
Nisa masuk ke dalam kamar. Menatap kedua nya tengah saling memberi perhatian. Tak ingin mengganggu, Nisa membalik tubuhnya ingin pergi.
"Mau kemana?" panggil Abi padanya.
"Ngga kemana-mana. Cuma..."
"Udah, Nisa masuk aja. Mama mau keluar, mau istirahat. Nisa juga, jangan sampai istirahatnya kurang. Nanti, cucu Mama ngga jadi juga," gurau sang Mama mertua, sembari melangkahkan kakinya keluar dari kamar mereka.
Nisa hanya mengangguk, tersenyum getir dengan ucapan itu.
"Kemari," panggil Abi padanya.
"Apa?" Nisa perlahan menghampiri, dan duduk di sampingnya.
"Tatap aku," pinta Abi padanya, dan Nisa pun menurutinya meski sedikit ngeri.
Tatapannya itu loh, menusuk hingga ke ulu hati. Membuat sesak di dada, dengan tekanan jantung yang berdebar-debar begitu cepat dari ritme normalnya.
"Kau cemburu...."
"Kata siapa?"
"Mata mu, mengatakannya."
"Engga, mana ada. Nisa ngga cemburu, suer."
"Katanya, kalau cemburu, keningnya berkeringat."
"Mana ada?" Nisa langsung mengusap keningnya. Membuat Abi mengulurkan senyum langka dari ujung bibirnya.
__ADS_1
"Mas Abi," Nisa spontan menepuk lengan.
"Aaaaakkhhhh! Ssssssstttt!" Abi memekik dan mendesis dengan kuat, ketika lengan nya terkena tepukan Nisa. Wajanhnya pun langsung pucat, tertunduk dan tangan memijat keningnyam
"Mas, sakit?"
"Jangan tanya, Nisa..." jawab Abi, tampak begitu frustasi dengan segala yang Ia rasakan.
"Tidur yuk, Nisa bantu..." ajaknya, yang kemudian memapah tubuh Abi dan membantunya berbaring di ranjang. Tak lupa, menyelimuti tubunya dengan rapat. Ia pun segera menyusul, tidur di bagian kanan Abi agar tak menyenggol lengan yang sakit.
"Gimana?" tanya Nisa, begitu memberikan perhatian.
"Nyeri. Rasanya, begitu sakit. Membuat ku sulit memejamkan mata."
"Tapi baiknya, Mas jadi ngga kesepian lagi. Ngga kumat deh,"
"Iya, maaf." Nisa memiringkan tubuhnya pada Abi. Mengulurkan tangan nya untuk mengusap lengan Abi yang ada di bagian sebrang, dan mengusapnya dengan lembut. Berakhir, memejamkan mata dengan pelukan hangatnya pada sang suami.
*
Perawatan pertama pagi ini. Nisa bangun lebih pagi dari biasa, agar dapat menyiapkan semua keperluan Abi.
"Mas, bangun. Mandi yuk," bujuk Nisa, perlahan membuka selimut di tubuh Abi."
" Hari ini, ke kantor? "
" Ya, pekerjaanku begitu banyak. Aaaaakkkkkhh!" Abi sepertinya belum terbiasa, dengan gips di tangannya.
Untung Abi memakai kemeja tidur, hingga mempermudah Nisa untuk membuka nya. Perlahan, hingga nyaris semuanya tanggal dan memperlihatkan roti sobeknya.
__ADS_1
"Kenapa?" tanya Abi, ketika Nisa tersenyum sendiri menatap dadanya.
"Ngga papa, Nisa ngga papa."
"Kau mandikan Aku,"
"Hah! Mandiin?" kaget Nisa, dengan mata yang hampir loncat dari tempatnya.
"Bagaimana aku bisa mandi?" tunjuk Abi, pada tangan nya yang sakit. Nisa lagi-lagi hanya bisa menghendus kan nafasnya dan pasrah, menggandeng Abi masuk ke kamar mandi dan membersihkan tubuhnya meski sedikit sungkan.
"Kenapa memejamkan mata? Tak bersih," tegur Abi, pada istrinya.
"Ngga mejam, cuma nyipit doang." tukas Nisa, kesal.
"Bagaimana membersihkan jika seperti itu?"
"Iiiiisssssh!" Nisa begitu geregetan hingga mengepalkan tangan. Hingga akhirnya, Ia membulatkan mata sembari terus menggosok tubuh Abi yang nyaris polos di depan matanya itu.
"Puas?"
"Ya," jawab Abi, begitu santai. Tak hanya itu, Abi pun tak dapat memakai pakaiannya sendiri. Dari pakaian dalam, celana, hingga kemejanya. Bahkan, hanya untuk menyelipkan kemeja di pinggang celana.
"Nisa...."
"Iya, bentar..." balasnya, lalu menghampiri. Nisa dengan tenangnya, memasuk kan ujung kemeja itu di pinggang Abi. Bahkan dengan memasukkan tangannya ke dalam sana.
Abi menelan salivanya dalam-dalam. Tampak ketika jakun nya naik turun dan rahangnya yang menegang.
" Udah, rapi..." ucap Nisa, yang hanya memakai handuknya untuk segera mandi.
__ADS_1