Nisa Untuk Abi

Nisa Untuk Abi
Totalitas Abi untuk Nenek.


__ADS_3

"Kan, Mama lihat..." tutur Abi, yang berdiri dan segera kembali dengan pakaiannya.


Nisa pun kembali duduk, dan menggoyang-goyang kan kakinya yang menggantung di bawah ranjang.


"Maaaas," panggilnya manja.


"Hmmm?"


"Ke Rumah sakit, ya? Please." mohon Nisa, yang memang sudah begitu rindu.


Abi hanya mendiamkannya, dengan terus merapikan dirinya sendiri.


"Mas?" Nisa menghampiri dengan meraih jari kelingking Abi yang menganggur.


"Nenekmu, baik-baik saja."


"Nisa tahu, Adhim sering beri kabar."


"Kau berhubungan dengan dia?"


"Hanya bertanya kabar Nenek," Nisa menundukkan wajah nya.


"Tatap aku," pinta Abi, dan Nisa pun menurutinya. Dengan mata yang mulai berkaca-kaca.


"Aku tak suka, kau terlalu sering berhubungan dengannya." ucap Abi, dibalas dengan gelengan Nisa. Meyakinkan, jika Ia dan Adhim tak memiliki hubungan sama sekali. Hanya mantan partner, bahkan tak lebih dekat dari Abi dan Dita.

__ADS_1


"Bersiaplah... Nanti ku antar,"


"Siap," Senyum terulas dari bibir Nisa, dengan mengulurkan jempolnya untuk Abi. Pria itu hanya menatap nya diam, tanpa mengeluarkan sepatah kata pun lagi. Nisa pun menggendengnya mesra untuk turun bergabung dengan Mama di bawah.


Abi dan Nisa biasa saja. Tapi entah, kenapa Mama Sofi yang menjadi gugup dan salah tingkah kali ini. Atau, gara-gara penampakan yang baru Ia lihat tadi. Tangannya tremor, dan wajahnya bahkan pucat. Namun, Ia menyangkal ketika Nisa mempertanyakan kesehatannya.


"Ma-Mama baik. Sangat baik," jawabnya, tanpa mampu menatap Nisa dan Abi.


"Mama aneh,"


"Berhenti menggerutu,"


"Iya, maaf..."


"Usai waktu kunjungan, langsung pulang. Jangan pergi kemnapun tanpa aku."


"Meski, ingin menengok rumah?"


"Ya," jawab Abi, begitu singkat namun tak dapat ditentang.


"Iya," Nisa kembali mengangguk pasrah.


Mereka telah tiba di Rumah sakit. Abi turun, dan segera membuka kan pintu mobil untuk istrnya. Tak lupa, tangan yang memegangi kepala bagian atas Nisa agar tak terkena bagian mobil.


"Ngga ikut masuk? Bentar aja,"

__ADS_1


"Ada rapat, Dita menunggu."


"Yaudah," Nisa mengulurkan tangan, dan Abi memberikannya untuk Nisa cium seperti biasa. Ia pun langsung masuk kembali ke dalam mobil untuk segera pergi meninggal kan Nisa menjenguk Neneknya sendiri disana.


"Mba Nisa, akhirnya datang juga." sapa salah seorang Suster yang menjaga sang Nenek.


"Iya... Nenek, mana?"


"Nenek baru saja saya bersihkan tubuhnya. Kini sudah mulai mendingan, dan tidur pulas di kamarnya." ucap Sang suster. Yang bahkan, Nenek belum pernah membuka matanya sejak dirawat. Ia hanya ingin mengatakan, jika Nenek baik. Meski stuck di keadaan yang sama.


Ruang VVIP. Ruangan yang diberikan Abi untuk Nenek Nisa. Jangan ditanya pelayanan dan harganya, karena kelas seperti itu hanya untuk orang elit. Dan bahkan, Nisa hanya tak mampu membayar biaya kelas Tiga disana. Ruangannya besar, memiliki Tv dan kulkas. Bahkan kulkas memiliki isi yang lumayan lengkap.


"Seorang pria, bernama Alex. Beliau sering datang, dan menghabiskan waktunya disini."


"Pak Alex? Dari perusahaan?"


"Ya, itu juga yang saya tahu."


"Iya, terimakasih." ucap Nisa, dan Suster itu pun pergi dari hadapannya.


Suara monitor masih berbunyi disana. Stabil, dengan gerakan dan irama yang sama. Menandakan, jika jantung Nenek masih bergerak dengan normal. Begitu juga pernafasannya, meski dibantu dengan oksigen. Dan beberapa alat lain yang terpasang.


"Nenek hanya butuh satu ginjal. Namun, itu pun tak menjamin akan menyelamatkan hidupnya. Kita tahu, usia, dan penyakit bawaan lainnya. Tapi tak apa, jika ingin terus berusaha sekuat tenaga." ucap Dokter pada Nisa, yang di pesan kan lewat Adhim kala itu.


Tak mungkin, jika Abi tak mengetahui semuanya..

__ADS_1


__ADS_2