
Abi membantu Nisa untuk mengganti posisinya duduk. Meski Nisa masih memakai selang Oksigen, tapi lebih santai karena hanya selang kecil di antara dua lubang hidungnya. Dan meski malu karena wajahnya yang membengkak, Nisa berusaha menjelaskan semuanya.
"Bu Dita memang kerumah, sebelum Nisa makan itu. Dan kata kurirnya, Bu Dita yang antar makanan itu."
"Lantas kau percaya? Kau ceroboh, Nisa."
"Bukan ceroboh! Siapa yang ngga seneng, baru ketemu dikasih makanan." tukas Nisa. Wajah Dita pun tampak terkejut dengan apa yang diucapkan wanita itu padanya. Sangat konyol, ketika Nisa bahkan begitu senang ketika bertemu dengan nya barusan.
"Konyol," cebik Dita.
"Katakan lagi, Sayang..." pinta Abi, yang mengikat rambut Nisa ke belakang agar rapi.
"Bu Dita tahu, Nisa alergi daging. Makanya Nisa ngga curiga. Tapi, Nisa penasaran, siapa yang antar makanan pakai nama Bu Dita. Mas?" genggam Nisa pada kemeja panjang Abi.
"Kenapa kau kerumah?" Abi yang kini melempar pertanyaan pada Dita.
__ADS_1
"Nisa bilang kau cari tanah. Aku menghubungi Pak Dom, dan Dia memberikannya. Ku lihat sesuai, dan aku membelinya untuk mu. Kau harus ganti uangnya," balas Dita sinis. Melipat kedua tangan di dadanya dan duduk bersandar di bahu sofa.
Kedua sohib itu lantas tercengang, dengan segala penuturan dari Dita. Tak di sangka, meski Dita sudah terlanjur kesal tapi Ia masih begitu memberi perhatian pada mereka. Apalagi pada Abi.
"Aku malas, istrimu terus saja menghubungiku. Membuat hari-hari cuti ku yang tenang, menjadi begitu berisik hanya karenanya. Kepalaku ingin pecah rasanya."
Alex menahan tawanya seketika, mengundang respon kesal pada dita yang ada di sampingnya. Tapi, bukan nya berhenti, Alex justru semakin tak bisa menahan tawanya. Ia terbahak-bahak menepuk pahanya sendiri. Tak perduli dengan Dita yang semakin begitu benci menatapnya.
"Permisi, Bu Nisa?" seorang suster masuk untuk kembali memeriksanya.
"Ya, sus... Bagaimana?"
"Karena hari sudah malam, jadi Ibu harus menginap dulu. Kata dokter, besok boleh pulang." imbuhnya. Ia pun memeriksa tanda tanda vital Nisa, untuk memastikan jika Ia baik-baik saja. Ia kemudian membereskan alatnya dan pamit setelah semuanya selesai.
Abi diam, dan membuka penutup salepnya. Ia mulai bergerak mengoles salep itu di wajah Nisa secara berkala, persis yang suster katakan padanya. Nisa pun menikmatinya, karena selepnya terasa dingin dan lembut di wajah kenyal itu.
__ADS_1
"Mas ngga pulang, mandi? Baunya asem," keluh Nisa. Seketika Abi pun menciumi ketiaknya sendiri.
"Tidak... Aku tak akan kemanapun. Biar Alex yang mengambilkan pakaian untuk ku. Sekaligus mengantar Dita."
"Hah?" kaget Alex, mengerenyitkan dahinya.
"Ya, kau. Pulanglah, dan ambilkan pakaian untuk ku."
"Haish, lagi-lagi aku." keluh Alex. Sedangkan dita yang tanpa bergeming sedikitpun, langsung berdiri dan memakai tasnya berjalan meninggalkan Alex.
"Hey! Sopan kan begitu?"
"Aku bisa naik taxi, jika kau tak mau mengantarku." balas Dita, membuka pintu itu lantas keluar meninggalkan Alex yang masih di dalam.
"Shiiit, dasar wanita!" geram Alex, meraih kunci mobil dan berlari dengan cepat mengejarnya.
__ADS_1
Sepeninggal Kedua sahabatnya itu, Abi kembali duduk dan menghadap Nisa. Ia merapikan wanitanya yang tampak begitu kusut saat ini. Ia tak ingin ada cacat sedikit pun padanya.
" Akan ku cari tahu siapa Dia. Dan tak akan pernah ku lepaskan." gumamnya, bermata datar dan tatapannya yang begitu tajam. Nisa sudah terbiasa, meski ngeri dengan apa yang akan Abi lakukan pada orang itu ketika Ia menemukannya.