada apa? Ngomong sama Nisa..." pintanya, dengan penuh rasa simpati. Karena di saat seperti itu, Abi sebenarnya tak butuh obat penenang. Tapi, Ia butuh teman yang dapat memeluk dan menenangkannya.


"Kau... Mau memeluk ku?" pinta Abi. Tatapan itu, benar-benar penuh pengharapan. Seolah Ia memang merindukan pelukan itu dari seseorang.


Tak apa, jika Nisa yang harus menjadi pelampiasan. Bukan bodoh, tapi hanya mengajarinya perlahan tentang cara mengikhlaskan.


Nisa meraih tangan Abi. Menariknya, dan membawanya ke dalam pelukan. Begitu hangat, hingga Abi menenggelamkan wajahnya disana. Nisa mengusap rambut Abi, dan sesekali mengecupnya dengan lembut.

__ADS_1


"Mas kenapa?"


"Jangan dulu bertanya. Biarkan saja aku seperti ini. Aku mohon,"


Nisa tak bersuara. Ia kembali meraih wajah Abi, dan menghadapkan wajah keduanya. Abi masih memejamkan matanya, seperti tengah mempertahankan sebuah bayangan, agar tak memudar.


"Mas, buka mata..." bujuk Nisa. Abi pun menurutinya.


Abi membuka mata, dan menemukan senyum indah Nisa disana. Dan siapa sangka, Nisa mendekatkan bibir dan mengecuup bibir Abi dengan begitu mesra.


"H-Hey...." sela Abi. Namun, Nisa kembali mengecupnya untuk yang kesekian kali. Pipi, dahi, dan hidungnya.


Abi diam seribu bahasa. Bibir nya bahkan tak sanggup mengatakan apapun pada Nisa. Apalagi, ketika Nisa justru meraih dan mencium telapak tangan nya. Ya, ketenangan seperti ini rasanya, yang lebih Abi butuhkan. Dibanding obat yang hanya bisa membuatnya tidur. Dan bahkan membuatnya tak ingin bangun lagi.


"Udah... Mandi yuk, udah sore. Nanti kita mau ke pesta." ucap Nisa, mengakhiri semuanya.


"Ya, baiklah..." jawab Abi. Membiarkan berdiri dan beranjak pergi dari pandangan matanya.


"Apa itu tadi? Perlakuan seperti apa yang Ia berikan padaku?"

__ADS_1


__ADS_2