Nisa Untuk Abi

Nisa Untuk Abi
Terasa begitu nyata


__ADS_3

Malam semakin larut. Keduanya tidur ditempat masing-masing dengan pembatas yang ada. Meski tanpa sadar, Nisa meraih bantal guling itu dan memeluknya dengan erat. Apalagi dengan hawa dingin dari ac yang ada disana.


Sedangkan Abi begitu tenang. Terlentang dengan kedua tangan sejajar dengan kepalanya. Tak ada gelisah sama sekali, hingga sesuatu terasa mendekati.


Kali ini, bayangan itu datang dari atas. Melayang tepat menuju keatas tubuh Abi, dengan rambutnya yang terurai panjang. Makin lama makin dekat, hingga kini seolah mereka bertatapan tanpa jarak. Namun, Abi tak membuka matanya.


Nafas Abi mulai naik turun, tersengal dan sulit di kendalikan. Terasa, ketika rambut panjang itu mengenai sedikit wajah Abi dan membuatnya semakin ketakutan. Tubuhnya serasa membeku, tak mampu bergerak sama sekali meski hanya ingin menyingkirkan helaian rambut itu dari wajahnya.


"Abi, kau telah melupakan janjimu, Abi. Kau tahu? Sangat sakit dan perih rasanya. Kau tega, Bi...."


"Tidak, Re. Tidak... Aku hanya... Aku tak melakukan apapun."


"Dia ada di sebelahmu, Bi. Harusnya itu aku." Ia menangis. Air matanya terasa seperti nyata, menetes ke wajah Abi. "Jahat kamu, Bi... Jahat!"


"Tidak, Rere... Tidaaaak!" pekik Abi, dengan nafas semakin tak beraturan. Bahkan keringat dingin di sekujur wajahnya. Berteriak dan seketika membangunkan Nisa yang terlelap disebalahnya. Nisa beringsut dan langsung meraih tubuh Abi, berusaha segera menyadarkan suaminya dari segala mimpi buruk yang ada.


"Mas? Mas kenapa, Mas? Bangun, Mas." Nisa mengguncang-guncangkan tubuh Abi. Namun, begitu sulit rasanya, karena Abi seolah tengah terjebak di alam bawah sadarnya yang menyakitkan.


"Re, jangan seperti itu, Re. Aku mohon. Aku tak akan pernah bisa melupakanmu, Re. Rere!"

__ADS_1


"Mas!" Nisa mau tak mau memberi sedikit syok terapi. Memukul bahu Abi hingga Abi tersentak dan membuka matanya.


"Aaaakh!" pekiknya, dengan spontan membuka mata dan mengusap bagian yang sakit.


"Aku kenapa?" tanya Abi. "Mimpi buruk lagi?"


"Buruk banget kayaknya. Mimpi apa sih?"


"Engga... Ngga papa," jawan Abi, menyeka air matanya yang sempat jatuh tadi.


Abi masih tampak cemas. Menoleh kekanan dan kekiri kamarnya. Kadang merasa sudah tak nyaman, tapi percuma ketika Ia memutuskan pindah.


"Nisa, aku minta obatku." pinta Abi, dengan mengulurkan tangannya.


"Mas, kamu ketergantungan. Itu bahaya buat...."


"Nisa, jangan banyak bicara. Aku butuh obat itu sekarang, Sa. Bahkan, Lima tahun aku sudah bersamanya."


"I-iya," jawab Nisa, yan akhirnya mengalah. Ia pun meraih nakas, dan mengambilkan sebutir obat untuk Abi dan Abi segera meminumnya dan menghela nafas dengan begitu lega..

__ADS_1


"Mas?"


"Hmm?"


"Mas kenapa, sebenarnya? Kenapa hampir setiap malam seperti ini?"


"Tidak hanya setiap malam. Tapi, ada beberapa moment tertentu yang membuat aku begini."


"Mas, cerita kalau ada masalah. Nisa sekarang...."


"Berulang kali bercerita, berulang kali juga aku membuka semua luka itu. Aku berusaha ikhlas, tapi aku tak pernah bisa lupa. Dan sekarang, aku harus apa?"


Nisa beranjak dari tempatnya. Meraih bahu Abi, dan sedikit memutarnya agar membelakangi dirinya.


"Kau, mau apa?" tanya Abi yang sedikit menoleh.


Nisa hanya tersenyum tanpa menjawab. Ia meraih tangan Abi, menyilangkan kedua tangan itu dan meletakkan telapak tangannya di pundak Abi. MenepukĀ  nepuknya beberapa kali dengan begitu lembut, membuat Abi sekejap memejamkan mata dan menghela nafasnya.


"Gimana, Tenang? Ini namanya Buterfly hug. Bisa menenangkan, ketika dilanda kecemasan." terang Nisa.

__ADS_1


__ADS_2