
"Nisa ngga pernah larang Mas deket sama siapapun. Tapi, Mas juga jangan terlalu larang Nisa. Nisa udah turutin semua maunya Mas Abi. Nisa bahkan merendahkan diri, berusaha mencuri hati suami Nisa sendiri. Meskipun, susah banget, Mas. Kadang capek,"
Nisa akhirnya mengungkapkan semua isi hatinya. Rasa yang selama ini Ia pendam dalam-dalam.
"Aku tak bisa... Aku cemburu." Abi, akhirnya jujur akan perasaannya.
"Cemburu? Cemburu, Mas bilang? Gimana sama Nisa? Nisa juga cemburu, Mas."
"Dita tak perlu kau cemburui,"
"Enak kalau cemburu nya sama Bu Dita. Sama seperti Mas cemburu dengan Kak Adhim. Marah, bisa didatengin. Dimarahin, atau dinasehatin. Lah Nisa? Gimana Nisa?"
"Kau....."
"Nisa cemburu sama orang yang udah ngga ada, Mas. Ya, meski Nisa tahu, kalau dia ada, Nisa ngga akan nikah sama Mas. Tapi sakit, Mas. Nisa harus apa sama perasaan ini?"
"Kau, cemburu pada Rere?"
__ADS_1
"Ya, dia yang bahkan selalu Mas sebut tiap hari, dalam mimpi. Padahal, Nisa yang ada disamping Mas Abi. Nisa capek, Mas."
Abi tertunduk, Ia mematung seketika dan diam seribu bahasa. Ia mengalihkan pandangan nya dari Nisa.
"Bahkan, makamnya aja Nisa ngga tahu dimana. Giamana Nisa mau datengin?" Nisa mengambil Hpnya, lalu melangkah keluar. Namun, Abi menahan nya lagi, dan menariknya masuk ke dalam.
"Lepas, Mas! Nisa mau tidur di kamar sebelah aja. Nisa capek."
"Jangan pergi..."
"Please, Mas. Nisa capek, jangan tahan Nisa disini." Nisa berkali kali, berusaha melepas tangan Abi darinya. Bahkan, Ia memohon agar Abi melepaskannya. Namun, mungilnya tubuh Nisa jelas kalah oleh Abi..
Abi justru membawa tubuh Nisa hingga terjatuh di sofa. Membungkuk, dan terus melumaat bibir itu dengan brutal. Tak perduli dengan segala penolakan yang Nisa berikan, turun menyusuri setiap jengkal ceruk leher Nisa.
"Masss!" pekik Nisa, mendorong kasar tubuh Abi darinya. Dengan nafas tersengal, dan air mata yang masih mengalir.
Abi melepaskan pangutannya. Nafasnya naik turun, menatap Nisa tertunduk dan Ia pun mengusap air matanya.
__ADS_1
"Maaf, aku menyakitimu..." bisik Abi di telinganya.
"Nisa capek," lirihnya, masih mencengkram dada Abi.
Pria itu merangkulkan lengan Nisa di lehernya. Perlahan, Ia mengangkat Bridal tubuh Nisa, dan membawanya ketempat tidur mereka. Ia pun membaringkan nya dengan lembut, meski Nisa masih mengalungkan lengan di lehernya.
"Maafkan aku, Maaf. Aku, aku telah menyakitimu. Aku hanya... Hanya begitu takut untuk kehilangan. Ya, untuk yang kesekian kalinya..." ucap Abi, yang masih begitu gamang dengan keadaannya. Bahkan, tampak ragu untuk sekedar menatap istrinya.
"Kau mau istirahat? Maka, istirahatlah." usapnya, di rambut Nisa yang halus terikat.
Abi berusaha melepas tangan nya yang masih dibawah leher Nisa. Tapi, siapa sangka jika Nisa justru menarik Abi agar semakin dekat dengannya. Tangan yang masih mengalung, dan menaikkan sedikit wajahnya menyentuh bibir manis Abi. Terkejut, tapi Abi menerima dan membalas pangutan itu. Bahkan, memperdalan dengan sedikit menekan tengkuk Nisa.
"Udah ngga ada suaranya lagi, Bik." ucap Mama sofi.
"Ya, damai sepertinya."
"Seperti itulah rumah tangga, Bik. Kadang ribut, tiba-tiba akur begitu. Yang satu kayak anak kecil minta perhatian, yang satunya dingin membeku tanpa rasa peka."
__ADS_1
"Iya, Nyah... Mereka tampaknya sudah saling mengisi sesuai peran masing-masing." balas Bik Nik, kala keduanya duduk di tangga, kepo dengan huru hara yang ada.