Nisa Untuk Abi

Nisa Untuk Abi
Kasihan Bu Dita.


__ADS_3

"Bu Dita, seolah baru saja terkena harapan palsu. Kasihan," lirihnya, yang duduk bersandar di bahu ranjangnya.


Pintu terbuka, dan Abi masuk ke kamar mereka. Nisa langsung meyambutnya dengan senyum, sembari mengulur tangan pada suaminya. Abi meraihnya dengan lembut. Ia naik ke atas ranjang dengan menggenggam mesra tangan Nisa, dan sesekali mengecupnya.


"Katamu ingin tidur?" tanya Abi.


Nisa hanya menggelengkan kepalanya. Ia membawa Abi untuk tidur diantas pahanya, dengan kaki yang Ia luruskan. Sesekali mengusap rambut dan menyibak kan poni nya, hingga jidat paripurna itu terpampang dengan indah. Nisa pun beberapa kali mengecupnya dengan hangat.


"Kau kenapa?" tanya Abi, menyadari kegalauan di hati sang istri.


"Mas, pernah di jodohkan?"


"Ya, beberapa kali..." jawab Abi, memainkan jari mungil Nisa, dan mengecupnya dengan gemas.


"Siapa aja?"


"Kenapa?"


"Pengen tahu aja," balas Nisa.


"Mayra, Diana, Elsa. Hanya itu,"


"Dita?"

__ADS_1


"Hmmmm?" Abi pun langsung merubah posisinya untuk kembali duduk, menghadap tepat menatap mata Nisa.


"Nisa ngga sengaja denger, percakapan Mama dan Alex. Mama, pengen Dita yang jadi mantunya."


"Dulu, iya. Terlalu lama untuk aku menemukan mu. Andai bisa lebih cepat, mungkin tidak..." Abi mulai meraih pipi Bakpau Nisa, dan memainkan nya dengan gemas. Rasanya ingin menggigitnya sesuka hati.


"Kau cemburu?"


"Munafik, kalau Nisa bilang engga..."


Abi tersenyum, membelai Nisa dengan tatapan nya. Masih tajam, tapi begitu menenangkan. Nisa menelengkan kepalanya, meresapi setiap sentuhan itu dengan mata yang terpejam. Meraih tangan itu dengan lembut, dan menciumi telapak tangan nya. Seketika, membuat jantung Abi berdesir dengan begitu hebatnya.


"Aku suka, jika kau cemburu. Tandanya, kau memang mencintaiku. I Love You," ucap Abi, semakin manis rasanya.


" Tidurlah, besok ikut ke kantor. "


" Ikut?"


"Ya... Setelah itu, kita lihat rumah baru kita."


"Okey," angguk Nisa, dengan penuh semangat.


Keduanya pun berbaring. Nisa begitu nyaman ketika tidur di atas lengan Abi. Rasanya begitu tengang, apalagi ketika memeluknya dengan erat. Suara dan hembusan nafasnya, begitu indah membawa Nisa kedalam mimpi yang sempurna..

__ADS_1


***


"Mama terlalu kasar?"


"Tidak, Ma. Hanya saja, itu memang begitu sensitif. Jujur Alex menyadarinya, tapi Alex sendiri tak mampu bicara."


"Lalu, kemana Dita sekarang?"


"Dirumah... Ia seolah tengah menenangkan dirinya. Biarkan saja, hingga Ia tenang. Nanti Alex akan bicara lagi."


"Ya, sampaikan salam Mama buat Dia. Sekaligus, permintaan maaf Mama."


"Ya, akan Alex sampai kan." angguknya.


Mama sofi lalu berdiri, memegangi lututnya yang mulai nyeri. Ia pun berpesan, agar Alex menbantu pindahan Nisa dan Abi, besok. Meski kurang setuju, Alex akhirnya pasrah. Ia paham betul, keinginan sang Mama pada Abi.


Wanita yang sudah Ia anggap sebagai Mama kandungnya itu, begitu ingin agar Abi segera mendapat kan seorang keturunan. Ya, Mama ingin segera punya cucu. Ketika Abi sudah mulai tenang karena Nisa, Mama semakin yakin, jika Abi akan lebih bahagia dengan kehadiran buah hatinya sebagai pelengkap mereka.


Mama pun keluar, dan menyisakan Alex seorang diri di kamarnya. Alex masih saja belum tidur, Ia masih saja sibuk menghubungi para anak buahnya disana. Hotel yang sebentar lagi rampung itu, harus terus di awasi dengan baik. Apalagi, Ia masih ngeri dengan Pak Jay yang masih sering datang kesana.


"Katakan, jika ada apapun..."


"Baik, Pak..." angguk Boby disana.

__ADS_1


Alex menghela nafas dengan lega, lalu menghempaskan dirinya diatas ranjang. Begitu lelah, hingga sekedar berjalan membasuh wajah pun Ia enggan.


__ADS_2