
Tatapan tajam mengancam itu diberikan oleh Dita pada Nina. Wanita seksii itu pun langung melotot, dan ketakutan dengan ganas nya Dita. Ia langsing kembali ke tempat duduknya bersama sang Bos. Begitu tenang dan bahkan tak berkutik lagi.
Abi hanya menyunggingkan senyum diujung bibirnya. Andai Nisa ada, pasti akan lebih ramai dan lebih bar-bar dari itu, dalam fikirannya.
Rapat selesai. Abi menyandarkan tubuhnya di bahu kursi, memberi relaksasi sebentar. Apalagi, terasa linu di tangannya.
"Abi, kau tak apa?" tanya Dita, menghampiri.
"Tak apa, Ayo cari Nisa. Aku takut, dia jajan macam macam." ucap Abi, kemudian bangun dari sandarannya.. Berjalan berdua bersama Dita untuk mencari istrinya yang tak kunjung kembali.
*
"Ini, Mba... Boba vanilla latenya. Maaf, lama."
"Iya, makasih, Mas." ucap Nisa dengan ramah. Ia pun segera meletakkan Hpnya di meja, dan menikmati Boba yang Ia pesan. Apalagi, itu adalah rasa kesukaannya sejak dulu.
"Aah, segarnyaaaaa!" ucapnya dengan begitu bahagia. Mengunyah setiap butiran bola sagu yang kenyal dan nikmat itu.
Ya, begitu nikmat sepertinya. Hingga Ia tak sadar, ketika Abi menghampirinya.
"Nikmat?" tanya Abi, mengagetkan Nisa. Bahkan, nyaris saja tersedak oleh Boba yang Ia hisap dari pipetnya.
"Uhuuukkk! Uhuuukkkk!" Ia terbatuk, hingga air matanya keluar. Ia yang gugup, segera mengusapnya dan berdiri.
"Bagaimana? Nikmat sekali, bukan? Kau tak dengar kan kata-kataku?" tatap Abi, dingin. Mengalahkan dinginnya es batu yang ada dalam minuman itu. Yang bahkan, Nisa masih bisa mengunyah dan menelannya dengan begitu nikmat.
__ADS_1
"M-Mas, Nisa bisa jelasin. Ini, tak seperti yang Mas kira,"
"Kau seperti baru saja ketahuan selingkuh," cibir Dita, dibalas lirikan kesal Nisa.
"Diam Kau!" setidaknya, itu arti dari tatapan itu.
"Apa yang ingin kau jelaskan? Haus, dahaga, selera?"
"Enak,," ucap Nisa, dengan kembali menyeruput Bobanya, sembari sesekali menoleh pada suaminya.
"Tinggalkan...." ucap Abi, datar.
"Tanggung, masih banyak,," Nisa tampak begitu berat melepas minuman itu dari genggaman nya.
"Dita...."
"Tidaaak! Jangan! Bi-biar Nisa sendiri yang.... Yang akan membuangnya. Di tong sampah," ucapnya berat. Sangat-sangat berat.
Untungnya, tong sampah ada di dekat keduanya. Abi membukanya sendiri dengan pijakan kakinya, dan terus menatap Nisa dengan tajam.
"Satu.... Dua...."
Plukkk! Nisa melepas minuman itu masuk ke tong sampah. Rasanya teriris, apalagi Ia memang begitu jarang dapat menikmati uangnya untuk membeli jajan, atau apapun yang Ia sukai.
"Kejam," cebik Nisa, dengan begtitu kesal.
__ADS_1
Dita hanya tersenyum. Senyuman itu seperti senyuman dari seorang wanita jahat, yang bahagia melihat musuhnya menderita. Ia tampak sangat puas, ketika Nisa dimarahi Abi.
"Pak, pertemuan kita batas ini, untuk hari ini. Saya pamit, akan pulang dengan taxi menuju kantor." ucap Dita, sembari memberikan kunci mobil Bosnya itu.
"Baiklah... Sampai bertemu besok," ucap Abi.
Dita berlalu, meninggalkan keduanya yang masih di tempat itu. Sesekali menoleh kebelakang, melihat Nisa yang masih ada dalam omelan suaminya itu.
"Kenapa pesan itu?"
"Haus. Kan udah bilang, kalau haus."
"Ku bilang jangan es,"
"Ya, gimana? Masa kehausan, pesennya teh panas. Kan aneh,"
"Haus itu hanya perasaanmu saja. Karena kau yang sedang flu. Bisa jadi, kau akan semakin parah, nanti. Aku, tak mau kau sakit." tutur Abi.
Nisa menggigit bibir bawahnya melangkah mendekati suaminya. Ia meraih tangan kanan Abi dan menggandengnya dengan mesra, sembari memainkan jari lentiknya di lengan kekar itu.
" Mas, khawatir, sama Nisa? Mas sayang, ya, sama Nisa? " godanya.
" Kau bahagia, jika aku khawatir padamu?"
Nisa mendongakkan kepalanya, menatap Abi dan menganggukkan kepala.
__ADS_1
"Berhenti membuatku cemas," jawab Abi. Dan meski masih sangat datar, tapi membuat gadis itu begitu bahagia.
(Ya, masih gadis. Di toel aja belom🤣🤣)