Nisa Untuk Abi

Nisa Untuk Abi
Alex jadi korban


__ADS_3

"Aku Mencintaimu. Aku mencintaimu, dan bahkan semua orang disini tahu akan hal itu. Aku mencintaimu, bahkan dari dulu. Duluuuu sekali, dari sebelum kau mengenal istrimu. Kau tahu aku menangis, kau tahu aku galau. Bahkan kau sendiri yang berkata, akan menhajar pria yang menyakitiku. Tapi itu kau... Kau Abi,"


Keduanya kini saling berhadapan, bertatap mata dengan tajam. Abi dengan segala mosi tak percaya nya, sedangkan Dita dengan segala emosi dalam dirinya.


" Kau?" rahang Abi menegang, mendapati kenyataan yang diucap Dita. Ia kira, semua hanya rasa suka biasa karena mereka dekat. Tak tahu, jika Dita seckinta itu padanya..


"Tujuh tahun kita bersama. Menemanimu dari Nol, bersama mendiang Rere dan Alex. Kenapa tak ada ruang sedikitpun buat aku? Kenapa memohon pada yang baru kau kenal?"


"Sudah ku bilang, aku...."


"Apa? Kasihan, dia perlu bantuan? Bantu saja seperlunya..."


"Kau tak akan mengerti," ucap Abi, datar tanpa ekspresi. Karena nampaknya, Dita masih akan tetap pada argumen dirinya sendiri.


"Karena kau tahu, tapi kau tak mau mengerti. Dan jika ingin pergi, maka pergi lah." ucap Abi, tertunduk ketika menatap Dita tampak disana.


"Kau tak mencegahku?"

__ADS_1


"Aku sudah berusaha mencegahmu. Tapi, jika kau tetap dengan pendirianmu, maka pergilah. Aku tak akan melarang."


Dita menarik nafasnya dengan begitu kuat. Ia berbalik meraih tas, dan kardus berisi beberapa barang pribadinya. Ia melangkah, tanpa menoleh sedikitpun pada sahabatnya itu. Bahkan, tanpa sepatah kata terucap dari bibirnya.


Abi terus diam, sampai suara langkah  Dita benar-benar tak terdengar lagi di telinganya.


"Pak Abi?" Manda menghampirinya.


"Kita bicara di ruangan saya," ajak Abi, berbalik dan langsung melangkah dengan tegap menuju ruangan nya. Manda hanya mengikuti dari belakang, tertunduk dan sesekali menelan salivanya dengan kasar.


"Pak?" Manda kembali memanggil, sembari menutup pintu ruangannya.


"Maaf, tapi... Saya ngga bisa menggantikan Bu Dita. Saya punya bayi, dan saya tahu persis bagaimana pekerjaan ini. Saya sendiri, harus bolak balik beberapa jam sekali untuk menyusui."


Abi menyandarkan tubuhnya di bahu kursi. Ia pun memijat dahinya begitu stres. Jujur, Manda sedikit takut jika Abi kembali  histeris kali ini. Dan Manda tak pernah menyimpan obat seperti yang di lakukan Dita dan Alex.


Namun, Abi melakukan Buterfly hug secara mandiri. Menepuk-nepuk bahu dan memejamkan mata, dengan terus menghela nafas agar sedikit lega.

__ADS_1


"Siapa yang bisa mengambil alih posisi itu? Aku tak ingin, mengambilnya dari luar." tanya Abi, masih memeluk dirinya sendiri.


"Maaf, saya pun belum memiliki pandangan akan hal itu." sesal Manda. Karena memang posisi sekretaris, tak dapat begitu cepat diputuskan. Apalagi menggantikan tugas seorang Dita.


"Panggil Alex pulang."


"Baik, Pak." angguk Manda. Ia pun keluar, lalu mulai menghubungi Alex.


"Kenapa keluar?" Alex tampak cemas.


"Saya kurang tahu, Pak. Saya pun terkejut. Atau mungkin ada masalah pribadi diantara mereka." Bahkan Manda menceritakan pasal Dita mengungkapkan perasaan Dita pada Abi..


"Astaga, kenapa begini? Ditaaaa!" geram Alex padanya.


"Saya minta tolong, agar secepatnya Pak Alex pulang. Kasihan pak Abi. Baru saja akan sembuh, jangan sampai...."


"Stop, Manda. Saya akan pulang sekarang juga." Alex mematikan teleponnya, lalu bergegas pulang.

__ADS_1


Fikiran nya sudah begitu terbagi kali ini. Entah, bagaimana Ia akan menyelesaikan masalah ini. Serasa, Ia yang harus menjadi penengah diantara keduanya.


__ADS_2