
Abi menyetir mobil nya. Menuju kemana, Ia pun tak tahu. Hanya mengikuti kata hati, dan sejenak rindu yang menggelanyut di dalam jiwa nya. Hingga berakhir pada sebuah lokasi pemakaman umum, dimana Rere berada. Abi bahkan jarang sekali kesana, karena Alex selalu melarangnya.
Sebuah buket bunga Ia bawa. Melangkah begitu berat menuju sebuah batu nisan di sana. Sebuah nama tertulis dengan cantik berkeramik hitam berkilau. Nama itu, yang Lima tahun lalu Ia hafal dengan baik. Bahkan, tak perlu waktu lama mengingat dan melancarkan lafadznya.
"Re, aku datang," ucap Abi. Ia menaikan sedikit celananya dan berjongkok tepat di nisan Rere. Makam tampak begitu bersih dan terawat, bahkan tak ada satu rumput pun berdiri ditengahnya. Hanya sirman bunga mawar, yang bahkan masih harum dan baru. Entah siapa yang baru datang dan menyiraminya.
"Kau tahu? Aku bahkan tak pernah bisa melupakanmu. Jangankan melupakan, hanya sejenak istirahat dari semua kenangan kita saja begitu sulit. Kau tahu? Pasti kau tahu, karena aku sangat mencintaimu."
Abi berbicara sendirian, seolah memang Rere berada disana. Tepat, ada didepan nya dengan gaun putih dan rambut yang terurai panjang. Begitu indah, dan ingin sekali Abi membelainya kala itu. Apalagi, dengan senyumnya yang begitu ramah.
" Aku butuh istri. Kau tahu, untuk apa. Aku butuh dia, karena dia memang membutuhkan sesuatu dariku. Tak lebih. Bukankah, kau suka jika aku berbuat baik? Aku akan menolong nya. Hanya itu," ucapnya dengan air mata yang kembali mengalir.
__ADS_1
Rere hanya kembali tersenyum dengan manis, sesekali seolah membelaikan tangan nya ke wajah Abi. Mengusap rambutnya yang rapi dan berponi, serta mengusap alis tebal yang selama ini paling Rere suka dari Abi.
#
"Alismu, buat aku insecure."
"Lah, kenapa? Alisku normal."
"Iya, normal. Semua tahu," jawab Rere, yang tengah asyik dengan ice creamnya.
Rere hanya cemberut. Tampak tak suka ketika ritual memakan ice creamnya terganggu. Meski itu adalah kekasih nya sendiri.
__ADS_1
"Kau lihat, alisku tipis. Bahkan, butuh pensil alis untuk menebalkannya. Mau pasang sulam alis, kata Nenek haram. Jadi aku mundur." jelasnya.
Abi mengusap alis itu, "Aku suka." ucapnya.
Rere hanya tertawa, dan kembali pada ice crem coklatnya. Menikmati malam minggu yang cerah di tepi danau tempat mereka biasa berkencan. Suasananya tenang, dan begitu romantis bagi keduanya yang. Memang jarang bertemu. Abi dengan perkembangan usahanya, dan Rere dengan pekerjaannya.
*
Kaki Abi terasa begitu berat. Berdiri menopang tubuh nya yang lelah, dengan kepala yang nyaris penuh dengan segala permasalahannya. Berjalan dengan gontai meninggalkan area pemakaman, dan berusaha dapat menyetir sendiri mengejar mata hari agar tak buru-buru tenggelam berganti rembulan.
"Kau kuat, Abi. Kau kuat," gumamnya, mulai menyalakan mobil dan berjalan pulang.
__ADS_1
Jalanan di sore hari memang begitu ramai. Semua orang terburu-buru untuk pulang tempat peristirahatan masing-masing. Menjumpai yang tersayang, yang telah menunggu seharian dirumah mereka. Atau, saling bertemu disebuah tempat yang mereka janjikan. Dengan penuh semangat, dan perasaan yang berbunga-bunga.
Abi pernah merasakan itu. Bahkan di rasa lebih indah oleh ya. Namun, harapan terlalu Ia gantung kan tinggi, hingga Ia tak pernah siap di tumbangkan oleh sebuah kata realita. Hanya kini, Ia menjalani hidupnya yang entah akan bagaimana.