
"Pagi, Pak Abi..."
"Pagi," balas Abi, dengan sekaliĀ mengedipkan matanya. Semua karyawan sudah terbiasa, hingga hanya memberikan anggukan untuk penghormatan padanya.
"Selamat pagi, Pak Abi. Saya akan bacakan susunan kegiatan Bapak hari ini, " sambut Dita, yang mulai masuk kembali untuk bekerja meski wajahnya masih tampak pucat.
Keduanya masuk ke ruangan Abi, dan mulai menyusun acara sesuai jadwal hari ini. Dita pun menerangkan, sembari terus melayani Abi dengan segala keperluannya. Menyiapkan laptop, minuman, dan membuka beberapa file yang telah di persiapkan Manda sejak pagi tadi.
Beberapa pertemuan bisnis di beberapa Restaurant dengan klien masing-masing. Dan penandatanganan kontrak sesuai perjanjian.
"Oh iya, besok ada undangan pesta. Ehmm, ulang tahun pernikahan Direktur Woro group." ucap Dita, dengan ulasan terakhirnya.
"Ya, baiklah. Persiapkan sebuah gaun untuk Nisa," pinta Abi pada nya.
"Kau, mengajaknya?"
"Kenapa tidak? Dia istriku."
"Ya, tentu saja. Justru akan jadi pertanyaan, ketika kau mengajak wanita lain."
__ADS_1
Yang Dita maksud adalah dirinya sendiri. Wanita lain, namun sudah menemani nya selama Lima tahun. Pesta, pertemuan, dan acara penting lainnya. Lima tahun untuk ratusan acara, digantikan dengan yang baru beberapa minggu saja.
" Baiklah, akan saya persiapkan." ucap Dita.
"Jangan terlalu terbuka, jangan terlalu mewah karena Dia sederhana. Tapi, jangan terlalu buruk." imbuh Abi, yang kembali berbicara tanpa menatap sekretarisnya itu.
Dita hanya bisa mengangguk-anggukkan kepalanya, lalu pergi. Tak perlu di bayangkan, bagaimana lagi perasaannya saat ini.
Dua jam sudah berkutat dengan laptopnya. Abi meregangkan ototnya dengan bersandar di kursinya yang nyaman. Tangannya meraih Hp, dan melirik jam disana.
"Tak ada kabar..." gumamnya.
Sebuah tangan membelai bahunya. Beberapa kali turun kebawah membelai dadanya yang bidang. Begitu lembut, dengan hembusan nafas yang begitu hangat. Apalagi dengan memberi sedikit pijatan yang begitu nyaman di bahunya.
"Kau datang?" tanya Abi, dengan begitu lembut.
"Aku rindu. Apa kau sama?"
Abi mengangguk dengan mengulurkan senyumnya. Senyum yang begitu indah yang jarang sekali Ia keluarkan. Terutama sejak Lima tahun belakangan. Rahangnya terasa kaku, karena Ia nyaris tak pernah lagi bisa tertawa dengan lepas.
__ADS_1
Sayangnya, senyuman itu pun luntur. Apalagi ketika tangan yang awalnya membelai, semakin naik ke leher Abi dan mencengkramnya begitu kuat. Bahkan terasa mencekik, dengan kukunya yang panjang dan kasar. Abi menarik nafas nya dengan begitu panjang, dan menahan rasa sakit dengan air matanya.
"Kenapa memilih dia, Bi? Aku tak akan pernah rela."
Abi tak mampu menjawab sepatah kata pun. Hanya mampu terisak dengan suara yang begitu tertekan.
"Bi... Aku demi kau, Bi. Demi Kau, aku seperti ini..." cengkeramannya terasa semakin kuat, membuat nafas Abi kembali tersengal.
"Re, aku mohon. Lepas, Re... Kita tak bisa seperti ini,"
"Kau ingin melupakan aku, Bi? Tidak boleh, Bi. Tidak. Kau tak akan pernah boleh melupakan Aku, Bi." suara yang penuh mesra, kini terasa mengerikan.
Tubuh Abi membatu. Ia bahkan tak mampu hanya untuk menggerakkan tangannya.
"Kau lemah, Abi!" pekiknya dalam hati. Dingin, sangat dingin namun tubuhnya berkeringat begitu deras. Ia hanya bisa bernafas kecil-kecil, karena Rere seolah tak mau melepaskannya.
Abi bisa apa? Bersuara pun tak mampu. Hingga akhirnya, seseorang berusaha membuka pintunya.
"Nisa? Aku mohon, datanglah...." harapnya dengan sangat.
__ADS_1