
"Apa yang aku punya? Satu-satunya hartaku, adalah motor ini. Tapi kalau dijual, gimana nasib selanjutnya? Kerja, ke Rumah sakit. Bolak balik naik angkot pun, justru akan nambah biaya." batin nya bergejolak, serasa beradu argumen dengan dua kepribadian dalam dirinya.
Sayangnya, Nisa berhenti di sebuah persimpangan jalan. Persimpangan yang Ia tahu, dimana tempat itu adalah tempat para wanita menjajakan dirinya. Air mata nya pun keluar secara tiba-tiba. Haruskah Ia melakukan itu? Ia menjual diri, dan hanya itu aset berharga miliknya
Tanpa sadar, Nisa pun masuk kedalam gang kotor itu. Menatap semua pemandangan yang begitu asing untuknya. Langkahnya masih kacau, ragu, tapi berusaha menyakinkan diri demi kesembuhan sang nenek.
"Hay, ngapain kamu masuk kesini? Salah alamat?" tanya seorang wanita bertubuh tambun, dengan gaun dan dandanan menornya. Berpakaian begitu ketat hingga dadaanya seolah ingin loncat dari sarang nya yang sempit.
Nisa turun dari motornya, dan menghampiri Nyonya itu dengan wajah yang begitu ragu.
" Kau, mau mencoba masuk? Kau butuh uang?"
"Iya," jawab Nisa, dengan bibirnya yang bergetar.
"Kau masih perawan? Jika iya, hargamu akan sedikit mahal. Untung kau cantik. Hanya perlu di poles, dan sedikit rombak dengan pakaianmu." jawabnya, memegang geli pakaian Nisa, yang menurutnya aneh.
__ADS_1
"Pa-pakaian?" Nisa memicingkan mata, spontan menatap di sekitar. Semua wanita memang berpakaian sangat minim, bahkan menyembulkan semua bagian intiim di tubuhnya.
"Ti-tidak," lirihnya.
"Serius apa engga? Kalau engga, mending keluar aja. Jangan coba-coba kesini lagi." tegur Nyonya tambun itu.
"Sa-saya....." tubuh Nisa panas dingin. Ia begitu bingung mengambil keputusan itu. Begitu sulit, ketika harus menjual kehormatannya.
"Sa-saya.... Saya, mau. Tapi."
"Ba-bapak, kenapa kemari?" tanya Nisa, begitu terkejut ketika rupanya Abi datang padanya.
"Aku menawarkan mu menikah, tapi kau malah memilih untuk menjual dirimu. Mau mu apa?" bentak Abi.
"Sa-saya..."
__ADS_1
"Hei, selesaikan masalah kalian diluar. Jangan kemari. Kalian mengganggu bisnisku." usir Nyonya tambun itu pada keduanya.
Abi lalu menyeret Nisa keluar dari gang haram itu. Membawanya masuk ke dalam mobil, dan menghempaskan tubuh kurus itu dengan sedikit kasar. Hingga Nisa terpekik karena ulahnya. Abi pun menyusul, duduk dikursi setirnya dan menjauh dari area gang itu. Tak perduli, motor Nisa yang masih disana.
"Aku menawarimu menikah, tapi kau malah memilih untuk menjual dirimu dengan cara itu? Apa mau mu sebenarnya?" gertak Abi.
Nisa hanya diam, tak mampu menjawab sepatah kata pun darinya. Hanya menangis, dan terus menunduk kan kepalanya.
"Sebegitu murahnya dirimu, hanya demi uang? Kurang banyak kah yang ku tawarkan padamu? Lima puluh juta, seratus, atau satu milyar? Katakan! Berapa harga untuk dirimu? Aku akan membayarnya."
"Cukup, Pak, CUKUP! Puas Bapak hina saya? Puas Bapak melecehkan harga diri saya?"
"Yang melecehkan harga dirimu, itu kamu sendiri." tatap Abi, pada Nisa. Tatapan itu begitu tajam, hingga menusuk sampai ke ulu hati Nisa.
Namun, tak dapat di pungkiri, jika yang diucapkan Abi memang benar. Ia sendiri lah, yang justru datang ketempat haram itu. Padahal Abi sudah memberi tawaran bagus untuknya. Yaitu, dengan menikah.
__ADS_1