
Suara dari dapur membangunkan Nisa. Ia perlahan mengangkat tubuhnya yang masih berada diatas Abi. Mungkin Satu jam lebih Ia bertahan disana. Wajar, karena tangan Abi memeluk dan menyangga tubuhnya dengan kokoh, hingga Ia tak jatuh.
"Makasih," usap Nisa dengan lembut, di pipi dan dagu yang mulai ditumbuhi bulu halus tersebut.
Nisa merapikan dirinya. Ia mengendap-endap berjala menuju dapur dengan segala bunyi anehnya. Ia menengok jam, dan memang waktunya untuk mempersiapkan makan malam.
" Tapi, siapa?" lirih Nisa, mengambil sapu yang ada disampingnya.
"Bik, kita masak yang enak, ya? Nisa sama Abi butuh makanan sehat. Biasa, lagi program hamil."
"Emang iya?" Bik Nik memicingkan mata.
"Anggap aja iya. Lihat deh, mereka lagi mesra-mesranya. Untung kita tinggal, kan?"
"Iya sih," jawab Bik Nik, yang tengah mencuci sayuran di wastafel yang ada.
"Mamaaaa...." Nisa menurunkan bahunya yang tadi sempat menegang berikut dengan gagang sapunya.
"Nisa, udah bangun, sayang?" sapa Mama sofi dengan ramah.
"U-udah. Mama, pulang kapan? Kok Nisa ngga tahu."
"Tadi, belum lama. Nisa sama Abi lagi tidur pules banget. Ngga tega mau bangunin," jelas Mama.
__ADS_1
"Iya, Nisa flu, Mas Abi ketularan. Jadi minum obat yang sama, terus ketiduran."
"Flu? Ketularan?" Mama sofi membulatkan kedua mata, dan menelan salivanya. "Semoga, kecebongnya cepet jadi," harapnya dalam hati. Begitu besar, begitu ingin segera memiliki cucu dari keduanya.
"Mama kenapa?"
"Eng-ngga... Mama ngga papa," senyumnya aneh.
Nisa segera naik, mengganti pakaiannya dengan yang lebih santai. Lalu kembali lagi untuk membantu Mama mertuanya mempersiapkan makan malam. Memang Ia rindu. Rindu akan kebersamaan yang beberapa hari tak Ia rasakan. Ramainya Bik Nik, dan segala perhatian Mama Sofi padanya.
Wajar saja. Karena Ia hanya hidup dengan sang Nenek sejak kecil. Itu pun, dengan didikan keras dari neneknya. Nyaris tak pernah memanjakannya selama ini.
Canda dan tawa renyah, mengiringi aktifitas ketiganya. Hingga pekerjaan nyaris selesai, dan Bibik pamit sebentar untuk membuang sampah. Nisa tak sempat, karena harus mengurus bayi besarnya yang manja. Dan semua memaklumi itu.
"Iya, Ma. Ini, biar Nisa yang selesaikan. Mama sekalian mandi aja, ngga papa."
"Iya, Sayang..." usap Mama dibahu mantu kesayangannya itu.
Nisa asyik mengaduk sop ayamnya, sembari bersenandung ria dengan lagu kesukaannya. Suara nya tak terlalu buruk, untuk ukuran artis dapur dan kamar mandi. Asal Ia tak merasa sepi, dan gampang bosan.
Tiba-tiba, sebuah tangan memeluknya dari belakang. Dua tangan, dan yang satu masih dibungkus sarung tangan Hitam. Nisa pun menghela nafas panjang dengan tindakan itu. Tumben sekali, Abi sok mesra padanya.
"Mandi, Mas...."
__ADS_1
"Sebentar, masih ingin seperti ini." bisiknya, menyusuri tengkuk dan telinga Nisa. Membuat tubuhnya seketika merinding geli.
"Ini masih mabok obat, apa ngelindur sih?" fikirnya, berusaha menahan semua yang Abi berikan padanya.
Abi membalik tubuh Nisa. Meraih dagunya dan menatapnya dengan intens. Mendekatkan bibirnya ke bibir mungil itu, lalu melumaatnya dengan agresiif.
"Mas, Nisa lagi masak...." sergahnya. Namun, Abi mematikan kompor itu. Ia pun kembali menekan tengkuk Nisa, dan memperdalam pangutannya. Bahkan, turun menyusuri leher Nisa yang jenjang itu.
"Mas..."
"Hmmmm?"
"Jangan disini," ucap Nisa, menepuk bahunya berkali-kali. Tapi Abi tak juga meresponnya.
"Masss!"
"Hmmmm?"
"A-ada Mama," lirih Nisa. Abi pun terkejut, lalu menoleh kesampingnya.
Ya, Mama Sofi memperhatikan mereka sejak tadi. Tatapannya aneh, tapi tampak begitu senang.
"Lanjutin di kamar, ya, sayang...." bujuknya lembut.
__ADS_1