Nisa Untuk Abi

Nisa Untuk Abi
Mana yang sakit?


__ADS_3

"Nisa, sayang... Ini pembaluutnya," Mama sofi datang dan masuk ke kamar itu. Meski tak mengetuk pintu, mereka juga tak sedang melakukan apapun..


"Mana, Ma?" Abi berdiri, namun Nisa menahannya.


"Biar Nisa aja. Malu, sama Mas." ucapnya, tertunduk. Nisa pun berdiri, sembari sesekali meringis kesakitan.


"Udah, ngga papa. Dia lagi sensi. Biasa, lagi datang bulan."


"Iya, Ma. Terimakasih," ucap Abi.


Mama sofi pergi, untuk menyiapkan makan malam yang tertunda.


Abi menunggunya, duduk dengan membuka laptop bersandar di tepi ranjang. Menunggu beberapa menit, Nisa tak kunjung keluar dari kamar mandi. Hingga Ia bangkit dan menghampiri sang istri.


"Nisa, kenapa lama?"


"Ya, Mas? Bentar lagi," pekiknya dari dalam.


Nisa membuka pintu. Wajahnya pun lesu bersandar menatap Abi yang menunggunya. Rasa sakit begitu tampak dari wajah dan bibirnya yang pucat.


"Bagaimana?" tanya Abi.


"Mau tiduran aja. Males kemana-mana,"


"Kau belum makan..."

__ADS_1


"Ngga selera... Mas pergi aja ke bawah, Nisa mau tidur." jalannya tertatih, memegangi perut hingga akhirnya merebahkan diri ke tempat tidurnya. Abi dengan sigap meraih selimut, dan menutup tubuh istrinya agar hangat


"Nanti ku bawakan makan malam,"


"Iya," jawab Nisa, lemah. Abi pun keluar, berjalan turun menghampiri sang Ibu yang telah menunggunya dibawah.


"Nisa, mana?"


"Katanya, sangat sakit. Dia, berbaring di kamar."


"Loh, dipaksa dong, sayang. Itu lagi begitu, butuh banyak makanan sehat dan tenaga. Bibik lagi parutin kunyit, buat dia minum." ucap Mama sofi, begitu perhatian pada menantu kesayangannya itu.


"Kunyit?"


"Ah, iya...." angguk Abi.


Ia segera melahap makan malamnya. Tak lupa, setelah itu mengambilkan makan malam untuk sang istri. Ia pun berusaha membawanya ke atas. Ya, tangan nya masih sakit, hingga sulit untuk menopang piring hanya dengan satu tangan kanan saja. Tapi, Ia berusaha agar sampai dan mendarat dengan selamat ke kamar.


"Kau tidur?" Abi meletakkan piring di nakas.


"Ngga bisa tidur, sakit..."


"Makan dulu, nanti magh mu kambuh."


Sebenarnya malas, karena Nisa memilih berbaring dengan tenang. Namun, karena Abi yang meminta. Apalagi, senang rasanya mendapat perhatian dari suaminya. Tampaknya sangat tulus dan menyenangkan.

__ADS_1


"Panas," rengek Nisa, seolah sengaja memanfaatkan situasi yang ada. Abu seketika meniup makanan itu, dan menyuapkan kembali setelah dingin.


"Bik Nik, membuatkan mu air kunyit. Kau mau?"


"Mau," angguk Nisa. Ia pun sering membuat itu, ketika masih di kampung nya.


"Sebentar lagi, Bibik antar kemari." jawab Abi.


Nisa menghentikan makan malamnya. Perutnya serasa penuh akibat rasa sakit yang ada. Tak perduli, meski Abi terus membujuknya beberapa kali.


"Mba Nisa, ini minumnya..." Bik Nik datang, dan membereskan bekas makan yang ada.


Nisa menerima gelas nya, lalu meminum air kunyit asam itu dengan lahap.


"Udah," Nisa memberikan nya pada Abi. Padahal, Bibik ada disana dan menunggunya.


"Permisi," Bik Nik pun pamit meninggalkan keduanya.


"Mana yang sakit?" tanya Abi. Nisa hanya menunjuk perutnya, yang memang masih sangat nyeri. Rasanya seperti ingin melahirnya dengan segala proses pembukaannya.


Abi membenarkan posisi Nisa. Tidur dengan posisi miring meringkuk, menghadapnya. Ia pun tak pergi, tidur disana di kursinya dengan terus mengusap perut Nisa yang sakit.


Nisa sebenarnya belum tidur. Ia membuka sedikit matanya, menatap suami manisnya yang sudah terlelap dengan tangan masih di perutnya. Ia tersenyum, mengusap rambut yang sedikit panjang dan berponi itu. Sesekali turun, untuk mengusap alisnya yang tebal.


"Apa aku salah, jika aku mengharapkan lebih. Ya, benar. Rasa sayang itu, akan tumbuh seiring berjalannya waktu. Meski, aku masih bertanya-tanya tentang masa lalu perihmu. Dan alasan, kenapa kau memilihku..." ucap Nisa dalam hati..

__ADS_1


__ADS_2