
Biasanya, menjelang sore begini, Nisa tengah menunggu Abi pulang. Setelah itu langsung berlari dan menyambutnya dengan ceria. Tapi tidak kali ini. Ia hanya bisa diam dengan Hp terus di tangannya.
"Kok, aku kayak deg-degan gini? Apa karena kebanyakan makan, tadi?" fikir Nisa, memegangi dadanya sedikit galau.
Hingga menjelang maghrib, perasaan itu terus menggelayut dalam diri Nisa. Ia pun bingung, hingga Abi akhirnya memberi kabar padanya.
"Halo, Mas?"
"Ya, Nisa. Sedang apa?"
"Nisa... Nisa lagi duduk. Mas ngga papa 'kan, sehat' kan?"
"Ya, aku baik-baik saja. Kenapa? Ada sesuatu?" tanya Abi padanya. Ingin jujur, tapi Ia takut jika Abi justru berbalik cemas padanya.
"Ngga papa, cuma... Kangen," jawab Nisa. Abi tersenyum sendiri mendengar kata rindu yang mendebarkan hati nya itu. Untung saja, Alex tengah pergi mempersiapkan sambutan nya di hotel.
"Aku akan mengunjungi hotel. Ketika aku disana, aku akan sibuk dan sulit di hubungi. Tunggu aku yang menghubungimu."
"Kalau Nisa ketiduran?"
__ADS_1
"Tidurlah. Aku tak akan menganggu. Masih ada hari esok yang panjang," ucap Abi, dengan begitu lembut. Namun, justru itu menambah rasa gundah di hati Nisa saat ini.
"Di lembutin, bukan nya tersanjung malah cemas. Gimana sih?" keluhnya dalam hati. Karena memang itu yang Ia rasakan sekarang ini.
"Bi, kau siap?" terdengar suara Alex menghampiri. Pertanda, obrolan Nisa dan Abi harus segera berakhir saat itu juga.
Nisa menghela nafas berat, seolah tak ingin melepas pembicaraan itu untuk saat ini. Ia terus ingin Abi menemaninya, meski apa yang terjadi.
"Kau masih disana?" tanya Abi, membuyarkan lamunan Nisa.
"Ehmm, ngga papa. Yaudah, kalau mau lanjut kerja. Nisa tutup, ya, telepon nya?"
Perjalanan panjang itu ditemani Dodi dan Bimo. Mereka yang menjadi tour giude untuk Bos besar mereka itu. Menjelaskan setiap detail ruangan dengan arsitektur menarik yang mereka bangun bersama.
"Apakah, Bapak mau Satu ruangan pribadi?" tawar Bimo.
"Untuk?"
"Ya menginap lah, Bi. Mau buat apa? Besok, ketika peresmian, kau akan mengajak Nisa kemari. Dan ketika itu, kau tinggal dimana? Sok-sok tak tahu," cibir Alex, yang langsung diam ketika tatapan tajam Abi mendarat padanya.
__ADS_1
"Maaf," Alex langsung menunduk kan pandangannya.
Perjalanan pun dilanjutkan, dan Abi masih tetap tenang mendengarkan semua penjelasan yang ada.
***
"Aah, malah ngga tenang gini sih? Kan tadi dah nelpon, Mas baik-baik aja. Gitu katanya. Terus apa lagi, yang dicemasin? Toh, Nenek juga baik-baik aja katanya." gelisahnya tak menentu.
Nisa pun beberapa kali membuka layar Hpnya, dan menatap foto Abi yang Ia pajang disana.
"Iiih, rasanya pengen gantian nyentil, aku tuh!" gemasnya, menyentil Abi yang ada di dalam foto itu.
Drrrrt... Drrrrrr! Sebuah panggilan masuk ke Hp Nisa. Ia pun dengan semangat langsung menjawabnya dengan ramah.
Namun, Ia justru diam seribu bahasa, dengan air mata mulai mengalir di netranya.
" Ngga mungkin... Engga! Tadi katanya baik-baik aja. Kenapa jadi begini. Nisa ngga percaya. Ngga mungkin!" pekiknya begitu keras. Ia pun histeris sendirian, tanpa ada yang mampu menolongnya saat ini. .
"Ngga mungkin begini! Kenapa ngga adil? Tadi baik-baik aja." Isak tangisnya semakin menjadi-jadi.
__ADS_1