
"Mas, Nisa udah siap. Ayo, berang-kat... Kok gitu?" tanya Nisa, yang melihat Abi dan Alex saling tatap.
"Tak apa. Ayo, berangkat." raih Abi, pada lengan Nisa yang juga membawakan jasnya.
Nisa hanya bengong meng'iyakan, sembari melepas genggaman itu dan memakaikan jas nya pada sang suami. Sedangkan Alex, duduk dibelakang memberikan senyum gemas pada keduanya. Dengan segala harapan terbesar dari relung hatinya yang terdalam.
Abi dan Nisa duduk di belakang berdua. Dan Alex, menyetir mobil mereka di depan. Andai ada Dita, pasti Ia tak akan kesepian. Eh salah, justru semakin sepi dan bahkan Ia akan jadi pelampiasan kekesalan Dita semalaman.
"Hadeh, rasanya begitu sepi."
"Pak Alex, kenapa?" tanya Nisa.
"Eh, Nisa. Kamu aman, dibelakang?"
"Aman, Pak. Emangnya kenapa? Cuma sepi, kalah sama HP. Apa, Nisa ke depan aja?"
"Kau berani?" tatap Abi dengan tajamnya.
"Berani, kenapa?" tantang Nisa. "Lagian disini di cuekin. Kalau ada nyamuk, mending ngobrol sama mereka, deh."
__ADS_1
"Wanita ini...." kesal Abi, lalu menutup Hpnya.
Abi pun mulai memberi beberapa wejangan untuk sang istri. Diantaranya, adalah ketika bersama dengan para sosialita itu. Nisa harus berusaha anggun dan elegan, tak boleh seperti biasanya yang suka menggerutu. Meski, Ia juga tak bisa sok akrab disana.
"Aku mengawasi mu."
"Yaudah... Nisa juga ngga akan kemana-mana. Sama Mas Abi aja. Kalau engga, sama Pak Alex. Bener kan?" tanya Nisa, menghampiri Alex di depan dengan wajah nya.
"I-iya," jawab Alex, serba salah. Apalagi ketika mengintip tatapan Abi dari kaca depan. Untungnya, mereka segera tiba di tempat pesta.
"Aku parkirkan mobil. Kalian, masuk saja duluan."
Mereka disambut langsung oleh Tuan rumah. Begitu ramah dan bersahaja dengan seragam couple mereka yang menawan khas tionhghoa.
"Selamat datang, Pak Abi. Ini istrinya?"
"Iya, Pak. Ini istri saya, Nisa." ucap Abi. Meski masih sulit sekali untuk mengulurkan senyum nya yang lepas dari hati. Untungnya, semua orang sudah begitu faham akan watak nya.
"Selamat malam, Pak. Saya Nisa, istri Mas Abi. Maaf, saya memang belum pernah datang ke pesta orang kaya. Jadi, harap dimaklumi,"
__ADS_1
Kejujuran Nisa mengundang tawa Tuan dan Nyonya Liam. Tapi, mereka senang itu dan tak mempermasalahkan nya. Karena untungnya, mereka tak pernah melihat orang dari strata sosialnya.
Tak lama setelahnya, acara inti dimulai. Pemotongan kue Aniversary yang begitu besar, doa bersama. Nisa tak hentinya mengagumi kemegahan dari acara itu.
"Ah, andaikan ada yang membuatkan aku acara seperti ini..." harapnya, begitu indah. Tapi seolah bunganya layu sebelum berkembang. Apalagi ketika Ia melihat suami beku nya yang tengah asyik mengobrol dengan para rekan kerjanya disana
Terfikir juga dalam benaknya. Akankah pernikahan mereka akan bertahan lama. Mengenai perjanjian, dan kondisi sang Nenek disana yang nyaris tak akan bisa sembuh dengan cepat. Atau bahkan memang tak bisa.
"Bertahan sampai kapan? Aku pun tak bisa membayangkan," gumamnya sedih, sembari memainkan pinggiran gelas berisi minuman yang harusnya Ia nikmati.
"Memikirkan apa, nona cantik?" tanya Alex, yang mendatanginya.
"Ngga ada. Hanya sesuatu, yang tak seharusnya di fikirkan. Terlalu jauh, untuk sampai kesana. Bahkan nyaris tak mungkin," balas Nisa.
"Hey, kau tahu. Di dunia ini, tak ada yang tak mungkin. Kau lihat dia," tunjuk Alex pada Abi.
"Ya?"
"Aku tak menyangka, keajaiban akan terjadi. Meski aku tak tahu, bagaimana kalian bisa menikah dan saling menambatkan hati," ucapnya, dengan segala rasa heran.
__ADS_1