
"Sudah tenang?"
"Sedikit. Obat ku, juga sudah mulai berpengaruh." jawab Abi.
"Yaudah, yok tidur. Ngga enak sama Mama, kalau besok bangun kesiangan. Mempersiapkan sarapan untuk pertama kali, setelah bergelar menjadi is...."
"Sudah, jangan banyak meracau. Tidurlah, kau bilang ngantuk."tukas Abi, yang langsung berbaring miring menarik selimutnya. Ia pun kembali tidur membelakangi Nisa.
"Okey, Fine! Dapet punggung dulu ngga papa. Besok-besok, pasti dapet muka nya. Wkwkwkw.. Kayak mana lah, muka nya pas tidur? Masih ganteng kah?" tawa Nisa dalam hati, membayangkan ketampanan wajah suaminya yang paripurna. Hingga Ia akhirnya menyusul, terlelap dengan begitu damai.
" Mas... Mas Abi, bangun, Mas." ketuk Bik Nik, dari pintu kamar pengantin itu.
" Bik, udah biarin aja. Mereka lelah. Kita siapin sarapan aja, dulu." ajak Mama Sofi. Bibik menurut, meski Ia tahu jika Abi akan memarahinya jika telat bangun dan berangkat ke kantor.
*
"Pagi, Mama..." sapa Nisa yang keluar dari kamarnya. Ia masih mengenakan pakaian semalam, dengan rambut hanya sedikit Ia rapikan. Menghampiri Mama Sofi dan Bik Nik yang tengah sibuk mempersiapkan sarapan mereka.
"Nisa?" Mama Sofi menatap sang menantu dari ujung kepala sampai ujung kaki.
__ADS_1
"Kenapa, Ma?" Nisa keheranan.
"Kok pakai baju Abi? Baju kamu mana?"
"Baju Nisa kemana, Ma? Kok adanya baju begituan. Makanya Nisa pakai baju Mas Abi. Masa iya, keluar pakai baju itu. Malu lah," jawabnya dengan menggigit sebuah apel..
"Kamu udah mandi, kok ngga keramas? Terus, coba jalan," permintaan Mama Sofi semakin aneh padanya. Namun, Nisa tetap menurutinya.
"Apa sih?" Nisa berjalan maju mundur di depan Mama Sofi, dengan penuh tanda tanya.
"
"Lah, terus Nisa kudu gimana?" Nisa semakin dipenuhi tanda tanya.
"Udah, Nyonya. Mungkin Mas Abi juga lelah. Seharian pesta, nyambut tamu dan menemani semua rekannya berbincang. Bukan engga, tapi hanya tertunda," Bik Nim datang, berusaha menjadi penengah diantara mereka. Meski, itu semakin membuat kepala Nisa begitu gala seperti banyak kutu menggerogotinya.
" Apaan sih?" Ia hanya bisa menyipitkan kedua matanya.
"Udah, Nisa naik aja. Mandi, dandan yang cantik. Mas Abi sekalian bangunin, bantu rapiin."
__ADS_1
"Iya, Bik," angguk Nisa. Ia pun kenbali naik meski masih dipenuhi banyak tanda tanya di kepalanya.
"Abi pasti nih, Bik. Dia yang cuekin Nisa. Terus, langsung tidur minum obatnya," Mama Sofi tampak begitu kesal.
"Jangan suudzon sama anak, Nyah. Mas Abi lelah. Mungkin juga, mereka masih canggung. Wajarlah. Tunggu, sampai beberapa hari." bujuk Bik Nik, dengan begitu lembut. Padahal, Mama Sofi sudah begitu mendambakan cucu dari keduanya. Bahkan bermimpi bermain dengan cucu kembarnya.
" Apa, keinginanku terlalu tinggi? Padahal, mereka baru menikah sehari."
" Sabar," lirih Bik Nik, mengusap bahu majikannya.
*
Nisa membuka pintu kamar nya. Tampak disana Abi telah rapi dengan setelan kemeja putih dan celana hitamnya. Menatap Nisa yang duduk lesu dengan apel dalam genggaman nya.
" Kau kenapa?" Tanya Abi. Nisa pun langsung menoleh, bahkan langsung berdiri untuk membantu Abi memasang dasinya.
"Mama," jawabnya. Nisa berjinjit, hanya untuk dapat meraih Abi dengan dasinya. "Mama nanya, aneh."
"Aneh apa?" Abi spontan melebarkan kedua kakinya, agar posisinya sejajar untuk Nisa.
__ADS_1
"Nanyain segala macem keramas, sama cara jalan. Emang kenapa sih? Emang, kalau abis nikah harus keramas? Terus, cara jalannya harus gimana?" tanya nya, "terimakasih," imbuhnya karena Abi telah begitu pengertian dengan tubuh pendeknya.