Nisa Untuk Abi

Nisa Untuk Abi
Tetap saty cool


__ADS_3

Bik Nik mengantar Nisa ke kamarnya. Kamar itu tepat berada di sebelah kamar Abi, hanya berjarak dinding yang juga tak begitu tebal. Mama Sofi yakin, jika mereka akan menjaga kehormatannya masing-masing.


"Mba Nisa, moga betah disini."


"Betah, Bik. Kalian orang baik. Apalagi Mama. Ngga mungkin, Nisa ngga betah." jawabnya.


"Dengan Mas Abi?" tanya Bibik, dengan ekspresi wajah yang mulai sedikit sedih.


"Mas Abi kenapa? Nisa tahu, kalau Mas Abi dingin dan arogan. Lalu, apalagi?" tanya Nisa.


"Mas Abi memang begitu. Lama-lama, Mba Nisa akan terbiasa dengannya. Tapi, hanya satu yang Bibik pesankan."


"Apa?" Nisa memicingkan matanya.


"Selalu sabar, dengan sikap Mas Abi. Itu saja." jawabnya. Bibik hendak membantu Nisa membereskan pakaiannya. Namun, Ia baru melihat jika Nisa memang tak membawa apapun.


"Tas nya kosong," ucap Nisa, dengan bibir manyun nya.

__ADS_1


"Baiklah, nanti Bibik ajak Mba Nisa beli pakaian baru."


"Mas Abi?"


"Dia? Dia ngga boleh keluar malam. Kalau udah lewat maghrib, harus dirumah."


"Ckk, anak Mami." cibir Nisa. "Kemarin aman,"


"Nanti, Mba Nisa akan tahu sendiri alasannya. " Bibik pun pergi, meninggalkan Nisa untuk istirahat di kamarnya.


Nisa berguling-guling di kamar barunya. Terasa begitu empuk dan nyaman. Tapi, Ia belum terbiasa ditempat baru, dan butuh sedikit lama untuk penyesuaian.


"Biasanya, tinggal gayung di bak mandi. Ini apaan aja?" tanya Nisa, memegangi shower dan menghidupkannya. Sedikit terkejut, untung saja tak sampai berteriak histeris. "Bisa malu, nanti." ucapnya lirih.


Nisa pun mengisi air dari shower ke dalam bathup hingga hampir penuh. Lalu, Ia mengambil gayung dan mandi seperti biasa seperti yang sering Ia lakukan. Begitu lebih nyaman, daripada harus mandi di dalam bathupnya. "Takut ngga bersih,"


Nisa keluar dari kamar mandi. Tubuhnya berbalut handuk setengah badan, memperlihatkan kaki mulus dan pundaknya yang indah. Bersenandung lagu yang begitu ceria, dengan rambut yang di bungkus handuk diatas kepalanya.

__ADS_1


"Nisa, ini baju buat ka....." ucapan Abi terhenti seketika, melihat pemandangan indah yang ada dihadapan matanya. Terdiam mematung, dengan mulut sedikit ternganga.


Nisa baru sadar setelah beberapa lama. Ketika handuk dirambutnya telah Ia lepas dan rambutnya terurai bebas.


Aargh, Mpph!" mulut nya langsung di bekap Abi, agar Ia tak bereriak dan mennghebohkan seisi rumah itu.


"Pak, eh, Mas Abi ngapain masuk kesini? Ngga pakai ketuk pintu?" omelnya.


"Salahmu. Pintu tak kau kunci." ucap Abi, datar. Ia berusaha menghindarkan tatapan matanya dari pemandangan indah itu.


"Ini," Abi memberikan sebuah dres "Ini, dikasih Mama. Pakai, nanti kita makan malam dibawah."


"Iya, makasih." ucap Nisa, menutupi sebagian tubuhnya dengan handuk dari kepala.


Abi pun keluar, berusaha stay cool meski Nisa tahu Ia begitu syok saat ini. Tampak jelas, seketika wajahnya pucat dan memerah di bagian pipi. Karena sama, Nisa juga sangat Syok. Tapi berusaha menjaga image agar tetap tenang di depan calon suami dadakannya itu.


Nisa menghampiri pintu, membukanya sedikit dan mengeluarkan kepalanya. Bukan berprasangka, hanya menghindari sesuatu yang tak diinginkan saja. Karena, Nisa benar-benar masih gamang dalam semua suasana barunya.

__ADS_1


"Aman," ucap Nisa, lalu mengunci pintu kamarnya.


__ADS_2