
Feby mengembangkan senyumnya. Dada nya bergemuruh begitu tak terkontrol, apalagi ketika Abi berdiri dan menghampirnya. Rasanya ingin segera meloncat ke dalam pelukan pria itu, sama seperti yang sering Nisa lakukan padanya.
"Bapak, kenapa? Ada sesuatu?" tanya Feby malu-malu. Abi hanya kembali tersenyum, dan duduk bersandar di mejanya. Melipat kedua tangan di dadanya dengan penuh wibawa.
"Feby?"
"Iya, Pak?"
"Kerja mu baik... Kau sangat terampil, dan sangat bisa diandalkan. Jika kau mau promosi, apa yang kau inginkan dariku?"
"Jujur, saya pengen jadi sekretaris Bapak."
"Kenapa? Kau nyaman di dekatku?" tatapan Abi semakin tertuju tepat di depan matanya. Membuat gadis itu semakin gugup dan seolah kehilangan kendali atas dirinya. Apalagi merasa ketika Abi mulai intens memberinya perhatian. Serasa langsung terbang melayang hingga ke langit ketuju.
__ADS_1
"Bapak sudah tahu jawabannya sejak awal. Bahkan, dari sejak Bapak menerima coklat yang saya berikan. Hanya saja, kenapa harus Nisa yang Bapak pilih? Saya menyukai Bapak, bahkan hingga sekarang. Rasa itu tak pernah pudar. Justru makin lama makin dalam." terang Feby yang tampak begitu jujur dengan perasaannya.
" Hhhhh," senyum getir dari bibir Abi tertahan. Sebenarnya sudah begitu jengah dengan keadaan, tapi Ia masih harus bertahan untuk memancing gadis itu bicara lebih banyak.
Bahkan, Feby terus saja neracau mengenai segala rasa cinta nya pada Abi. Semakin membuatnya geram tak tertahan. Andai Nisa tahu seperti ini temnanya, pasti Ia akan memilih musuhnya untuk Ia rangkul.
Braaaak! Pintu terbuka dengan begitu kasar. Feby tampak begitu terkejut hingga tubuhnya nyaris jatuh, untung saja Abi menangkap lengannya. Semakin gila saja Feby dibuatnya.
"Kau lambat, Abi!" rupanya Dita, masuk dengan wajah sengitnya menghampiri mereka berdua. Dita pun menjatuhkan beberapa berkas di depan mata Abi, semua mengenai asal usul gadis itu.
"Aku Feby Rastanti.... Kenapa?" Feby tampak sok kuat di depan Dita.
"Feby Hermawandi?" lirih Abi, ketika menemukan identitas asli gadis itu.
__ADS_1
"Tidak... Itu bukan namaku," elak Feby, ketika melihat Abi masih fokus pada file tentang dirinya.
Abi hanya ingin memberinya pelajaran mengenai kejahatan Feby pada Nisa, dan menjebak Dita. Tapi, fakta baru diam-diam Dita temukan ketika membeli tanah itu.
"Kau tahu, tanah keluargamu sudah ku beli?" tatapan Dita begitu nyalang dan fokus pada Feby.
"Tanah apa? Aku... Aku tak faham," Feby mengelak lagi.
Dita mendekat, Ia pun meraih belakang dan menarik rambut Feby dengan begitu kuat. Feby terpekik kesakitan karena ulahnya, hingga air matanya keluar. Dan entah bagaimana, seolah kantor kosong dan tak ada satupun yang dapat menolong Feby saat ini.
"Aaakh, sakit! Sakit, Bu Dita!" pekiknya, meraih tangan Dita yang kuat mencengkramnya.
Awalnya Abi tak tega. Tapi, dengan segala kenyataan yang ada, Ia justru menahan diri agar tak lebih jahat dari Dita saat ini. Dita tak seberapa, dibandingkan marahnya Abi ketika mendapati gadis itu adalah anak dari penabrak calon istrinya di masa lalu. Yang bahkan datang, dan ingin mencoba mengusik istrinya saat ini.
__ADS_1
"Kau?" tatapan Abi semakin murka pada gadis itu. Tak dapat terbendung ataupun ditutupi lagi. Bahkan rasanya, Abi ingin seketika kembali pada segala trauma yang ada. Tapi Ia masih bisa menahannya, karena ingat akan Nisa yang begitu menunggu nya saat ini.
Detak jantung mulai tak normal, dan nafas mulai tak beraturan. Hanya bisa Ia alihkan pada bayanganya untuk Nisa.