
"Entahlah. Aku sendiri bahkan tak tahu, apa hebatnya dia." tatap Abi pada Nisa. Nisa pun membalas nya dengan begitu canggung, mempertanyakan apa maksud dari ucapannya.
"Dia.... Yang membuatku tak tertarik pada siapapun selain Dia. Meski hanya dalam beberapa kali pertemuan."
"Huuuu," mereka semua terpana dengan ucapan itu. Sebuah ucapan yang memang tak terlalu romantis, tapi cukup menggetarkan jiwa pendengarnya.
Lalu, bagaimana dengan Nisa sendiri? Karena Ia lah yang dimaksud dalam ucapan Abi. Ia hanya bisa bengong menatap Abi kosong.
"Hah? Itu....."
"Hussst, diamlah. Terima saja, apa yang aku berikan padamu...." ucap Abi, dengan tangan meraih piring Nisa dan mulai menyuapkan makanan itu ke mulutnya. Hanya beberapa suapan, dan Nisa menghentikan nya.
"Udah, malu. Nanti, Nisa makan dirumah aja, yang kenyang." balasnya. Ia tampak semakin canggung, apalagi ketika melihat Dita yang tampak begitu tertekan diantara mereka. Berkali-kali menghela nafas panjang dan berat, melegakan tenggorokan yang pedih dengan segelas air di meja nya.
" Nisa, mau ke kamar mandi, boleh?"
"Kenapa ku larang? Ada diujung lorong sana, tunjuk Abi. Ia pun melepas pelukan nya, dan membiarkan Nisa pergi kepada tujuannya.
__ADS_1
Keadaan menjadi hening di meja itu. Mereka hanya bisa diam dengan tatapan dingin Abi yang di nilai menakutkan. Terlalu menggetarkan, persisnya.
"Diam?" tanya Abi, dan mereka hanya mengangguk kan kepalanya. Andai makan malam mereka masih ada, pasti mereka akan mengalihkan perhatian dengan makanan itu.
Nisa membilas wajahnya. Rasanya lega bisa lepas dari circle mereka, yang terus menerus membandingkan nya dengan Dita.
"Ya, Dia terbaik, termanis, termode, terrrrrsemuanya. Aku apa? Hanya bisa dilayani tanpa bisa memilih sendiri apa mauku." gerutunya, menatap diri sendiri didepan sebuah kaca yang besar disana. Ia pun kembali, menemui Abi yang masih duduk disana.
"Hey, sudah?" sambut Abi.
"Pak Abi, tak dansa? Biasanya, bersama Bu Dita. Beliau mana?" sapa seorang teman yang lain. Yang nampaknya, tak melihat Nisa disana. Atau bahkan sengaja, memancing kesesalan Nisa.
"Itu, Dita disana. Tapi, Saya bersama istri. Dia tak bisa dansa," tolak Abi dengan lembut. Namun, entah iblis apa yang merasuki orang itu. Ia justru menarik tangan Abi dan membawanya pada Dita. Sengaja bersorak agar mereka berdiri dan berdansa bersama. Semua mendukungnya.
Abi menatap Nisa. Nisa pun mengangguk kan kepalanya, dengan sebuah syarat kerutan di dahinya. Abi faham, dan akan berusaha menjaga diri. Tapi kenyataan berbeda. Semua terasa semakin memperkeruh suasana. Mereka seolah tak memandang kehadiran Nisa disana. Bahkan dengan sadis menobatkan mereka sebagai pasangan paling serasi di pesta itu.
Nisa meradang. Ia pun berdiri dengan wajah marahnya, berjalan cepat pergi dari tempat itu.
__ADS_1
"Puas kalian?" tanya Abi, seketika membuat mereka diam. Ia pun pergi menyusul Nisa yang berlari begitu cepat.
"Mas Alex, Nisa minta kunci mobil."
"Bu-buat apa?"
"Nisa mau pulang. Ngga nyaman disini. Biarin, Mas Abi dengan teman-temannya itu. Kesel, Nisa."
Alex spontan memberikan kunci mobilnya. Membiarkan Nisa pergi sendirian. Hingga Abi datang, dan menegurnya.
"Kenapa kau beri?"
"Ku kira sudah izin."
"Susul, atau kau yang ku hukum?" ancam Abi.
Mereka pun berlari berdua, mengejar Nisa yang sudah berada di luar saat ini.
__ADS_1