
Mama Sofi hanya mengulurkan senyumnya. Sementara sang calon menantu masih diam dalam segala rasa bingungnya.
"Iya, malam ini kalian tukar kamar. Nanti kan, kamar Abi yang jadi kamar pengantinnya. Jadi, Nisa yang disana. Jadi, Abi yang datengin Nisa, besok." jelas Mama Sofi.
Nisa masih memicingkan mata, belum faham bagaimana konsep yanv di pilih calon mertuanya itu. Hanya bisa mengangguk, dan masuk untuk mengistirahatkan tubuhnya di ranjang barunya.
Nisa mulai mengintip isi lemari. Memang, disana sudah berjejer pakaian nya dengan rapi. Apalagi, semua adalah pakaian yang baru di belikan Mama siang tadi. Kamar pun sudah terhiasĀ begitu indah bunga-bunga yang wangi dan mewah.
"Wow, ini... Ah, sudah lah. Males mikir macem-macem. Nikahin aku aja, ngga tahu fungsinya buat apa. Aaargh!" Nisa tampak begitu frustasi, dan langsung meraih handuk yang tergantung di jemuran kecilnya.
Tak hanya kamar tidur, tapi juga kamar mandi. Semua barang Nisa tersusun rapi disana, dengan serangkaian skincare dan sabun baru yang begitu mewah dan mahal. Bahkan Nisa tak pernah mampu untuk memilikinya.
Nisa keluar dari tempat mandinya, menuju ruangan khusus dimana segala skincarenya tersusun rapi disana. Nisa hanya tak mampu membeli, tapi Ia faham bagaimana cara memakainya dengan baik dan benar sesuai urutan yang seharusnya.
"Skincare mahal emang beda. Teksturnya ringan, adem, dan harumnya nenangin." pujinya, menikmati semua sensasi mewah yang tersedia disana. Menepuk-nepuk kan toner dan serum di wajahnya yang memang bersih sejak awal.
__ADS_1
*
"Alex, bagaimana?" tanya Abi yang tengah bertemu dengan tangan kanannya itu.
"Ya, untung nya semua bisa di percepat. Nisa juga tak punya orang tua. Jadi semuanya gampang. Nih," Alex memberikan surat izin menikah untuk kedua pasangan itu pada Abi.
"Walinya?"
"Wali hakim." jawab Alex, yang mulai menyulut sebatang puntungnya. "Aku, tak menemukan anggota keluarga nya yang lain. Katanya ada, tapi jauh. Sulit ditemukan, dengan suasana yang serba mendadak." jelasnya.
"Ya, baiklah. Terimakasih atas bantuanmu," ucap Abi, yang sekali lagi berhutang budi pada sahabatnya itu.
" Emang, keterlaluan."
"Siapa?" tanya Abi, memicingkan mata.
__ADS_1
"Kau lah, siapa lagi? Kenapa harus menyuruh dia?"
"Dia sekretarisku, kenapa tidak?" jawabnya santai.
Alex hanya bisa menghela nafasnya. Perasaan begitu kesal pada sosok Abi yang memang sangat sulit peka saat ini. Entah faktor usia, atau pengaruh obat penenang yang hampir Empat tahun ini rutin Ia minum setiap malam. Belum lagi, obat darurat yang selalu Alex bawa untuk nya.
Alex diam mempersantai diri, sembari mendengarkan Abi mempelajari Ijab qabulnya untuk Nisa. Tersenyum, dan geli ketika Abi beberapa kali salah menyebut nama. Apalagi mendiang mertuanya yang bahkan tak pernah Ia lihat batang hidungnya.
"Serius, Bi. Besok acaranya. Masa iya, hafalan mu hanya untuk Rere?" ledek Alex.
Abi langsung merubah mode wajahnya. Yang awalnya gelisah menjadi begitu serius dengan tatapan tajam yang dapat menusuk hingga ke relung kalbu. Ia pun meraih bantal sofanya, dan melemparnya pada Alex.
"Jika kau tak dapat membantu, lebih baik kau diam."
"Aku hanya memperingatkan mu! Itu harus dalam sekali tarikan nafas, agar lebih afdol."
__ADS_1
"Aku tahu! Bukan kah aku sedang belajar?" tukas Abi, dengan begitu emosi. Ia akhirnya meletak kan dokumen itu, lalu pergi meninggalkan Alex sendiri di ruangannya.
"Hey! Kau mau kemana? Ini belum selesai." panggil Alex. Namun, Abi tak mendengar nya sama sekali.