
Nisa membolak balik tubuhnya. Berasa bosan, daritadi hanya bermain dengan Hp nya. Sedangkan Abi, masih diruang kerja dengan segala kesibukannya. Ia yang telah memakai gaun tidurnya, memberanikan diri menyusul sang suami di ruang kerjanya.
Ia berjalan pelan. Mengendap-endap menyusuri lorong dirumah itu. Untung saja, Mama sofi sudah tidur, begitu juga Bik Nik dikamar masing-masing.
"Bagaimana perkembangannya?" tanya Abi, yang tengah melakukan obrolan virtual dengan Alex.
"Masih seperti itu. Pak Jay kekeuh, menaikkan harga tanah secara sepihak. Bahkan, menemui ku langsung pagi tadi."
"Lalu?"
"Aku hanya menjelaskan. Dan aku membuka kembali perjanjian kita tempo lalu. Aku hanya memintanya agar membaca kembali dengan baik."
"Perlukan tuntutan? Dia sudah menyimpang terlalu jauh. Bisa jadi, akan mempengaruhi warga lain untuk melakukan hal yang sama."
"Tidak. Belum sampai kesana. Masih bisa ku tangani," ucap Alex. Terdengar ketika Ia terbatuk, mungkin karena tersedak. Ia pun pamit sebentar untuk mengambil air minum di dapurnya.
Sembari menunggu, Abi membuka yang lain, yang masih berhubungan dengan pekerjaannya. Hingga Nisa mengetuk pintu, dan memanggilnya dari luar.
"Masuk," jawab Abi. Nisa pun melangkahkan kaki, dan mendekat pada suaminya yang masih duduk santai ditempat kerjanya.
"Masih lama?" tanya Nisa, berdiri disebelah Abi.
"Lumayan, kenapa? Kau belum tidur?"
__ADS_1
"Susah," geleng Nisa, dengan wajahnya yang memelas.
"Kau bosan?" Abi mengulurkan tangan, dan membawa Nisa kedalam pangkuannya. Nisa hanya mengangguk manja, dengan memainkan poni Abi dan mengusap dahinya.
"Disini saja, temani aku. Sebentar lagi selesai," ucapnya, kembali pada laptop. Sementara panggilannya pada Alex, masih di alihkan pada aplikasi lain. Akan berpindah, ketika Alex mengaktifkan nya kembali.
"Ngga peka, padahal pengen ajak berduaan dikamar," gerutu Nisa dalam hati. Namun, Ia pun masih duduk manis diatas pangkuan Abi, bahkan sesekali bersandar manja di bahunya..
Sedikit lama, bahkan Abi begitu fokus pada pekerjaannya. Membuat Nisa kesal dan memanyunkan bibirnya.
"Kenapa?" tanya Abi, datar.
"Kesini nemenin, malah dicuekin."
"Yang menyuruhmu?" tatap Abi, mengerenyitkan dahinya.
"Mau kemana?"
"Balik kamar. Ngapai disini, makin bosen. Biarin, kalau kumat lagi ngga Nisa tolongin." racaunya. Menatap sang suami dengan sinis.
Nisa sudah ingin melangkahkan kakinya. Hingga Abi justru menarik tangan Nisa, untuk kembali ke dalam pangkuannya. Tapi kali ini beda. Abi melebarkan kedua kakinya, agar Nisa dapat sedikit menghadap ke wajahnya.
"Apa?" tanya Nisa, yang masih kesal..
__ADS_1
Abi hanya menatapnya intens, memainkan jarinya di kening Nisa. Turun ke hidung dengan sesekali mencoleknya dengan lembut. Berpindah ke dahinya, dan menyentilnya seperti biasa.
"Aaakh! Seneng banget nyentil jidat?"
"Kau, kenapa selalu membuka poni dari dahiku?"
"Biar ganteng, kayak kim seok jin."
"Siapa?"
"Artis korea, anggota BTS. Tampan, bahu lebar, bibir seksi, mata tajam, tinggi, sempurna." jelas Nisa.
"Seksi? Kau suka?"
" Iya, jelas. Ganteng gitu.... Suka lah."
"Berarti aku mirip dia, aku seksi? Kau suka?"
"Iya lah.... Eh..." Nisa mengatupkan bibirnya. Ia pun menatap Abi, yang tampak menyunggingkan senyum padanya. Indah sekali, membuatnya terkesima dengan senyuman yang langka itu.
"Bisa-bisa nya, menyukai pria lain. Padahal suamimu sendiri lebih tampan." Abi kembali memicingkan matanya.
Nisa tertunduk, pipinya memerah tersipu malu. Apalagi, mebayangkan senyum Abi yang barusan diberikan. Jantungnya langsung berdegup dengan begitu kencang.
__ADS_1
Abi meraih dagunya, mendekatkan bibir mereka dan mulai membawanya menari menari bersama.
"WOY! Aaaaakh! Ngeselin emang." pekik Alex, yang rupanya sudah mengembalikan mode video nya.