Nisa Untuk Abi

Nisa Untuk Abi
Nisa berhak marah 'kan?


__ADS_3

"Iya, yang paling serasi. Paling cocok, bahkan paling tak dapat terpisahkan. Paling setia menemani dari titik Nol. Siapa sih, Nisa? Gadis kampung yang bahkan diajak makan mewah aja ngga bisa." gerutu Nisa, dengan segala emosi yang menyeruak di dalam hatinya.


Ia telah tiba di mobil, dan segera membuka pintunya. Namun sayang, Abi memcengkram tangan nya dengan kuat.


" Mau kemana?"


" Pulang... Ngapain disini? Ngga dianggap ada. Emang Nisa hantu? Terusin aja sana, dansanya."


"Jangan main-main. Kau tak boleh pulang sendirian...." tatap Abi, tajam.


"Kenapa? Nisa bisa nyetir. Nisa biasa bawa pick up yang biasa order sayuran ke pasar. Sama aja, apa bedanya?"


"Jangan membantahku, Nisa!" bentak Abi. Dengan mata terpejam menunduk, dan nafas nya naik turun. Tampak rahangnya menegang, dengan otot yang menonjol keluar.


Nisa pun menghela nafasnya. Ia menatap Abi yang masih tertunduk. Dalam hatinya pun bertanya, kenapa Abi tertunduk ketika membentaknya.


"Nisa berhak marah 'kan? Mereka ngga menghormati Nisa disana. Istrinya di sebelah, tapi diseret berdansa dengan yang lain."

__ADS_1


"Tapi aku sudah izin padamu, dan kau membiarkannya..." jawab Abi, yang kembali berusaha menahan emosinya.


"Nisa emosi sama mereka. Bukan sama Mas. Udahlah, biarin Nisa pulang sendiri. Nanti Mas sama Pak alex, pulang bareng sama Bu Dita. Nisa ngga papa, Nisa cuma capek. Mau apa Nisa disana?"


Nisa memang tampak begitu lelah. Ia pun tampak begitu marah, namun merasa bukan ranahnya disana. Tak ada yang memandangnya disana, meski Ia istri Abi. Apa karena statusnya? Atau memang telah terdokrin dengan Abi dan Dita selama ini. Si couple paling serasi menurut mereka, dan tak akan pernah terpisahkan oleh apapun..


"Mas balik aja... Nisa tunggu dirumah," ucapnya dengan berat.


Nisa membuka pintu mobil, masuk lalu duduk dengan posisi yang tepat. Ia pun meraih handle pintu , dengan sedikit rasa emosi dari dalam hatinya. Namun, pintu serasa terganjal dan tak dapat tertutup. Ia terbelalak, ketika ternyata  Abi mengganjal pintu itu dengan telapak tangannya.


"Abi!" pekik Dita dan Alex bersamaan. Dan mereka pun menghampirinya disana.


"Mas... Mas kenapa begini? Kenapa menggunakan tangan mengganjal pintu? Apakah sakit? Pastinya sakit banget, memar gini." tanya dan jawabnya sendiri dengan begitu cemas. Sementara, Abi diam seribu bahasa dengan terus menatapnya.


"Abi, kau tak apa? Aku melihatnya dengan jelas." tanya Alex.


"Apa yang kau lihat?" tanya Abi, dengan begitu datar. Seolah tak merasa sakit sama sekali.

__ADS_1


"Kamu, Nisa. Kamu ngga pernah bisa hati-hati dalam bertindak? Kenapa bisa, sampai Abi kejepit pintu? Lain kali jangan gegabah lah. Seperti anak kecil, kamu ini!" omel Dita. Ia pun membalut tangan Abi dengan selendang yang Ia pakai.


"Anak kecil itu istriku..." jawab Abi, dingin.


"Abi! Dia bahkan sudah menyakiti kamu. Sadar ngga sih?"


"Aku yang memasang tangan ku disana. Agar dia tak pergi," Abi meraih selendang itu, dan meneruskan sendiri untuk membalut tangannya.


Dita hanya mencebik dengan begitu kesal. Memijat kepalanya yang menyimpan segala rasa emosi, bahkan sudah sampai ke ubun-ubun.


" Mas, kita ke dokter. Nisa takut, luka dalamnya parah."


"Biar aku antar," tawar Alex.


Abi tak mengangguk. Hanya mengedipkan matanya untuk berkata Iya. Nisa pun meraih nya, dan membawanya masuk ke dalam mobil mereka kembali.


"Kenapa ngga teriak? Ini sakit banget loh. Terlalu kuat, atau terbiasa menahan sakit?" gumam Nisa dalam hati. Mengusap tangan kiri yang berbalut selendang itu.

__ADS_1


"Maaf," sesal Nisa begitu dalam.


__ADS_2