
"Jangan macam-macam, turunlah. Sudah bagus aku mau mengantarmu pulang. Masuk, dan istirahat." Dita memberi perintah pada Nisa, dan wanita itu langsung menurutinya. Ia turun, dan berdiri di luar sampai Dita benar-benar pergi dari pandangan nya.
Nisa melangkah santai, memasuki rumahnya. Menyimpan semua makanan yang Ia bawa di dalam kulkas, hingga esok pagi dapat Ia panaskan untuk sarapan. Ia tak selera lagi makan malam. Hanya ingin segera istirahat, dan tidur pulas di kamarnya. Bahkan Abi pun belum tampak pulang dari kantornya.
"Untung sama Alex," gumamnya, menatap jam dinding yang ada dikamar itu. Hanya saja kepikiran, jika Abi pulang malam sendirian.
Sebuah baju tidur telah Ia pakai. Lingerie, tapi tak terlalu seksii. Nisa segera merebahkan dirintya di ranjang itu, meski belum terbiasa dengan ranjang beru mereka yang lebih besar dari biasanya.
***
Bruuug! Ditta melempar tas di ranjangnya. Menghela nafas sembari melepas beberapa acesoris yang Ia pakai. Rasanya ingin segera merebahkan diri, jika tak ingat harus membersihkan wajahnya dari alat make up yang lumayan tebal. Tapi, gerakan nya melambat kali ini. Ucapan Nisa, seolah mengganggu pikirannya.
"Haish, anak itu. Kenapa justru memintaku kembali? Bukan harusnya senang ketika aku pergi. Aneh," gerutunya, mengingat tingkah tengil. Nisa dengan permohonan nya barusan.
__ADS_1
Ingin rasanya Dita memberitahu Abi, akan penemuannya tadi. Tapi, Hp kembali Ia simpan dan memilih diam. Toh, Nisa juga tak mau jika Abi tahu semuanya. Ia hanya kembali berfikir, mengenai kedua sahabatnya yang tengah bentrok dengan waktu, dan memikirkan tanah yang tengah menjadi beban mereka saat ini.
"Eeeerrrrrggghhh!" geramnya, sampai tak dapat memejamkan matanya sendiri. "Udah resign, masih juga kepikiran."
Dita akhirnya bangun, dan kembali meraih Hpnya. Ia menghubungi salah satu makelar tanah, dan meminta padanya untuk mencarikan lokasi pengganti untuk perusahaan membangun apartemennya.
"Baik apak Tumran, terimakasih. Saya akan tunggu kabar selanjutnya."
"Siap, Bu Dita." jawab pria itu dengan ramah. Dita pun kembali mematikan Hp, dan kembali merebahkan dirinya dikasur yang empuk itu. Menutup tubuhnya dengan selimut yang hangat dan nyaman.
*
"Mas, udah pulang?" tanya Nisa, yang berbalik dan perlahan membuka matanya. Abi pun menyambutnya dengan senyum khasnya yang begitu indah. Sesekali mengecup pipi dan meraih bibir Nisa yang mungil.
__ADS_1
Cup... "Kenapa bangun?" tanya Abi, yang kembali mengusap wajah dan rambut Nisa.
"Kok malem banget? Nisa sempet cemas."
"Cemas, tapi tidurmu nyenyak." ledek Abi, mencolek hidung pesek itu dengan mengulurkan senyumnya.
"Capek.... Mas udah makan malam? Nisa siapin, ya?" tawarnya, berusaha bangun. Tapi, Abi menahannya agar tetap di tempat.
"Aku sudah makan. Dan maaf, Aku membawa Alex pulang kerumah, malam ini. Dia tidur di kamar bawah,"
Nisa hanya berdehem, dan mengangguk kan kepalanya. Matanya masih menyipit karena menahan kantuknya. Tapi, itu justru membuat Abi semakin gemas padanya. Bertubi-tubi Abi mengecup pipi Bapau itu, dan tak jarang menggigitnya dengan bibir seperti biasa.
"Masss," rengek Nisa padanya. Bukan nya membuat Abi berhenti dengan tingkahnya, tapi Abi malah semakin menjadi-jadi. Kecupan turun ke ceruk leher Nisa, dan bahkan meninggalkan tanda kegemasan disana.
__ADS_1
Bukan mengantuk lagi, Nisa justru membulatkan matanya untuk membalas semua perlakuan suaminya itu. Terkekeh, dan saling serang, bagai anak kecil yang sedang main perang-perangan. Tapi perang mereka diatas ranjang, yang tanpa sadar mereka telah melemparkan pakaian masing-masing di sembarang tempat.
Agak panas sepertinya untuk malam ini. Rasanya seperti mereka bebas mengekspresi kan semua rasa dan gairaah yang mereka rasakan, tanpa takut ada yang mendengarnya. Dunia milik mereka berdua. Peluh pun telah membanjiri tubuh, hingga tak terasa mereka telah lunglai bersama berpelukan hingga pagi menjelang.