Nisa Untuk Abi

Nisa Untuk Abi
Hinaan sang mantan


__ADS_3

Nisa sampai membulatkan matanya. Bahkan memundurkan kepalanya karena respon yang diberikan Nada padanya.


"Lah, kok sewot? Aku cuma keselek," timpal Nisa.


"Keselek kenapa? Kamu nyibir David kan? Karena dia di usia muda udah bisa jadi manager. Ngga kayak kamu, cuma jadi pegawai rendahan. Nikah sama satpam. Untung aja, David ngga jadi sama kamu."


"Iya, Nada, Iya.... David memang hebat. Hebat banget. Apalagi orang dalemnya, hebat banget sampai bisa masukin jadi manager." Nisa mengacungkan jempol pada keduanya.


"Vid, udah lah. Kau yang mulai, juga. Kenapa malah kalian nyalahin Nisa. Dia daritadi ngga ada ganggu kalian." tegur Bima, berusaha menengahi. Begitu juga yang lain, mendukung Bima agar kedua kubu itu tak lagi bersitegang.


"Maaf ya, aku ganggu acara kalian. Jujur, aku ngga enak datang kesini, kalau ngga Maya yang ajak. Aku sadar, aku siapa." ucap Nisa, merendah agar lebih memperparah keadaan.


Semua mengerti dan memahami. Nisa berusaha pamit, namun dicegah oleh para teman nya itu. Mereka tak ingin ada yang tertindas di sana, dan berusaha menentramkan kembali keadaan, dengan cara tak membahas pekerjaan atau pun pendapatan.


Acara makan pun dimulai. Sayangnya, mereka memesan steak untuk santap malam itu. Nisa hanya bisa diam, menahan selera nya malam ini.


"May, boleh pesan yang lain?" bisik Nisa pada sahabatnya itu.


"Kenapa? Kamu ngga suka? Tenang, ini udah...."


"Aku kan alergi daging, May." jelasnya.


"Oh iya, lupa. Maaf, ya? Pesen aja yang lain ngga papa, nanti aku bayarin. Aku traktir, untuk pertemuan kita."ucap Maya.

__ADS_1


" Makasih," angguk Nisa, kemudian memesan kembali makanan yang lain untuknya. Tak mahal, hanya mengganti steaknya dagingnya dengan ayam. Dan daging itu Ia bungkus untuk Abi.


"Udah ditraktir, banyak maunya. Pake segala dibungkus lagi. Ngga tahu diri banget." nada agaknya masih dendam pada Nisa, perkara tadi.


"Maya yang traktir, aku alergi daging. Bungkus aja, buat Mas...."


"Hhh, kan... Ngga pernah makan enak. Jadinya dibawa pulang biar dobel. Alasan!" cibiran Nada semakin menjadi.


"Aku ngga ganggu kamu, Nada. Bisa diem ngga? Jangan sampai...."


"Apa?" potong Nada. "Mau apa kamu sama Aku? Potongan begini aja sok-sokan mau ngelawan. Lihat bajumu... Ngga berkelas gini. Ngga pantes ke circle ini."


"Nada, diem!" tegur Maya.


"Mas Abi.... Andai kamu disini," lirih Nisa.


"Siapa Abi? Suamimu? Kenapa dipanggil, buat ajak para satpam nolongin? Ngga banget." tawa David.


"Ngga usah sok kaya, kalau hutang mu aja belum kamu bayar. Ngga usah hina orang, kalau jalan yang kamu ambil itu cuma jalan aman, tanpa kemampuan." balas Nisa, yang akhirnya bicara.


Braaak! Suasana makin memanas, ketika David menggebrak meja. Ia pun menghampiri Nisa, dengan mengeluarkan berlembar-lembar uang di dompetnya. Ia pun melemparkan nya dengan begitu kasar di wajah Nisa. Bahkan, membuat pipinya merah karena tampaaran benda itu.


"Utang terus, utang terus. Sebegitu miskin nya kau, sampai utang segitu kau bahas, HAH! Makan tuh duit utang. Sekalian ku bayar bunganya." ucap David, dengan begitu sombongnya.

__ADS_1


"David! Keterlaluan kamu!" pekik Bima, yang menghampirinya. Sedangkan Maya, mengusap lengan Nisa agar menyabarkan wanita itu disana.


"Apa kalian? Mau belain dia? Wanita begini dibelain. Ngga dapat apa-apa kalian!" tunjuk David, pada wajah Nisa.


Sraaak!! Sebuah tangan meraih rambut belakang David. Ia menariknya dengan begitu kuat, hingga David mundur kebelakang dengan begitu sakitnya..


"Aaaarrrkkh! Wooooy! Siapa kau, beraninya...."


"Kau yang siapa? Seorang lelaki, bahkan menghina wanita. Kau tak tahu, siapa yang kau hina barusan?"


"Bu Dita?" panggil Nisa, lirih.


Dita tampak begitu sangar, terus menjambak rambut David dengan kuat. Bahkan, David meringis kesakitan dan nyaris menangis karenanya.


"Minta maaf padanya." ucap Dita, dengan wajah datar nya menatap pada Nisa.


"Apa urusanmu? Dia siapa buatmu? Aarrrghhh, sakit!" pekiknya berulang kali. Sedangkan kekasihnya, tak mampu berbuat apapun kali ini.


"MINTA MAAF, SEKARANG!!" Tegas Dita.


Mendengar keributan itu, para satpam pun datang mengahampirinya.


"Bu Dita, maaf, ada apa? Eh, ada Bu Nisa juga..." Tunduknya, dengan begitu hormat.

__ADS_1


Seketika, membuat semua orang tercengang melihatnya.


__ADS_2