Nisa Untuk Abi

Nisa Untuk Abi
Akan semakin banyak yang memelukmu 'End'


__ADS_3

"Abi, hentikan! Kau bisa membunuhnya.  Inget Nisa, Abi!" lerai Dita, pada Pria yang tengah di jajah emosi itu. Tapi, seolah ketulian menutup telinga Abi, dan tak bisa lagi mendengar ucapan orang disekitarnya.


Semua karyawan Alex liburkan mendadak, karena rencana awal adalah ketika Abi ingin memancing Feby. Tapi, justru begitu runyam ketika Abi mengetahui begitu banyak fakta yang menyakitkan itu.


Dita berulang kali meraih Hpnya, mencoba menelpon Alex ataupun Nisa. Tapi Alex pun sibuk, mewakili Abi menemui Pak Rafael ditempat yang berbeda.


Tatapan Feby masih menantang, meski bola matanya sesekali tampak bersembunyi ke dalam kelopaknya, karena kuatnya cengkraman yang Ia rasakan.  Ia bahkan masih bisa menyunggingkan senyuman, tampak puas dengan apa yang di lakukan Abi padanya.


"Jika begini, kau pun akan hancur, Pak Abi... Nisa telah menghalangiku, maka aku pun membencinya,"


"Aaaaarrrrrggg!" geram Abi semakin menjadi-jadi.


Terdengar suara langkah kaki, samar-samar berlari dengan begitu cepat.


"Nisa?"lirih Dita, merasakan kehadiran mantan rivalnya itu. Ia pun segera beranjak untuk membuka pintu, yang sempat Ia kunci agar Feby tak kabur dari persidangannya.


Kreekk! Dan pas dengan hadir nya Nisa tepat di depan pintu ruangan.


" Mas!" pekik Nisa, yang ngeri dengan tindakan Abi kali ini. Ia segera berlari dan berlutut menghampiri Abi, tepat kini ada di sebelahnya.

__ADS_1


"Mas, tenang, Mas. Mas ngga boleh begitu." bujuk Nisa begitu lembut. Menyentuh tangan Abi agar Ia segera melepas cengkramannya dari Feby.


"Kau lihat, Pak Abi? Kita akan sama-sama hancur. Dan kau fikir, wanitamu ini akan bisa kuat? Tidak... Dia wanita lemah yang bahkan tak bisa membela dirinya sendiri," cibir Feby, dengan tatapan nyalang ke Nisa. Padahal, dirinya tengah berada antara hidup dan mati saat ini. Tapi Ia masih saja bisa memancing amarah mantan Bosnya itu.


"Mas... Mas, udah, Mas. Nisa mohon, Mas. Nisa ngga mau kehilangan Mas. Nisa ngga mau, Mas." Nisa tampak berusahs menahan tangis nya saat ini. Tapi Abi masih saja tuli dan tak mendengarkannya, dan Feby makin pucat dengan mata yang tampak memutih..


"MAS ABI!!!" Teriak Nisa, sekuat tenaga membuka cengkraman Abi pada Feby. Dan akhirnya berhasil.


Feby terbatuk memegangi leher nya dengan lingkaran merah cengkraman Abi. Ia pun masih berusaha menormalkan nafasnya, meski nyaris terhuyung dan menggelepar di lantai.


"Aaaaaaarrrrrrgggghhhhh!!" Abi histeris, menatap kedua tangannya yang tremor. Wajahnya pucat pasih dengan air mata yang membanjiri pipinya. Tangisnya begitu pilu, terdengar oleh Nisa dan Dita kala itu. Bahkan Dita pun ikut menangis kali ini.


Abi masih meraung sejadi-jadinya. Nisa meraih bahu dan membawanya kedalam pelukan, meski tampaknya begitu sulit menenangkan pria itu kali ini.


"Mas, Nisa disini. Nisa akan peluk Mas terus, sampai Mas merasa nyaman. Maaf, Nisa telat." kecup nya di kening Abi.


"Aku masih saja lemah, apalagi semua tentang Rere. Dia bahkan membawa serta dirimu masuk. Maaf,"


"Kita akan lemah pada waktunya Nisa akan tetap peluk Mas seperti ini, apapun keadaannya." bisik Nisa dengan lembut. Feby hanya mencebik dan menatap nya dengan begitu sengit. Apalagi pada Nisa, yang begitu Ia benci.

__ADS_1


"Kalain menyebalkan. Aaaaarrghh!"


Tapi Nisa hanya diam dan memberinya senyuman yang begitu manis. Ia meraih tangan kanan Abi, membawanya untuk mengusap perutnya yang masih rata.


"Mas Abi, akan mendapat pelukan lebih banyak, Nanti." bisiknya..


Abi pun mengangkat kepala, dan wajahnya tepat menatap Sang istri. Matanya penuh tanda tanya, masih begitu sulit Ia artikan ditengah segala gemuruh suasana hatinya.


"Selamat menjadi Ayah," ucap Nisa, dengan senyum merekah indah. Abi hanya mendesah berusaha melepas perihnya dengan senyum bahagia. Berbalik memeluk Nisa dengan begitu erat penuh cinta.


Feby menatapnya semakin jengah, hanya mencebik dan terjatuh lelah dengan segala rasa sakit yang menjalar ke seluruh tubuhnya. Ia pasrah, dan berteriak atas semua kegagalannya.


"Aku benci kalian!!" Ia berbalik frustasi kali ini. Hingga para petugas yang tadinya libur, masuk dan menangkapnya. Feby tak melakukan perlawanan sama sekali.


Nisa dan Abi masih berpeluk mesra disana meluapkan rasa bahgaia nya. Membuat Dita pun dibanjiri haru dalam hatinya. Tanpa terasa, sebuah jari kelingking merayap, meraih jari kelingkingnya, hingga keduanya saling bertaut erat.


"Eeeeh!" Dita tersentak kaget, apalagi dengan suara isak tangis yang ada di dekatnya. "Alex? Kau, apa-apaan?".


"Sedih, terharu, menangis. Itu yang aku rasakan. Kisah ini begitu indah, aku bahagia. Huaaaaaaa!"

__ADS_1


"Iya, sangat tampak bahagia." Dita meraih kepala Alex, agar bersandar di bahunya dan terharu bersama.


__ADS_2