
"Mass," panggil manja Nisa pada Abi yang tengah duduk santai menatap laptopnya. Duduk diatas ranjang, lalu menyambut sang istri duduk di sebelahnya.
"Kenapa, sayang? Ada yang ngga enak?" usap Abi di perut istrinya yang masih rata.
"Ngga ada rencana keluar kota, gitu? Nisa pengen liburan." rengeknya manja, menggelendot ditubuh kekar suaminya.
Abi beralih mengusap rambut yang terikat asal itu, tapi tetap rapi dan memperlihatkan kecantikan si Ibu hamil yang mulai ngidam. Tampak dari mata Abi, Ia tengah berfikir keras dengan keinginan sang istri. Ia pun meraih Hp, dan mengetik sebuah nomor disana.
"Telepon siapa?"
"Alex. Biar Dia persiapkan kamar untuk kita di hotelnya."
"Hotel?" Nisa menelengkan kepalanya, dan mengerutkan dahi menatap Abi. Tapi Abi tak merespon nya, karena Ia fokus pada sambungan nya ke Alex disana.
"Sudah... Besok kita berangkat."
"Hah?"
"Iya, pengen liburan kan?"
__ADS_1
"Kemana?" Nisa masih saja bingung dan lanbat merespon ucapan suaminya. Hingga gemasnya Abi, meraih kedua pipi Nisa dan menatapnya lekat.
"Mau liburan, refreshing, Baby moon?" semua dijawab anggukan Nisa.
"Besok kita berangkat, Sayang. Jam Sepuluh ke kampung pesisir. Disana ada pantai, dan taman bermain. Aku bekerja, dan kamu liburan sepuasnya."
"Liburan nya pengen di temenin," ucap Nisa dengan tekanan dikedua pipinya. Abi pun mengecupnya dengan gemas.
"Iya, apapun yang kamu mau." Nisa bersorak kegirangan dengan hadiah dadakannya itu. Memang, sejak menikah, mereka belum sempat Honey moon. Apalagi sejak semua kejadian yang ada, dan semua persidangan tuntutan Feby. Rasa nya begitu penat dan stres hingga mereka butuh healing untuk k merefresh fikiran.
Tapi justru keduluan Nisa hamil, hingga berubah menjadi Babymoon. Tapi tak apa, Bumil tetap bahagia dengan Booster yang Ia dapat. Dengan sigap Nisa segera meraih koper, dan membereskan beberapa pakaian yang akan mereka bawa.
"Ngga papa, sekarang aja. Nisa kuat kok. Iya kan Dek?" usapnya pada perut yang masih rata itu. Abi akhirnya mengalah dan meletak kan laptopnya di nakas. Ia segera datang dan membantu sang istri dengan segala kesibukannya. Hingga selesai, dan Nisa baru bisa berbaring dan tidur dengan nyenyak dalam pelukan sang suami.
Kebiasaan baru Nisa sejek hamil adalah, Abi harus mengusap perut nya hingga Sang istri tidur dengan lelap. Dan jika Abi pergi, kaos oblong bau keringat lah yang akan menemaninya malam itu.
*
Pagi terasa begitu indah, meski sebelumnya memang telah indah. Tapi sedikit lebih dari biasanya. Apalagi untuk Nisa yang akan liburan. Mereka berdua telah sarapan dan menitipkan rumah pada Mbaknya. Serta izin pada Mama Sofi untuk pergi. Sayangnya, Mama tak dapat ikut karena suatu urusan.
__ADS_1
"Hati-hati kalian di jalan. Dan Nisa...."
"Iya, Ma?"
"Jaga Baby nya. Jangan pecicilan, seperti biasanya." nasehat Mama sofi padanya. Nisa hanya menggangguk dengan senyum melengkung dibibir indahnya. Tampak segar dengan lipsitik merah yang cerah.
Keduanya pun pergi ke Bandara dengan taxi online yang mereka pesan. Menyusuri jalanan yang lumayan ramai di akhir pekan. Genggam tangan Abi pun tak lepas seperti biasa, meski Ia sangat tahu jika Nisa tak akan pernah pergi darinya.
"Kok dingin?" tanya Abi pada sang istri.
"Ehmmm... Mas janji, jangan ketawa."
"Hmmm? Apa itu?"
"Nisa, ehmmm... Nisa baru kali ini naik pesawat. Dan baru kali ini, pergi jauh dari kota. Jadinya gugup," Nisa tampak malu-malu dengan kenyataan itu.
Abi hanya tersenyum, meraih Nisa dalam pelukannya. Wanita yang selama ini menenangkan nya, tengah dalam fase cemasnya sendiri. Dan Ia harus melakukan hal yang sama untuk menjadi penawar rasa takut itu.
" Aku disini, Aku akan selalu bersama dan memelukmu erat." bisiknya lembut dan menenangkan hati.
__ADS_1