Nisa Untuk Abi

Nisa Untuk Abi
Aku akan menemani Nisa


__ADS_3

"Bi, bagaimana?" Dita mengagetkan.


"Aku disini. Akan ku tuggu Nisa, hingga bisa. Seperti nya, kau akan kesulitan, nanti." balas Abi.


"Aah, akhirnya," Nisa menghela nafas lega. Baru saja Ia merasa seperti menahan buang angin, namun begitu sulit untuk Ia keluarkan.


"Hmm, baiklah," jawab Dita, yang tampak tak puas dengan keputusan itu. Ia berharap, setidaknya Abi meninggalkan mereka untuk bicara. "Apa begitu sulit, meninggalkan dia, Bi?"


Nisa pun pamit, mengganti pakaiannya lagi. Meninggalkan Dita dan Abi, yang sepertinya mengobrol lewat telpati tatapan mata masing-masing.


"Aku ngga tahu masalah mereka, masa lalu mereka, apa isi hati mereka. Tapi, kalau Bu Dita cinta Pak Abi, kenapa Pak Abi ngga nikahin Mba Dita aja? Kenapa malah aku?" racaunya, sembari membuka gaun itu, satu persatu.


Nisa keluar kembali, menghampiri Abi dan Dita yang duduk bersama di sofa yang tersedia. Abi diam, dengan terus menatap layar Hpnya. Sementara Dita, menikmati cemilan yang tersedia. Tampak, ketika Ia beberapa kali mencoba menyuapi Abi, tapi pria itu menolaknya.


"Ish, cari perhatian." kesal Nisa dari kejauhan. Ia pun berjalan dengan tempo cepat, dan menghampiri keduanya di tempat itu.

__ADS_1


"Mas, udah." ucapnya datar.


Abi hanya menoleh kan tatapannya pada Dita tanpa mengucapkan sepatah katapun. Dan Dita, sangat memahami apa yang diperintahkan Abi lewat telepatinya.


Dita pun berdiri, mengambil sebuah tongkat dan membawanya pada Nisa.


"Ayo," ajak Dita, menuju tepat ke depan sebuah kaca besar yang ada disana.


"Itu, buat apa?" tanya Nisa, tampak canggung.


Dita tak membalasnya. Ia hanya membalik tubuh Nisa untuk membelakanginya. Meraih lengan Nisa agar keduanya menekuk kebelakang, dan membuat sebuah ruang yang sejajar di kedua sisinya. Ia pun menyelipkan tongkat itu disana, membuat postur tubuh Nisa seketika tegap dan sedikit melentik.


"Jalan," Dita menggelengkan satu  kepalanya, mengode pada Nisa.


Gadis itu menurut. Berjalan dengan tongkat masih tersalip di kedua lengannya. Dita memang serius, mengajari bak tengah melatih untuk menjadi seorang model yang profesional. Perlahan, meski Nisa tertatih dan nyaris jatuh. Tapi, Ia begitu gembira ketika dapat melakukan nya dengan baik.

__ADS_1


"Pakai ini,"  Dita memberikan sebuah heels, agar Nisa segera menggantinya.


Kaki nya keram, bahkan terasa lecet dengan semua latihan itu. Tapi, Dita mendidiknya dengan keras.


"Kamu, setelah menikah akan ikut dengan Abi, kemanapun dia pergi. Pertemuan, pesta, rapat, atau yang lainnya. Disana semua adalah kalangan elite. Langkah kaki yang anggun, table manner yang baik, busana yang rapi. Semua akan mereka nilai. Apalagi, kamu sebagai istri... Abizar," ucap Dita, sedikit terputus di bagian akhir.


Nisa meringis kesakitan, ketika merasa semakin perih. Mendesis, dan merintih di sela latihannya.


" Ayo pulang, " ajak Abi, yang langsung datang menarik lengan Nisa.


" Bentar, Nisa belum lancar. Nanti ngga bisa sesuai maunya mereka. Nanti, Mas yang jadi omongan orang," tolak Nisa, berusaha terus berjalan meski tertatih.


"Nisa, udah Nisa." pinta Abi. Namun, Nisa masih kekeuh berjalan menghampiri kaca besar itu.


Abi dengan diam, berjalan cepat menghampiri Nisa. Membalik tubuh gadis itu, dan langsung bersimpuh untuk membuka heelsnya. Abi pun meletakkan sendalnya di sembarang tempat, dan berdiri kembali menatap Nisa dengan tatapan tajam nya.

__ADS_1


"Jika sakit, katakan sakit. Untuk apa bertahan jika itu menyakitimu?"


"Demi... Ehm, demi... Demi Mas Abi," jawab Nisa, dengan menggigit bibir bawahnya.


__ADS_2