Nisa Untuk Abi

Nisa Untuk Abi
Ekstra part 1.


__ADS_3

Dita tergelepar lemas tak berdaya dengan selimut tebal menutupi sekujur tubuh polosnya saat itu. Sementara Alex duduk di kursi dengan begitu santai dengan cerutu yang menyala, terapit dikedua jarinya.


"Euuungghh!" Dita menggeliat, merasakan sekujur tubuhnya sakit semua. Ia berbalik dan menatap Alex ditempatnya.


"Kau bangun?" tanya Alex yang kemudian menghampiri.


"Kau, tak sabaran sekali." Dita melenguh dan menatap sekujur tubuhnya yang dipenuhi bercak merah. Tak akan hilang dalam waktu sekejap, apalagi setebal itu karena hisapan Alex yang begitu kuat padanya.


"Sorry... Kita akan segera menikah, okey?" bujuk Alex yang kemudian menyurai rambut Dita kebelakang.


Padahal Dita ingin menyapa Aby dan Nisa saat itu, tapi harus tertunda karena aktifitas gila mereka yang tak lagi bisa terkontrol. Bahkan berjam-jam mereka di kamar tanpa keluar, tak tahu berapa kali Aby menghubunginya.


"Mas, Mba Dita mana sih?" tanya Nisa yang sudah cantik dan rapi, karena ia ingin mengajak mereka untuk makan bersama saat itu di tepi pantai sembari menikmati semua pemandangan yang ada disana.


"Sebentar, Sayang. Ini Mas lagi hubungi," ucap Aby dengan tangan yang tak diam mengusap perut istrinya. Manja sekali, selalu saja meminta perhatian dari sang suami.

__ADS_1


Suasana memang dingin dipesisir pantai, hingga Nisa harus memakai jas milik suaminya sebagai penghangat. Apalagi ada bau Aby disana, terasa begitu segar dan menenangkan baginya yang sesekali mulai merasa mual.


"Nisa!" panggil Dita yang baru datang.


"Mba Dita!" Nisa menyambutnya dengan riang gembira. Ia langsung berlari dan memeluk wanita itu, tak lupa melepas sendalnya yang cukup tinggi tadi.


Aby melihat itu hanya bisa memijat pelipis. Nyaris saja ia berteriak pada sang istri karena takut tersandung dan jatuh. Traumanya masih ada dan tak akan hilang begitu saja, apalagi tentang sebuah kehilangan yang mendalam.


"Jangan lelarian!" Dita justru menukik kepala Nisa saat itu dengan wajah tegasnya. Nisa justru cengengesan, ia memeluk wanita itu dengan segala rindu yang ada.


"Kalian darimana?" tanya Abi dengan wajahnya datar.


"Pekerjaan, ya?" Aby justru menatap curiga pada pria itu, terutama menatap gestur tubuh Dita.


Tak banyak kata yang diucapkan Aby saat itu, hanya ikut alur untuk mereka berdua dan fokus menjaga Dua malaikatnya. Hanya, sebagai sahabat pasti berkewajiban untuk menasehati nanti.

__ADS_1


Nisa menggandeng Dita untuk makan malam bersama. Untuk Nisa belum merasakan apapun hingga makan dan ngemilnya masih begitu lancar kali ini, hingga ia akan memanfaatkan itu dengan baik dan menikmati semua yang ia inginkan.


"Jangan makan pedes!" Dita yang justru tegas pada istri sahabatnya itu, sementara Aby masih diam dan membebaskan asal Nisa suka dan masih dalam batas wajar.


"Tapi kalau ngga pedes ngga enak. Dikit aja ini loh," balas Nisa.


"Nisa,"


"Ya, Sayang." Nisa lantas memberikan makanannya pada Aby agar ia bisa membuang potongan cabe disana.


"Dita mau juga?" tawar Alex.


"Mau apa?"


"Mau di romantisin. Sini," ucap Alex yang mengulurkan tangan saat itu, tapi langsung ditepis olehnya. Memang belum, atau memang dia yang tak pernah manja. Tapi demi apapun, Dita sudah membuang rasa untuk Aby saat ini.

__ADS_1


"Kalian, kenapa ngga nikah aja sih?" celetuk Nisa dengan mulut yang tengah sibuk mengunyah makanannya.


"Tunggu Dita siap, padahal aku sudah sangat siap dengan semua persiapan yang telah ku siapkan untuknya." Alex mulai lagi dengan kosa kata aneh itu, membuat semua orang mengerenyitkan dahi ketika mendengarnya.


__ADS_2