Nisa Untuk Abi

Nisa Untuk Abi
Apa istimewanya dia?


__ADS_3

"Mas Abi? Keajaiban apa dari dia?" gumam Nisa dalam hati.


Hari pun semakin malam. Semua tamu undangan di jamu dengan makan malam yang istimewa. Abi, membawa Nisa duduk dan bergabung dengan para tamu yang lain. Di sebuah meja lonjong yang panjang dan terisi banyak orang. Ada Dita disana, duduk bersama para sahabatnya yang lain.


"Eh, Pak Abi. Ini, istrinya?" tanya salah seorang dari mereka.


"Ya, ini istri saya. Nisa," jawab Abi, memperkenalkan sang istri pada mereka semua. Nisa berusaha ramah, dan mengangguk kan kepalanya sembari perlahan duduk di sebelah suaminya.


Hidangan itu mewah. Hidangan para tamu kelas atas yang memiliki table manner dengan begitu baik. Nisa hanya diam, melihat bagaimana cara mereka makan. Terutama Abi.


"Kenapa?"


"Nisa, ngga bisa makan nya. Ini, gimana?" bisik Nisa.


"Sayangnya, aku belum sempat mengajarimu tengang ini, Nisa." sahut Dita, yang duduk tepat di sebrang Nisa dan Abi.


"Iya, Maaf. Soalnya, seharian Mama ngajak ke salon. Jadi Nisa belum belajar," balasnya polos. Sontak, mengundang senyum penuh ejekan dari yang lain.

__ADS_1


"Kamu seperti nya memiliki pekerjaan tambahan, Nis. Repot kah?" tanya sahabat di sebelahnya.


"Tidak, lama-lama akan terbiasa." jawab Dita, santai.


"Pastinya repot sekali. Tampak, semua yang dipakai Nisa adalah Dita yang pilihkan."


"Iya, Dita banget style nya. Untung ngga sama, gaun yang di pakai."


"Ah, iya... Bu Dita yang pilihin. Nisa, belum faham." jawab Nisa, berusaha tenang meski sebenarnya kesal. Apalagi di banding-bandingkan dengan Dita.


"Padahal, dulu kami kami fikir, Dita lah pilihan Abi. Apalagi, menempati posisi yang di duduki Nisa itu sudah Lima tahunan. Siapa sangka, akan terganti," ucap mereka, tanpa basa basi dan rasa canggung.


Nisa hanya bisa mengangguk. Apalagi tak bisa melawan apapun. Hanya takut, jika Abi akan malu dengan kelakuannya.


" Nisa pergi aja," ucapnya lirih. Ia memundurkan kursi dan hendak pergi. Namun, Abi meraih tangan dan membawanya duduk tepat di pangkuannya.


Semua pun mendelik dengan tindakan Abi. Tak terkecuali Dita, yang melihat cepatnya respon Abi pada Nisa.

__ADS_1


"Mas, lepasin... Malu," Nisa mencoba melepas tangan Abi. Namun, Abi justru melingkarkan tangan itu di perutnya. Semakin erat dan Nisa tak bisa memberontak lagi.


"Kenapa membandingkan Nisa dengan Dita?" tanya Abi, pada semua orang yang ada disana.


"Tak ada. Hanya melihat dari segi kelayakan. Entah, seperti nya kursi di sebelahmu, sudah begitu melekat dengan Dita." jawabnya.


"Benarkah?" tanya Abi, dengan senyum tipisnya. "Jika begitu, Dita..."


"Ya, Bi?"


"Duduk lah disana. Biar Nisa duduk dipangkuanku. Kau sekretarisku, tapi Nisa istriku. Tak ada yang dapat dibandingkan diantara kalian."


"Ah, tidak. Mereka hanya bercanda. Mungkin, mereka heran karena... Aku yang selama ini menemanimu. Tapi, Kamu bersama Dia yang bahkan belum kamu kenal. Ya.... Mungkin begitu." jawab Dita, sedikit mengangguk kan kepalanya.


"Benar?" tatap Abi pada semua yang ada disana...


"Hanya mempertanyakan. Bagaimana kalian bisa bersama. Itu saja. Apalagi kau, yang selama ini menutup diri." sambung yang lain. Dengan nada gugup menunggu jawaban dari Abi.

__ADS_1


"Entahlah. Aku sendiri bahkan tak tahu, apa hebatnya dia." tatap Abi pada Nisa. Nisa pun membalas nya dengan begitu canggung, mempertanyakan apa maksud dari ucapannya.


"Dia.... Yang membuatku tak tertarik pada siapapun selain Dia. Meski hanya dalam beberapa kali pertemuan."


__ADS_2