
Akhirnya rapat dibubarkan. Pak Doni keluar bersama sekretarisnya, di hantar oleh Dita sampai ke parkiran. Dita pun segera kembali, untuk membereskan ruangan Abi, dibantu karyawan yang lain. Nisa pun berbaik hati membantunya, sementara Abi berada di kamar mandi.
"Bisakah kau bersikap wajar?"
"Maksudmu?"
"Bersikap wajar, layaknya orang normal." ujar Dita, bernada datar bahkan tanpa menoleh ke Nisa. Justru Nisa, yang menoleh ke arahnya dengan tatapan tajam. Menirukan sang suami dengan bola mata datar lurus kedepan.
"Kau bilang aku tak normal?" sergahnya.
"Setidaknya, didepan orang lain. Jaga sedikit kelakuanmu. Kau membawa nama besar Abi. Tak lucu jika Abi yang dicibir orang karenamu."
"Kau lihat dia mencibirku, atau suamiku?" tanya Nisa, dengan suara yang begitu tertahan.
"Orang mencibir, tak akan pernah Ia lakukan di hadapan yang bersangkutan." gertak Dita, menghempas kain lap dan berkacak pinggang menantang Nisa.
"Fikiranmu kotor. Tak semua orang sepertimu."
"Kapan fikiranku kotor? Adakah aku mencibirmu dibelakang! Aku selalu jujur, tiap berkata padamu."
"Iya, mulutmu yang kotor."
__ADS_1
"Nisaaaa!" pekik Dita, yang mulai jengah saat di lawan.
"Apa?"
"Aku hanya memperingatkan mu."
"Tapi tak usah bawa-bawa kenormalan. Kau fikir aku gila?"
Tatapan mereka saling beradu. Sama-sama tajam dan saling tantang antar satu sama lain. Manda, yang masih ada disana pun rasanya gemetar ketakutan. Berfikir terlalu aneh untuk kelanjutan perdebatan keduanya.
" Pak Abi, aku mohon, datanglah." harapnya.
" Kau sekarang adalah wanita terhormat. Setiap tindak tandumu, selalu akan menjadi perhatian. Langkahmu, tawamu, bahkan cara mu berpakaian."
"Aku tak perduli padamu. Aku perduli pada Abi!"
"Kalau kau tak suka, tak usah melihatku!" Nisa mendelik, menambah lebar pintu kebencian yang terbuka di hati Dita. Wanita itu pun hanya diam, dan tak lagi mengucapkan apapun.
"Hey, sudahlah. Jangan seperti itu. Tak enak jika di dengar orang lain." tegur Manda, yang akhirnya angkat bicara.
Keduanya hanya diam, dan masih saja melempar tatapan sinisnya. Hingga Abi keluar, dan membawa Nisa untuk makan siang. Nisa pun cemberut sepanjang perjalanan ke kantin, hingga makan siang datang pun Ia hanya mempermainkan nya.
__ADS_1
"Kenapa?" tanya Abi, menyeruput teh tawar hangat yang Ia pesan.
"Emangnya, Nisa ngga normal?"
"Siapa bilang?" Abi menyandarkan tubuhnya di bahu kursi.
"Dita," jawabnya, tanpa menatap sang suami.
Abi hanya berdehem, sembari memainkan lidah di dalam mulutnya.
"Ya, kau tak normal." jawaban yang seketika membuat Nisa makin tertunduk lesu.
"Kau terlalu ceria bagi mereka yang diam. Kau terlalu menarik perhatian, bagi ku yang bahkan tak pernah melirik orang lain. Kau aneh," ucap Abi, kembali pada teh tawarnya yang tampak begitu nikmat meski tanpa rasa.
Abi lalu menarik piring makan Nisa, mulai memainkan sendok dan garpunya, lalu menyuapkan nya pada sang istri yang masih cemberut.
"Tak perlu menjadi seperti orang lain, agar mereka menyukaimu. Tapi, belajarlah berubah sesuai dengan lingkungan mu. Sadar diri akan siapa kau saat ini. Siapa?" tatap Abi, menelengkan kepalanya.
"Istri Presdir," jawab Nisa, menegak kan kepalanya dan mulai mengulur senyuman.
Nisa pun kembali makan begitu lahap, dengan suapan dari suaminya. Memanfaatkan moment lagi, dari segala perhatian yang diberikan. Ia bahkan kadang dihantui rasa, ketika memikirkan hubungannya dengan Abi yang akan bagaimana ujungnya.
__ADS_1
"Aku belum dengar kabar tentang proyek itu lagi. Apakah mereka tahu, jika aku sudah menjadi istri dari orang yang sedang mereka lawan?"