Nisa Untuk Abi

Nisa Untuk Abi
Ku ajak kau, ke suatu tempat


__ADS_3

"Mas?" panggil Nisa yang mencarinya daritadi. Hingga akhirnya pencarian berakhir diruang kerja Abi.


"Masss," panggil lembut Nisa pada suaminya.


"Ya?" Abi tak menolehkan wajahnya. Nisa menghampirinya dengan cepat, mencengkram wajah itu lalu menghadapkan padanya.


"Nisa!" pekiknya terkejut dengan kelakuan sang istri.


Nisa melepaskan nya. Dan duduk diam termenung, menunduk kebawah memainkan kakinya. Abi seketika merasa bersalah, dan menaruh laptop yang sejak tadi Ia pegang.


"Ya, ada apa?" tanya nya, berusaha lembut menghadap sang istri.


"Ini liburan, loh. Jarang banget dirumah berdua begini. Tapi, yang ditemenin laptopnya terus."


"Aku kerja,"


"Terus ngapain libur? Mending ke kantor aja, kalau gitu."


"Kau mengusirku?" lirik tajam Abi, dengan dahinya yang mengerenyit. "Baiklah, aku akan ke kantor jika...."


"Eeeeh," cegah Nisa, dengan menarik lengannya untuk kembali duduk.


Abi akhirnya menghela nafas dengan kasar. "Mau mu, apa?" tanya nya lembut, tapi tertahan.


"Bosen... Ajak kemana, gitu."

__ADS_1


"Bersiaplah... Kita pergi," ajak Abi.


Nisa bersorak kegirangan. Meski Ia tak tahu akan di ajak Abi kemana, tapi Rasanya begitu bahagia dapat berduaan lagi dengan suaminya hari ini. Ia berlari kecil menuju kamar. Mengganti pakaiannya dan merapikan diri. Tak terlalu formal, tapi Ia suka dengan penampilan santainya kali ini.


Setelan Hoddie, itu yang Ia kenakan. Celana panjang dengan karet diatas pusar, serta kaos oblong ovesizenya yang pendek. Cukup stylish, untuk usia Nisa yang memang belum dikategorikan dewasa. Ya, baru 22tahun.


"Siap!" ucap Nisa, datang kembali dan duduk tepat di pangkuan Abi.


"Pakai ini?" tatap Abi, pada pakaian Nisa kali ini. Yang menurunya aneh, di nilai dari segi dirinya yang terbiasa formal.


"Nisa ngga terlalu nyaman pakai dress. Lagi pula, kita cuma jalan aja, kan?"


Abi melenguh nafasnya panjang. "Ku ajak kau ke suatu tempat." Ia mengagkat pinggang Nisa, dan membantunya berdiri.


"Naik motor, yuk?"


"Jangan macam-macam," ancam Abi, yang mendekati mobilnya. Padahal, Nisa ingin berjalan berdua dengan hempasan angin yang dingin. Agar dapat mencuri kesempatan memeluk erat suaminya.


"Sabar Nisa, sabar. Suami mu itu memang beda dengan yang lain." elus nya di dada.


Nisa pun segera menghampiri Abi, yang rupanya sudah melirik sembari membukakan pintu untuknya.


"Menggerutu?"


"Engga! Susudzon mulu," sergah Nisa, yang masuk ke dalam.

__ADS_1


Abi telah siap di kursinya, sekarang. Mulai menyetir dengan cepat, tapi tetap tenang. Berjalan cukup jauh, hingga Ia menghentikan mobil disebuah perkampungan. Tak beda seperti perkampungan yang Nisa tinggali. Kecil, sederhana.


"Ini, dimana?"


"Kerumah, Nenek Rere."


"Aaaah, Nenek Rere, masih hidup?"


"Ya... Ayo turun," ajak Abi. Ia pun menggandeng tangan Nisa dengan erat, mengajaknya masuk ke sebuah gang sempit.


"Kan, Nisa bilang naik motor aja." tapi Abi tetap diam. Wajahnya sedikit tegang, ketika semakin dekat dengan lokasi. Apalagi, ketika Nisa menatap di sekeliling mereka. Dimana para penduduk tampak mengenal Abi dengan baik. Beberapa ramah, tapi beberapa menatapnya jengah.


" Mas?" panggil Nisa, sedikit rikuh.


"Apapun yang terjadi, tetap di sampingku..."


"He'emh," angguk Nisa.


Kedua nya kini tiba disebuah rumah sederhana. Tampak rapi, meski itu rumah tua. Abi melepas sepatunya, dan dengan tetap menggandeng tangan Nisa, Ia masuk ke teras.


"Nek? Ada dirumah?" panggil Abi, dengan mengetuk pintunya.


Pintu pun tetbuka, dan seorang Nenek tua keluar dari rumah itu. Ia langsung terkejut, ketika menatap sosok Abi ada di depan matanya.


"Abi?" lirihnya, dengan mata nanar menahan air mata yang akan tumpah.

__ADS_1


__ADS_2