
Nisa menggeliatkan tubuhnya. Ia meraba bagian belakang ranjang kerasnya, dan mencari Abi. Namun tak Ia temukan.
"Masa udah pergi, kan masih pengen di manja." manyun nya, duduk dengan lesu di pinggiran ranjang. Hingga sebuah bau harum masakan tercium dari dapur. Nisa berdiri, dan melangkahkan kakinya perlahan menghampiri.
"Mas?" panggilnya, ketika melihat Abi tengah memasak di dapur. Masih dengan kemeja putih, karena Ia bahkan tak sempat membawa barangnya untuk kembali pulang.
"Hey, sayang. Sudah bangun?" toleh Abi, dengan senyumnya yang begitu menggetarkan jiwa. Apalagi, panggilan sayang untuk Nisa.
Andai Nisa dalam mode normal, mungkin Ia bisa pingsan karena mleyot dengan kemesraan yang Abi berikan.
Nisa pun berjalan dengan langkah gemoy nya, menghampiri dan memeluk Abi dari belakang dengan begitu erat.
"Kirain udah pergi." ucap Nisa, menelusup dari bawah ketiak, dan mendongak menatap suaminya.
"Mana mungkin, aku bisa meninggalkanmu. Kau saja tak pernah bisa meninggalakan ku. Meski sempat..."
"Udah, jangan dibahas lagi. Namanya juga khilaf," rengek Nisa. Abi hanya tersenyum, meraih kepala Nisa dan mengecupnya dengan hangat.
Dua piring nasi goreng, dengan telor ceplok diatasnya. Abi menyusun nya dengan rapi di dalam piring yang juga telah Ia siapkan.
" Mandi dulu, atau sarapan dulu? "
" Sarapan, laper," Nisa mengusap perutnya yang sudah kempes.
"Bawalah ke meja, kita sarapan bersama." Nisa meraih piring itu dan membawanya, sementara Abi membersihkan bekas tempatnya memasak.
"Emang masih ada beras, dirumah?"
__ADS_1
"Mana ada," tukas Abi.
"Ini?" tunjuk Nisa pada isi piringnya.
"Kau tahu? Setelah sekian lama, akhirnya aku merasakan lagi, meminta beras pada tetangga." ucap Abi, mulai menikmati sarapannya.
"Hah, minta? Serius?"
"Ya, minta dengan Bu Tami. Benar kan, Bu Tami yang di sebelah?"
"Iya," angguk Nisa. Agak aneh, tapi Ia senang ketika Abi mendekat pada semua warga disini.
"Emangnya, malam-malam masih bisa beli tiket dadakan?" Nisa menyambung obrolan.
"Aku tak dapat tiket,"
"Ku beli tiket orang lain, dengan harga hampir sepuluh kali lipat." jawab Abi, semabari meneguk air putihnya hingga tandas.
Nisa pun mulai menghitung, berapa biaya yang Abi keluarkan hanya untuk kembali padanya malam itu.
"Astaga...." kagetnya, dengan mata melotot begitu bulat. Nyaris tak percaya, tapi itu suaminya. Dan Ia tak akan pernah bohong.
Keduanya menghabiskan sarapan. Abi rupanya menyimpan bakat terpendam dengan tugas dapurnya. Masakannya enak, dan Nisa suka itu. Mengurangi keinginan jajan baginya, karena bisa merayu sang suami untuk memasak kan makanan lezat untuknya.
"Mas?"
"Hmmm?"
__ADS_1
"Mengenai, yang Mas katakan semalam. Tentang..."
"Apartemen?"
"Iya..." angguk Nisa. Karena Ia tahu, itu bukan Apartemen milik Abi. Tapi seseorang akan bekerja sama menggunakan jasa perusahaan Abi untuk membangunnya. Dan sebuah pembatalan, tak semudah membalik kan telapak tangan. Bahkan bisa di tuntut, karena Abi tidak profesional dalam pekerjaannya.
"Biar aku urus. Itu tugasku."
"Tapi...." Abi hanya tersenyum, dan mengusap wajah Nisa.
Usai membereskan semuanya, Nisa mandi dan berbenah diri. Sedangkan Abi, masih sibuk dengan Hpnya. Ia menghubungi sekretarisnya, namun tak kunjung diangkat oleh Dita.
"Kenapa, Mas?"
"Dita... Aku mau Dia mengantar pakaian untuk ku. Tapi, Ia tak menjawab."
"Sibuk, mungkin. Kan dari kemaren, Dia pegang kerjaan Mas."
"Mungkin," timpal Abi. Tampak Ia sudah mulai gerah, karena dari semalam tak mandi. Dan Ia, tak bisa jika memakai kembali pakain yang sudah Ia bawa tidur dan bercampur keringatnya.
"Minta tolong Feby, ya?"
"Bisa?" Abi mengerenyitkan dahinya.
"Bisa dong... Bentar, Nisa hubungi." Nisa pun mulai menelpon Feby. Ia memintanya untuk pergi ke alamat Abi, lalu meminta pakaian pada Mama Sofi. Dan memintanya untuk mengantar ke rumah Nisa secepat mungkin.
Feby menuruti nya dengan antusias.
__ADS_1
"Yes, akhirnya bisa mendekatkan diri." ucap Feby dengan gembiranya. Ia segera pergi setelah izin dengan Manda, menggunakan motornya menuju tempat yang harus Ia tuju. Melaksanakan perintah dengan sebaik mungkin.