
Nisa gelisah. Memejamkan mata saja rasanya begitu sulit. Padahal, Mama menyuruhnya istirhat setelah membantu nya memindah tanaman dari potnya. Ia berguling-guling tak karuan, meski sebenarnya Ia bingung memikirkan apa saat ini.
Ia akhirnya meraih Hpnya di nakas. Melirik jam yang tertera disana.
"Jam Lima sore, kenapa belum pulang?" gumamnya, mulai cemas. Bahkan, memberanikan diri menghubungi nomor suaminya.
"Resiko. Namanya khawatir, mau ngomel ya biarin deh."
Nomor yang anda hubungi sedang sibuk. Hanya itu, jawaban dari operator Hp Abi.
"Eeeergh! Kemana sih? Katanya rapat, kenapa harus matiin Hp?" kesalnya. Fikirannya semakin gelisah. Mau tak mau menghubungi Dita saat itu juga. Untung saja, Ia sempat mengambil nomor itu dari Hp Abi.
Cukup lama menunggu, agar Dita menjawabnya. Membuat Nisa beberapa kali menggerutu dalam hati.
"Hallo," Dita akhirnya menjawab panggilannya.
"Hallo, Bu Dita. Lagi dimana?"
"Dirumah, kenapa?"
"Udah pulang? Mas Abi mana, kok belum sampai?"
__ADS_1
"Abi tidur. Sangat pulas, dan aku tak tega membangunkan nya. Nanti, ku kirim fotonya." ucap Dita, dengan begitu santai sembari memakai skincarenya. Ia baru saja mandi, dengan rambutnya yang basah dan begitu segar.
"Dia... Tidur disana?" tanya Nisa. Ia berusaha, membawa dirinya agar tetap tenang saat itu. Meski, rasanya ingin segera menghampiri dan mengacak-acak rumah Dita saat itu juga.
"Ya.... Tadi terpaksa aku meminumkan obat padanya. Nyaris kambuh, karena terlalu lama sepi."
"Ya, biasanya dia harus menggenggam, atau bahkan memeluk tubuhku." jawab Nisa. Seketika membuat Dita meradang.
"Sabar lah menunggu. Abi tak suka, jika tidurnya dibangunkan dengan paksa."
"Ya, aku juga tahu. Biarkan saja dia tidur. Nanti, Ia akan mencariku dan dia akan segera pulang."
Ia menoleh, menatap Abi yang memang tidur dengan begitu pulas di ranjangnya. Dengan kaos oblong putih, bibirnya yang manis dan matanya yang tetap indah meski terpejam. Dita menghampiri, lalu tidur menatapnya dengan lekat. Mengusap alis dan turun kehidungnya yang bangir.
Abi mungkin merasakannya. Alisnya bergerak, dan Ia perlahan membuka matanya. Begitu terkejut, ketika Dita yang ada di hadapannya. Ia pun beringsut, duduk dan menatap seisi ruangan itu..
"Kenapa membawaku kemari?" tanya Abi, memijat tengkuknya yang sedikit pegal.
"Aku lelah. Ingin memulangkanmu, rasanya jarak begitu jauh.. Maaf, membuatmu istirahat disini."
"Kenapa harus di kamarmu?"
__ADS_1
"Hey, kamarku memang hanya satu. Aku tak tega menidurkan mu di sofa." jelas Dita, yang berdiri dan mempersiapkan baju ganti untuk Abi. Bukan miliknya, hanya milik Alex yang sering di titipkan disana.
"Kau mau mandi? Keringatmu cukup banyak, mungkin efek obat." tawar Dita.
Abi bergeming. Ia berdiri dan memakai lagi pakaiannya yang tadi. Ia bahkan tak menatap Dita sedikitpun kala itu.
"Bi, kau marah? Aku sudah minta maaf. Toh, aku sudah bilang pada Nisa, jika kau disini. Katanya, tak apa."
"Begitu?" tanya Abi, memakai jam tangan nya dengan rapi.
"Ya, katanya, kau akan pulang sendiri."
"Ya, aku pulang." jawab Abi, begitu dingin tanpa mau menatap Dita sedikitpun.
"Bi, aku hanya... Toh, Nisa tak cemburu padaku. Kenapa kau yang begini?" tatap Dita, cemas melihat Abi begitu dingin padanya..
"Jika aku bilang pulang, maka aku ingin pulang. Jika kau membawaku ke tempat lain, kau sudah menentangku."
"Bi, ini rumahku, sahabat dan sekretarismu. Begitu takut kah kau pada Nisa?" sergah Dita.
"Sekali lagi kau lakukan ini... Kau ku pecat..." jawab Abi dengan begitu tenang dan datar. Ia segera meraih kunci mobilnya, dan pergi meninggakkan Dita, tanpa sepatah katapun. Bahkan, tanpa menoleh sedikitpun pada gadis itu.
__ADS_1