
Abi tersadar dari mimpinya. Membuka mata dan melihat Nisa tepat di depan matanya, dengan bibir mereka saling bertautan.
"Maaf," ucap Nisa, melepaskan pangutannya.
Namun, Abi justru meraih tengkuk Nisa dan membawa gadis itu dalam pangkuannya. Abi mendekatkan kembali, membawanya semakin dekat dan tatapan mereka semakin intens. Ia menelengkan kepalanya, dan menyesap bibir indah Nisa dengan ganas, membuat gadis itu kehabisan nafas.
"Mas," Nisa mendorong dada Abi, dan sedikit menjauhkan nya.
"Kau tak suka?"
"Nisa, flu. Nanti Mas ketularan," lirihnya. Menundukkan kepala dan berusaha menghindari tatapan Abi padanya.
Namun, Abi sepertinya tak perduli. Tangannya justru turun ke pundak Nisa, dan membawanya kembali dekat. Kembali Ia menyerang bibir indah itu, tak perduli dengan flu yang Nisa derita. Jantungnya berdesir dengan begitu cepat, membuat darahnya mendidih dan panas di seluruh tubuhnya.
Gerakannya semakin cepat, membuat Nisa kewalahan karena memang baru pertama kali menerima itu semua. Apalagi, dari suaminya. Ia mencengkram dadaa Abi dengan kuat, apalagi ketika tangan Abi mulai merayap di punggungnya dengan sentuhan nya yang menggetarkan jiwa. Naik memegang pinggul Nisa, dan sedikit memberikan dorongan hingga Nisa membusungkan dadaanya.
"Aaaaakkhhh!" Abi terpekik. Sepertinya, segala hasraat itu membuatnya lupa jika tangan kirinya sakit. Dan baru saja, Ia ingin menggunakannya untuk menarik lengan lingerie yang dipakai Nisa.
"Mas...!" Nisa langsung meraih tangan itu, tak perduli dengan lingerienya yang mulai berantakan. Ia mengusapnya, dan meniupnya dengan begitu lembut.
"Makanya, jangan nekat. Sakit kan?"
"Bukannya, kau yang selalu menggodaku?"
Nisa menegapkan duduknya, dan menatap Abi dengan kesal.
__ADS_1
"Makanya, kalau istri mancing, itu manfaatkan. Giliran begini aja,"
"Penggerutu...."
"Biarin... Kesel," jawab Nisa, merapikan lagi gaun tidur tipis yang Ia pakai barusan. Ia yang ingin membenarkan posisinya kembali, tertahan Abi. Ya, Ia meraih tengkuk Nisa, menyerang lehernya dan meninggalkan beberapa tanda disana.
"Heh! Apaan?" Nisa mengusap bekas itu, namun tak hilang.
"Hilangnya Tiga hari..." Jawab Abi dengan santai, kemudian menarik selimut dan tidur.
"Eh, apa-apaan?" kesal. Ia pun tidur, kembali membelakangi suaminya itu.
Abi memutar badan, berusaha dengan keras agar dapat memeluk Nisa dari belakang. Ia menenggelamkan wajahnya dan meringkuk mengecup punggung Nisa.
"Biarin, asal tenang..." ucap Nisa.
"Hachiiiiimmmm!" Abi bersin di pagi hari. Hidungnya mulai memerah karena mampet.
"Kan, udah dibilangin jangan, masih nekat." omel Nisa, dengan memberikan secangkir teh hangat pada suaminya.
"Ke kantor ngga?"
"Iya," jawab Abi.
Nisa pun menyiapkan air hangat, untuk memandikan suaminya itu. Memakaikan nya kemeja dengan blezer tebal di luarnya. Merasa aneh, tapi Abi tetap memakainya demi diamnya sang istri. Ia lelah, hingga terasa malas hanya sekedar mendengar Nisa menggerutu atau pun mengomel.
__ADS_1
"Tunggu dibawah, Nisa mandi dulu."
"Iya,"
Abi pun turun, dan duduk manis di meja makan. Menunggu Nisa yang akan kembali menemaninya ke kantor hari ini.
Sayangnya, Ia telah memberi izin untuk Ia ke Rumah sakit, dan meninggalkan nya sendirian di kantor.
"Apa aku bisa?" gumamnya.
"Maaaasssss!" pekik Nisa sekuat tenaga. Turun dengan langkah kakinya kasar.
"Ya?" tanya Abi, dengan wajah datar.
"Ini gimana? Ngga bisa hilang." protesnya, dengan tanda merah yang ada dilehernya itu.
"Biarkan saja, kenapa?"
"Malu lah!"
"Itu tanda dari suamimu, kenapa malu?"
"Masa iya, kemana-mana dengan tanda ini? Nanti dilihatin orang."
"Terima, atau ku tambah tandanya?"
__ADS_1
Nisa hanya menggigit bibirnya. Mengepalkan tangan dan menghentakkan kakinya semakin kesal.
"Eeeeerrrrghhh!"