
"Kenapa memintaku menghentikan? Ya, dia istrimu. Harusnya dia lebih siaga dariku dan Alex. Bukan malah pura-pura bodoh begini."
"Dita!"
"Kau berani membentak aku?" tatap Dita pada Abi, dan berjalan mendekatinya.
"Ini, minumlah supaya kau tenang..." Dita memberikan sebutir obat lagi pada Abi. Dan Ia menyiapkan air putihnya.
Abi menatap pada Nisa. Namun, Nisa justru melarang Abi meminum obatnya. Nisa menggelengkan kepalanya, berucap kata jangan tanpa suara.. Abi langsung meletakkan obatnya kembali.
"Kenapa?" tanya Dita.
"Aku sudah... Merasa tenang," timpal Abi, yang hanya meraih air putihnya saja.
Dita pun melirik ke arah Nisa, dan Nisa membuang muka dari nya. Berpura-pura tengah menikmati sebuah lukisan di tembok sebelah kirinya.
"Kau hanya tenang sementara. Nanti akan kambuh lagi, Bi. Bagaimana jika lebih parah?"
"Bukan kah, selalu begitu? Apakah aku harus meminumnya seumur hidup?"
"Dan apa kau tak akan pernah melupakannya seumur hidupmu? Ayo lah, Bi. Lupakan! Itu jalan agar kau bisa sembuh dari semuanya. Lupakan semua trauma itu. Lupakan Dia..."
"Dita, stop. Kau sudah terlalu banyak bicara. Keluarlah," pinta Abi padanya. "Andai aku bisa melupakan. Pastinya tak akan selama ini, aku tersiksa. Kau tahu, bahkan segala cara aku lakukan."
__ADS_1
Dita diam. Ia lalu melangkahkann kakinya keluar tanpa mengucapkan sepatah kata pun. Bahkan, menutup pintu ruangan itu dengan sedikit kasar. Nisa menatapnya dengan tersenyum, entah apa yang Ia fikirkan.
" Kenapa?" lirik Abi padanya.
" Eng-engga, ngga papa. Nisa ngga papa. Mas, sibuk?" tanya Nisa, menggoyang-goyangkan kakinya.
"Seperti yang kau lihat," jawab Abi, yang kembali fokus pada layar laptopnya.
Nisa gabut. Menunggu Abi yang begitu teramat fokus pada pekerjaannya. Ia begitu cepat berubah, dari layu hingga kembali menjadi kanelbo kering seperti saat ini. Ia bahkan tak perduli, ketika Nisa berguling-guling di sofa dan tertawa sendiri menatap Hpnya.
"Mas, bosen..." keluh Nisa, terkapar dengan kepala dan tangan nyaris jatuh ke kebawah.
"Mau apa?" tanya Abi tanpa menoleh sama sekali.
"Pergi saja ke kantin. Disana banyak makanan,"
"Kan, bener?" gerutunya dalam hati.
"Menggerutu lagi?"
"Engga... Siapa yang menggerutu? Orang, daritadi mengangin perut yang kelaperan." timpal Nisa. Memasang wajah melasnya, berusaha membuat sang suami Iba padanya.
"Mass...." Nisa mengedip-ngedipkan matanya, penuh permohonan.
__ADS_1
"Aku hanya punya waktu setengah jam. Setelah itu kau pulang dengan taxi. Akan ku pesankan," ucap Abi, sembari menutup laptopnya.
Nisa tampak kegirangan. Beberpa kali bertepuk tangan, lalu berdiri menyambut kedatangan Abi padanya. Ia langsung merangkul lengan suaminya dan keluar dari ruangan itu berdua. Tak perduli dengan pandangan yang lain. Karena seperti kata Abi, Ia adalah istri sahnya.
Apalagi, kejadian tadi seperti menyakinkan Nisa, bahwa Abi memang membutuhkannya. Apalagi, jika datang di saat yang tepat. Meski Ia sendiri, belum faham apa akar masalahnya.
"Ngga papa kalau belum cinta. Butuh aja dulu"," tawa Nisa dalam hati.
" Kenapa? "
" Eng-engga papa," gandeng Nisa pada suaminya.
Mereka berjalan menyusuri setiap lorong yang ada. Hingga mereka tiba di kantin yang ada bagian ujung kantor itu. Tak pelak, keduanya menjadi pusat perhatian dari semua orang yang ada disana.
"Lusa, ada undangan pesta."
"Terus?"
"Kau ikut..."
"Nisa belum punya baju pesta,"
"Dita yang carikan. Kau tinggal duduk dan tunggu dirumah. Akan ku pinta Mama mengajakmu perawatan, di sela waktu yang ada." ucap Abi, dengan fokusnya menikmati makan siang di mejanya.
__ADS_1
"Iya...." jawab Nisa, yang lagi-lagi hanya bisa mengangguk dengan perintah suaminya.