
"Permisi, Pak... Mau pesan apa?" tanya seorang waiters, yang memang Abi panggil sebelumnya.
Nisa mengatupkan bibirnya. Lagi lagi momentnya di ganggu orang lain.
"Pilihlah makanan, aku menunggu mu makan siang."
"Mas makan juga. Minum obat,"
"Ya," jawab Abi.
"Mas, Milkshake nya satu." pinta Nisa, dan Waiters mencatatnya.
"Kau flu. Tak sadar suaramu aneh begitu?"
"Tapi pengeeeen!"
"Jangan... Batalkan," pinta Abi.
"B-baiklah," waiters mulai ingin menghapusnya.
"Jangaaaaan! Nisa mau. Titik!"
"Aku tak akan merawatmu jika kau makin parah."
"Minum obaaat. Nisa tahu, obatnya." rengeknya.
"Terserah," sergah Abi.
"Jadi, bagaimana?" Waiters kembali bertanya.
"Jadi, Mas... Satu, ya," ucap Nisa, begitu bahagia.
__ADS_1
Bukan tanpa alasan Nisa tertidur barusan. Memang karena kondisinya yang sedang flu, membuat matanya sayu dan gampang mengantuk. Hanya, bersin nya yang mulai berkurang karena obat yang baru Ia minum.
Hp Abi berdering. Ia segera mengangkat telepon dari Dita itu.
"Siap berangkat?"
"Belum..."
"Apalagi?" tukasnya, kesal.
"Nisa, baru pesan makanan."
"Daritadi, Abi! Kalian ngapain aja, daritadi? Client sudah menunggu...."
"Biar, aku yang bilang pada mereka. Kau tenanglah. Atau, kemari saja... Kita makan bersama,"
"Malas! Makan saja berdua," ucapnya, lalu menutup teleponnya.
"Enak?" tatap Abi.
"Iya, mau?" Nisa menawarkan milkshake itu pada suaminya.
Abi menggelengkan kepala. Rasa dan aroma coklat itu membayanginya kembali. Rasanya, Ia mulai terbayang-bayang akan Rere di fikirannya. Ia pun meraih tangan Nisa dan menggenggamnya dengan begitu erat, sembari beberapa kali menghela nafas panjang.
"Kenapa?"
"Tidak... Lanjutkanlah," ucap Abi, meregangkan dasi dan meminum air putih yang tersedia.
Makan siang datang. Nia pun tampak begitu bahagia dengan hidangan yang tersedia. Cumi udang asam manis, dan beberapa tambahan lain. Tak munafik, Nisa memang sangat jarang makan enak. Anggap saja, Abi mengajaknya kencan hari ini.
"Mumpung Nyai ngga ada, wkwkwkkw!" tawanya dalam hati, membayangkan Dita yang telah pergi dari mereka.
__ADS_1
Hanya Setengah jam, waktu yang Abi berikan. Buru-buru, terlebih lagi harus menyambi menyuapi suaminya agar makan siang tepat waktu.
Dita memperhatikan mereka dari kejauhan. Sangat jauh, tapi tampak dengan jelas. Abi, yang bahkan selalu menolak ketika Ia beri perhatian seperti itu.
"Istimewa sekali, menjadi dia." gumamnya.
Ia pun melirik jam di Hpnya, lalu berjalan menghampiri keduanya untuk kembali mengingatkan jadwal.
"Minum obatnya dulu," ucap Nisa, menyuapkan obat Abi dalam mulutnya. "Minumnya yang banyak,"
"Sudah," jawab Abi.
"Kalian sudah selesai?"
"Eh, Bu Dita..." senyum Nisa, meski sebenarnya sewot.
"Ya, sudah... Ayo," ajak Abi pada istrinya. Tak lupa, Nisa meraih milkshake nya untuk Ia habiskan.
"Sayang dibuang, kan udah dibayar. Mahal,"
Abi hanya menghela nafas nya untuk yang kesekian kali. Membatin, dengan tingkah istri yang selalu membuat harinya penuh ramai.
"Nisa, kali ini tolong jangan berulah lagi."
"Nisa, kenapa?" tatapnya heran.
"Tidur di depan client, itu ngga sopan."
"Udah tidur tadi. Jadi, ngga akan tidur lagi." jawabnya santai.
Dita menggingit bibirnya, kesal. Rasanya ingin sekali mengajak Nyonya bosnya itu adu jotos dilapangan dan meluapkan segala amarahnya disana. Namun, Ia harus kembali sadar jika Ia itu tak normal.
__ADS_1
" Sabar, Dita... Sabar. Selalu sabar, dengan segala penemuan yang ada. Apalagi, masih beberapa jam lagi untuk bersamanya," gerutunya dalam hati. Kesal, marah, dan jengah.