Nisa Untuk Abi

Nisa Untuk Abi
Ada perubahan, meskii sangat kecil


__ADS_3

"Pagi, Pak Abi..."


"Pagi," jawabnya dengan anggukan kepala. Semua mata pun terbelalak, melihat sebuah perubahan dari bosnya itu. Serasa tak percaya, namun benar-benar nyata di depan mereka.


"Pagi...." sambung Nisa, bahkan dengan membungkuk kan badannya. Semua orang sudah faham, jika Nisa memanglah ramah. Hanya masih bengong, dengan sikap dari bos besar mereka.


"Itu, Pak Abi kenapa?" tanya salah seorang karyawan.


"Berasa, ada yang beda. Tapi apa?" Manda menggaruk kepalanya.


"Dia jawab sapaan kita, gaes." Via menyahut, dengan tatapannya yang masih begitu takjub.


"Alhamdulillah," ucap mereka bersamaan.


"Feb, kamu kok ngga ikutan?"


"Hah, ikutan buat apa?" Feby terkejut.


"Ikutan bersyukur, atas perubahan Pak Abi. Semoga, makin kesini makin ramah. Biar bisa senyum seperti dulu."

__ADS_1


"Iya, aku yang pernah menatapnya tersenyum, tahu jika itu begitu indah. Menggetarkan jiwa," ucap Manda, mengelus dadanya yang berdebar ketika mengingat senyum manis Bosnya itu.


"Ya, aku melihatnya. Sangat indah, membuat hatiku meronta," gumam Feby dalam hati. Terngiang akan senyuman indah Abi, ketika Ia tengah bergurau dengan Alex kala itu.


"udah, yok lanjut kerja. Nanti dimarahin, lagi. Baru aja ramah," tarik Manda, para semua rekannya.


Mereka kembali duduk di bangku masing-masing, dan memulai pekerjaannya. Hanya Feby, tampak diam seribu bahasa, dan masih tak bergerak dengan datanya.


Suara langkah kaki terdengar begitu elegan. Ia keluar dari ruangannya, dan berjalan menuju ruangan Abi. Siapa lagi kalau bukan Dita. Masuk dengan segala keanggunannya, membawa beberapa file persiapan rapat yang akan dilakukan..


"Siang Pak Abi," ucap Dita, yang mulai sibuk mempersiapkan ruangan nya.


"Jam berapa pertemuan nya?"


"Selamat pagi, Bu Dita...." sapa Nisa, berusaha ramah. Namun, Dita sama sekali tak meliriknya.


"Pagi," hanya itu yang terucap dari bibirnya.


Nisa melirik pada Abi, dan hanya dibalas anggukan sang suami. Menyatakan, jika Nisa tak perlu terlalu menanggapinya. Nisa akhirnya mengalah, berpindah dari sofa dan menuju kursi singasananya.

__ADS_1


"Disini saja, bermain dengan apa yang ada." bahkan Abi memberikan laptop dan Hpnya, agar Nisa merasa nyaman disana.


"Bersiaplah... Sebentar lagi client kita datang," ucap Dita, yang telah selesai dengan tugasnya.


"Cemilannya?" tanya Abi, seketika ingat dengan apa yang Ia pesan tadi.


Dita hanya mengehela nafas panjang, lalu pergi kembali keruangannya. Tak lama, kembali lagi keruangan Abi dengan sekantung penuh cemilan.


"Aku tak tahu, apa yang istrimu sukai."


"Baiklah, terimakasih..." ucap Abi, lalu memberikan semuanya pada sang istri. Yang duduk bersandar, dan memainkan Hpnya dengan fokus. Ia bahkan sempat merebut hp itu sebentar.


"Eh, Mas?" kaget Nisa, lalu beringsut dari tempat tidurnya.


"Nisa belum ada hubungi siapapun pagi ini." terangnya. Abi memeriksa isi pesan di wa, atau di smsnya. Dan benar, belum ada siapapun menghubungi. Abi pun memberikan Hp itu lagi pada istrinya.


"Cemburuan!" cebik Nisa, tampak kesal dengan tingkah suaminya.


"Tak mau ku cemburui?" toleh Abi, dengan lirikan indahnya.

__ADS_1


"Mau..." ucap manja Nisa padanya. Abi mencolek hidungnya, membuatnya tersenyum begitu bahagia.


Dita berusaha tak melihatnya. Berusaha dengan sekuat tenaga, agar tak menyakiti hatinya sendiri. Meski begitu sulit Ia rasakan. Karena hanya mendengar candaan dan godaan Nisa pada Abi pun, rasanya begitu menyayat hatinya.


__ADS_2