
"Disini," ucap Abi, menghentikan mobilnya. Disebuah makam, dimana Rere tidur dengan nyenyak. Tak lupa, membeli sebuah buket bunga kesukaan Rere dan membawanya masuk.
"Boleh Nisa bawa?" tawarnya. Abi pun memberikannya dengan sedikit memberi senyum. Begitu indah, dipandang mata seorang Nisa.
Abi menggandeng tangannya. Ia berjalan menuju makam Rere yang tampak cantik dan terawat dengan baik. Ia membawa Nisa, bersimpuh di batu Nisan itu dan sesekali mengusapnya dengan netra yang berkaca-kaca. Nisa meletak kan buket bunga itu, dan mengusap bahu Abi dengan lembut. Lalu, meletak kan dagu nya disana.
"Aku disini, Re. Dan aku membawanya. Aku menikahinya, sudah lebih dari sebulan yang lalu. Dan jika kau bertanya pasal cinta, aku belum bisa menjawabnya. Yang jelas, aku membutuhkannya. Dia bisa menjadi penenangku, Re. Menenangkan segala risauku tentang dirimu. Ketika semua memberi obat dan memaksaku tidur melupakanmu. Dia memelukku, menyadarkanku jika kau memang tak akan pernah kembali."
Baru kali ini, Nisa mendengar Abi berbicara begitu panjang. Air matanya yang mengalir, pertanda memang itu adalah segala rasa dari hatinya yang terdalam. Begitu tulus, dan dalam.
Nisa bahkan bingung, tak tahu harus berbuat apa dalam hal ini. Rasanya tak tega, tapi Abi harus berdamai dengan keadaan.
"Bukan melupakan, Mas. Tapi kamu harus berdamai dengan hatimu," bisiknya, begitu lembut di telinga Abi.
Nisa menyentuh dada Abi, mengusapnya dengan lembut disana. Abi hanya bisa menangis, dengan sesekali memijat keningnya. Nisa tak melarangnya, justru membiarkan Abi melepas semua rasa di dalam hatinya saat itu
"Menangislah... Menangislah jika itu akan membuatmu ringan. Tak apa, jika Nisa hanya bisa mengusap air mata Mas Abi saat ini. Itu tugas Nisa."
Abi menarik nafasnya begitu panjang. Ia berusaha menghentikan tangisannya. Genggaman tangan nya kuat, sekuat Ia berusaha menutup kesedihannya. Ya, dibalik dinginnya seorang Abi, ada bongkahan es yang begitu rapuh, yang kapan saja bisa hancur.
" Pulang?" tanya Nisa.
"Katamu, kau ingin main."
"Matanya sembab," tatapnya manja pada Abi, lalu mengusap air mata itu sekali lagi.
__ADS_1
"Nisa ngga pernah larang Mas mengingat masa lalu. Karena pada dasarnya, tanpa itu pun sulit akan datangnya masa depan. Tapi, berdamailah dengan keadaan. Rere udah ngga ada. Dan ini...." Nisa meletakkan telapak tangan Abi di dadanya. "Ini Nisa..."
"Maaf," peluk Abi pada istrinya. Sedikit lama, nelepas segala rasa dalam hatinya yang tertahan.
Mereka berdua berdiri, meninggalkan buket bunga itu disana. Berjalan meninggalkan area makam, untuk segera pulang mengistirahatkan diri sejenak.
"Gimana rasanya, udah memperkenalkan istri sama mantan? Eh, bukan mantan sih."
"Masih sama. Aku belum menemukan sebuah kata lega. Namun, terasa lebih ringan."
"Ada lagi...."
"Apa?" tatap Abi.
"Tapi jangan marah?"
Nisa yang kini menggenggam tangan Abi. Sedikit pelan, karena tangan itu masih sedikit nyeri.
Tiba dirumah, Nisa langsung mengajak Abi ke kamar mereka.
"Hey, ngga ke kantor?" tanya Mama sofi, yang masih duduk santai di terasnya.
"Engga, Ma.... Ada urusan," balas Nisa, menyeret lengan Abi dengan agresif. Mama langsung melotot, dengan fikiran nya yang tercemar, lagi dan lagi.
"Masih siang, sayang....." gumam sang Mama.
__ADS_1
Nisa membuka pintu kamar. Membawa Abi duduk drngan manis, dan mengeluarkan sesuatu yang ada di lemarinya. Sebuah, yang dilapisi dengan kotak sepatu dibagian luar. Pantas saja, Mama Sofi tak menemukannya meski berusaha mencari dengan sekuat tenaga.
"Kapan, kamu menemukannya?" tanya Abi, langsung terdiam seketika.
"Udah lama, sih. Nisa gabut, jadi beresin kamarnya. Ngga marah?"
"Aku sudah janji, agar tak marah. Tapi...."
"Kenapa?"
"Tolong, jangan buang. Itu, kenanganku satu-satunya, bersama Rere. Aku tak punya lagi." pinta Abi. Dengan tangan gemetar, mengambil sebuah foto berisi segala kenangan bersama Rere. Bahkan, Dita dan Alex pun disana. "Tolong... Setidaknya, jangan sekarang."
"Iya, Nisa ngga akan buang sekarang. Nanti, jika Mas siap, maka Mas sendiri yang akan melakukannya."
Nisa mengembalikan kotak itu, pada tempatnya. Hanya kotak itu, karena beberapa yang lain, telah di bersihkan oleh Mama Sofi dan Dita. Niat merea mungkin baik, demi Abi agar segera lupa. Tapi tindakan mereka salah. Bahwa, semua hal itu bukan lah hal yang tepat jika harus dipaksa.
Nisa memilihkan baju santai untuk Abi. Ia hanya ingin, menghabiskan waktu siang, sore dan bahkan malam bersama suaminya. Meski saat dirumah, mereka tak hanya berdua. Ada Mama dan Bibik, yang selalu saja bisa merusak moment mereka.
"Mau kemana?"
"Ngga kemana-mana mau dirumah aja, ngabisin waktu bersama. Boleh 'kan?"
"Tak ingin kemanapun, yakin?"
"He'em..." angguk Nisa.
__ADS_1
"Padahal... Aku mau menuruti mau mu, menghabiskan waktu sore ini. Tapi....."
"Eh, mau. Mau, mau, mau. Ayok, kita jalan-jalan. Kencan kan?" Nisa mendongak kan kepalanya.