
"Selamat pagi, Pak Abi..." sapa para karyawan, yang menyambutnya di kantor. Tak lupa, mereka menyapa Alex yang berjalan santai dibelakang nya.
Manda pun begitu sigap. Ia menghampiri Abi diruangannya, dan segera memberi tahu semua jadwalnya hari ini. Termasuk, memberikan semua rincian jadwal hingga minggu depan pada Alex.
"Maaf, Pak... Saya belum bisa," sesalnya.
"Tak apa, Manda. Setidaknya, masih ada aku. Fokus saja urus bayimu."
"Baik, terimakasih." angguk Manda, lalu undur diri dari ketiganya. Seperti yang dikatakan, jika Nisa ikut dengan Abi ke kantornya.
Begitu terasa bagi mereka, ketika Dita tak ada. Kesigapan dan kecakapan nya, begitu di rindukan..
"Permisi, Pak..." ucap Feby, yang masuk dengan minuman di nampan nya.
"Ya, masuk..." balas Abi, tanpa menoleh.
"Feby, dimana Ob? Kenapa kamu yang antar?" Nisa tampak heran dengan rajin nya Feby hari ini. Feby hanya mengalihkan perhatian. Ia berkata jika hanya ingin memanfaatkan waktunya yang senggang. Sementara, Ia tak tahu jika gelagatnya terendus oleh Nisa sejak lama.
" Ah, saya hanya lihat mereka sibuk. Jadi saya bantu. Itu aja," ucap Feby. Ia kemudian pamit keluar, karena takut Nisa akan semakin melontarkan pertanyaan padanya.
"Dia, masuk bareng Kamu, Nis?"
"Iya, kenapa?"
"Dia bisa...."
__ADS_1
"No!" jawab Nisa dengan lantang. Abi sampai terkejut mendengarnya.
"Hey, kenapa?" tanya Abi, tampak begitu heran dengan Nisa saat ini.
"Pokoknya, jangan."
"Baiklah," pasrah Alex, meski harus dengan menggaruk kepalanya. "Pusing lagi, Aku."
Jadwal tak terlalu sibuk hari ini. Abi memenuhi janjinya untuk menbawa Nisa kerumah baru mereka. Meski lagi dan lagi, rumah itu dibangun berdasarkan sketsa dari Rere.
"Cantiiik!" kagum Nisa, langsung berlari mengelilingi rumah itu.
"Kau yakin, bisa tinggal disini?" bisik Alex.
"Ada Nisa... Aku bisa,"
"Terimakasih,"
"Ya," Alex menepuk bahu Abi. Ia tahu Abi sudah berjuang begitu keras untuk melawan rasa takutnya sendiri.
Sebenarnya, masih begitu ragu untuk meninggal kan Mama dirumah. Tapi, semua adalah Mama sendiri yang meminta. Untung saja, jaraknya tak terlalu jauh hingga Nisa bisa dengan mudah bolak balik menjenguk Mama sofi dirumahnya..
"Hallo, Manda?" Alex mengangkat telepon nya yang berdering.
"Ya, Pak. Maaf mengganggu. Ada rapat sebentar lagi, bisa kah ke kantor segera?"
__ADS_1
"Oh iya, maaf. Saya lupa. Saya akan segera datang bersama Abi."
"Baik, Pak..." Manda pun mematikan teleponnya. Wanita itu baru saja pulang untuk menyusui bayinya, dan kembali untuk memeriksa jadwal Abi. Sibuk, tapi itu tugasnya. Alex tak terlalu pandai mengurus semua itu sendiri.
"Bi, ke kantor?"
"Ya? Baiklah," angguk Abi. Ia pun menghampiri Nisa kembali, bersama koper yang mereka bawa. Tak banyak isinya, karena sebagian masih mereka tinggal dirumah Mama.
"Sayang?"
"Ya, Mas. Mau pergi lagi?"
"Ya... Kau tak apa, jika tinggal? Nanti seorang Asisten rumah tangga akan datang. Namanya Asih,"
"Oh, iya ngga papa. Nisa mau beres-beres."
"Baiklah, aku pergi..." kecup Abi dengan hangat, di kening, pipi, dan bibir mungil itu. Nisa pun mencium tangan nya, melepaskan kepergian Abi untuk kembali bekerja.
"Masalah, Apartemen?"
"Aku membatalkan proyek itu, maaf."
"Aku mengerti, semua itu bukti cintamu untuk Nisa. Tapi... Pak Rafael? Dia tak akan bisa menerimanya begitu saja,"
"Kita akan bertemu dengannya?"
__ADS_1
"Iya," angguk Alex, yang mulai cemas saat ini.
"Biar aku yang bicara," ucap Abi dengan sangat yakin. Alex hanya meneguk salivanya, berusaha meredam rasa cemasnya meski begitu sulit.