Nisa Untuk Abi

Nisa Untuk Abi
Tulusnya Nisa


__ADS_3

Abi telah membersihkan dan merapikan dirinya sendiri. Meski dalam beberapa bulan, Ia selalu terlayan oleh Nisa. Tapi Nisa membenahi isi kopernya dengan begitu baik..


"Sudah siap?" tanya Abi, dengan memasang dasinya di depan kaca.


"Siap... Semua berkas telah ku siapkan. Termasuk denah lokasi yang kau minta,"


"Baiklah," jawab Abi. Ia tampak kesulitan di bagian pemasangan dasi. Karena jika bukan Nisa, atau Mama. Pasti ada Dita yang membereskan nya.


"Sini," ucap Alex, spontan menghampiri dan membantunya.


"Jangan sok bisa, nanti berantakan."


"Hey, aku sudah sekian tahun melakukan itu sendiri," sergah Alex, yang dengan terampil melakukan pekerjaannya.


"Aaakh!" pekik Abi, nyaris tercekik.


"Oh, maaf." Alex spontan meniup leher Abi. "Aku tak sengaja," timpalnya.


Braaakkk! Sebuah barang jatuh ke lantai. Keduanya dengan kompak menoleh ke arah suara.


"Boby?" Alex melotot, melihat Asistennya.


"Ehm, maaf... Saya ngga ketok pintu dulu," Bobi langsung meraih berkasnya di lantai.

__ADS_1


"Ini, tak seperti yang kamu fikirkan." timpal Abi, tanpa menoleh dengan wajah super datarnya. Tanpa ekspresi sama sekali, melanjutkan pekerjaan Alex.


"Iya, maaf," angguk Bobi, yang datang untuk memberitahukan persiapan pertemuan.


"Saya akan kesana,"


"Baik, Pak Abi." Bobi pun pergi dari keduanya.


Alex tampak mengenakan jas nya, di susul Abi yang berada di sampingnya. Lalu keduanya berjalan keluar bersama, menuju tempat pertemuan. Pak Jay sudah menunggu disana.


"Jangan emosi. Orang seperti itu tak dapat di lawan dengan emosi," pinta Alex. Meski Ia sendiri sebenarnya tengah emosi dengan semua itu.


"Hmmmm," balas Abi yang tetap berjalan tegap di depan Alex.


***


"Nisa mau kemana? Rapi bener."


"Ke Rumah sakit, jenguk Nenek." jawabnya, dengan memakai sepatu kets kesayangannya.


"Sendiri?"


"Mama mau ikut? Mama kan belum pernah lihat Neneknya Nisa." tawarnya.

__ADS_1


"Baiklah, tunggu sebentar, ya?" Mama sofi berjalan ke kamarnya, mempersiapkan dirinya secara singkat. Lalu keluar menghampiri sang menantu.


Dalam perjalanan yang lumayan panjang, keakraban pun kembali terjalin antara keduanya. Apalagi ketika Nisa menceritakan masa kecilnya yang bar-bar.


"Tahu ngga Ma? Nisa kecilnya itu bae-bar banget. Suka mandi di kali, terus ketika pulang, tahu-tahu Nenek udah nyegat di ujung gang bawa sabetan."


"Astaga, kamu begitu?" takjub Mama. Sofi, meski memang begitu adanya yang Ia lihat.


"Iya," angguk Nisa. "Udah puas lah, kalau cuma di gebuk, di jewer, di tendang. Emang, Nenek keras banget orangnya."


"Tapi, kamu sayang? Bahkan kamu mengurusnya hingga saat ini. Rela menikah dengan Abi, demi Nenek kan?" tatapan Mama sofi berubah, menjadi lebih simpati pada nya.


"Ya... Biar bagaimanapun, cuma Nenek yang Nisa punya." Nisa tampak perih kali ini. Mama sofi menguatkan, dengan menggenggam tangan nya erat.


Tiba di Rumah sakit. Nisa memarkirkan mobil dan segera menggandeng Mama nya masuk, terutama ke ruangan Sang Nenek.


"Hay, Mba Nisa," sapa perawat dengan ramah.


"Hay, Sus. Kak Adhim, mana?"


"Sedang ada pertemuan. Tunggu saja,"


"Baiklah," angguk Nisa.

__ADS_1


Mama sofi tampak berkaca-kaca, melihat sosok yang terbaring lemah di ranjangnya. Wajah tua nan lemah, dengan tangan keriput yang tengah Nisa genggam dan Nisa kecup dengan segala rasa cintanya.


"Bahkan, orang yang sudah begitu keras denganmu saja, masih bisa kami perlakukan sebaik ini, sayang. Beruntungnya, Mama dan Abi memiliki kamu. Tolong, jangan pernah pergi, apapun alasannya," harapan Mama Sofi begitu besar, pada wanita berhati malaikat itu.


__ADS_2