Nisa Untuk Abi

Nisa Untuk Abi
Pura-pura ngga lihat,


__ADS_3

Abi membasuh wajahnya. Ia sejenak menikmati aliran air yang turun ke pipinya. Seketika terngiang, akan tingkah aneh nya pada sang istri.


"Apa aneh?" fikirnya. Ia tak ingin sendirian, akhirnya segera keluar dari   tempat itu.


"Sudah selesai?" sapa Abi pada istrinya, yang masih duduk manis ditempat mereka.


"Udah... Mas mau ke kantor lagi?"


"Kenapa? Lelah?"


"Iya, capek..." angguk Nisa.


Abi memberikan Hpnya pada Nisa, "Buat apa?" tanya nya heran.


"Hubungi Dita, bahwa kita akan langsung pulang." jawab Abi, yang berinisiatif membawakan tas Nisa di bahunya.


"Oh," timpal Nisa, tersenyum lagi, dan tersipu malu lagi dengan tingkah suaminya. Padahal, baru saja rasanya ingin mengajaknya perang argumen.


"Hallo, Bu Dita?"


"Ya, Nisa. Ada apa?"


"Mas Abi izin langsung pulang. Katanya lelah. Mungkin ingin istirahat, karena baru saja minum obat flu."


"Ya, baiklah. Jaga Abi dengan baik. Semoga lekas sembuh," sambung Dita dari sebrang sana.


"Iya, terimakasih...." Nisa mematikan teleponnya. Ia pun segera memberikannya pada Abi untuk segera Ia simpan kembali.

__ADS_1


"Tak mau memeriksa Hpku?" tanya Abi, yang telah duduk manis di dalam mobilnya. Begitu juga Nisa, yang telah memegang setirnya.


"Untuk apa?" Nisa dengan lincah mulai menyetir.


"Tak apa, hanya....."


"Nisa bukan tipe yang ribet. Memeriksa sana sini demi sebuah rasa curiga. Nisa juga bukan tipe pencemburu. Apalagi, Mas itu orang sibuk. Pasti, client dan rekan kerjanya banyak. Perempuan, ataupun laki-laki. Bahkan, banyak yang sengaja membawakan wanita cantik seperti kemarin. Iya kan?"


"Ya, bahkan dia sengaja menggodaku."


"Kalau memang Mas mau, dan Mas tipe ngga setia. Jangan mikir kejauhan, Bu Dita aja masih ngejar sampai sekarang. Tapi, Mas ngga mau..." senyum Nisa mengembang. Begitu menenangkan untuk Abi. Membuatnya ingin menatap bahkan tanpa mengedipkan matanya.


*


"Kenapa selalu sakit di dekat dia? Tangan nyaris patah, flu, besok apalagi?" gerutu Dita, dengan semua pekerjaannya.


*


"Kok belum pulang juga?"


"Mama?"


"Iya, Mas. Kangen,"


"Segitu sayangnya..." ledek Abi, yang mendahului Nisa masuk kerumah itu. Nisa menyusulnya dari belakang, setelah memarkirkan mobilnya.


Abi melepas jasnya. Rasa kantuknya setelah meminum obat, semakin merajalela menggelayut di matanya. Ia merebahkan diri di sofa, dengan bantal yang ada disana. Nisa pun kini meminum obat yang sama, dan duduk di ujung kaki Abi.

__ADS_1


"Ngantuk?"


"Iya, berat sekali." jawab Abi, memijat keningnya.


Nisa lalu merayap diatas tubuh Abi. Ia meraih kening Sang suami dan memijatnya dengan lembut pelipisnya. Untung tubuh Nisa mungil, hingga tak terlalu berat bagi Abi menopang tubuh yang kini berada diatasnya itu.


Pijatan demi pijatan relaksasi itu, terasa begitu menenangkan. Abi memejamkan matanya, meresapi setiap sentuhan yang Nisa berikan.


"Enak?"


"Ya, lumayan..." jawab Abi.


Nisa meletakkan kepala nya di dada Abi, dan tangannya terus memijat disana. Rasa kantuk mengalahkan semuanya, hingga tak lama Ia pun tertidur dengan pulas diatas tubuh suaminya.


Abi memeluk tubuh itu dengan tangan kanannya, agar Nisa tak bergeser lalu jatuh kebawah. Mereka pun tidur bersama di sofa itu.


*


"Aah, akhirnya sampai dirumah. Besok, liburan lagi, ya?"


"Beres, Nyah. Apalagi, kalau liburannya pulang kampung. Kan, bibik seneng." Bik Nik menambahi.


Mama membuka pintu yang rupanya tak terkunci itu. Ia pun menatap ke arah garasi, "Tumben, udah pulang?"


Keduanya pun masuk, Bik Nik menyalakan lampu dan keduanya terperanjat. Melihat dua insan yang tidur bersama di sofa.


"Matiin lampunya. Kita, pura-pura ngga lihat aja,"

__ADS_1


"Ngga sekalian, pura-pura belum pulang?" tanya Bik Nik, yang memperkeruh keadaan.


__ADS_2