Nisa Untuk Abi

Nisa Untuk Abi
Ketika Feby bicara.


__ADS_3

Kegaduhan akhirnya berhenti, ketika pelayan mengantarkan makanan. Keduanya duduk dengan tenang, meski masih saling adu tatap dengan tajam.


"Wow!" Nisa kembali terkagum, ketika Abi memesankan makanan pavoritnya. Apalagi, ada kepiting saos padang disana.


"Kau suka kepiting?"


"Suka," angguk Nisa, dengan bahagia.


"Tapi, Nisa ngga pernah makan kepiting segede itu. Biasanya yang kecil-kecil. Gimana itu, buka nya?"


Abi langsung. Memakai sarung tangannya. Kemudian mengambil penjepit untuk memecah cangkang kepiting itu. Nisa langsung kegirangan, dan mencuci tangan untuk melahap menu yang tersedia untuknya itu. Sedangkan Abi, hanya memakan semangkuk sup yang Ia pesan.


"Mas ngga doyan?"


Abi menggeleng, "Makanlah," ucapnya. Nisa pun semakin menikmati semua hidangan yang ada.


"Pak Abi," sapa seorang rekan yang menghampirinya.


"Hey, Pak Thomas," sapa Abi, dengan ramah. Nisa hanya mengangguk dan tersenyum ikut menyapanya.


"Ini?"


"My Wife," jawab Abi.


"Oh, ini yang sering di ceritakan rekan kita?"

__ADS_1


"Cerita, tentang?" tanya Abi, hingga lupa mempersilahkan rekan nya untuk duduk bersama. "Ah, maaf. Mari, duduk."


"Terimakasih," ucap Pak Thomas. Sebenarnya, Ia bersama sang istri. Tapi sedang mampir ke kamar mandi.


"Rekan bercerita, mengenai istri Bapak. Mereka hanya bilang, jika Nyonya muda ini sosok yang menyenangkan. Ramah, dan selalu ceria. Ya, sangat beda dengan pak Abi." candanya. Abi hanya tersenyum tipis diujung bibirnya yang manis.


Nisa hanya tersenyum dengan pujian itu, dengan terus fokus pada makanannya. Rambutnya pun tampak mengganggu, hingga Abi harus mengikat nya dengan ikat rambut yang Ia kantongi.


" Kapan bawa itu?" tanya Nisa, ketika Abi mengikat asal rambutnya.


"Selalu ku bawa," jawab Abi. Pak Thomas tersenyum melihatnya.


"Baik, saya permisi dulu. Maaf, mengganggu makan siangnya,"


"Ah, iya, Pak. Tak apa," angguk Abi, ketika pria itu beranjak dari hadapannya.


***


"Abi!" rengeknya perih, dalam tangisan itu. Sayangnya, tak ada yang mampu meski hanya mengusap bahunya saat ini.


"Kenapa sesakit ini, rasanya? Aku kira, kau tak akan secepat itu bisa berubah untuk dia. Tapi kenapa? Aku sudah mengenal, dan menemanimu bahkan lebih dari Lima tahun, Bi. Bahkan sejak Rere masih bersama kita," isaknya. Air mata pun mengalir deras membasahi hingga meja yang menjadi tumpuan nya saat ini.


"Permisi, Bu Dita?" seorang karyawan mengetuk pintu. Dita pun segera mengusap air mata dan meminta nya masuk. Namun sayang, sembab itu tak dapat Ia tutupi lagi.


"Ada apa, Feb?"

__ADS_1


"Ini, ada beberapa laporan yang harus di cek. Besok, tinggal tanda tangan Bapak."


"Ah, baiklah. Sini," Dita mengulurkan tangannya.


"Ibu, nangis?" tanya Feby.


"Engga, hanya kelilipan."


"Ayo lah, Bu. Mana ada kelilipan sampai begitu? Ibu kelilipan cicak?" canda Feby. Tapi, Dita tak tertawa sepertinya. Justru Ia menatap gadis itu dengan tajam dan menakutkan.


"Maaf, Bu." ucap Feby, tak enak hati.


"Saya tahu, pasti Ibu sakit hati gara-gara Pak Abi 'kan?" imbuhnya.


"Jangan sok tahu, Kamu." tukas Dita.


"Engga sok, Bu. Tapi semua udah tahu itu. Dari cara Ibu tatap Nisa aja, ketahuan kalau Ibu kesel."


"Feby!"


"Bu, kalau ngga tahan, ya resign aja. Kami dukung, kok. Ngenes banget, Bu, lihatnya."


"Keluar, sekarang!" bentar Dita. Feby pun terbirit-birit, keluar dari ruangan itu.


Dita semakin kesal dan marah dibuatnya.

__ADS_1


***


😍😍Selmat malam minggu


__ADS_2