Nisa Untuk Abi

Nisa Untuk Abi
Tidak... Atau, belum.


__ADS_3

"Mas, udah..." ucap Nisa, memberi bilasan terakhir di tubuh Abi. Ia pun berdiri, meraih handuk dan membalut tubuh itu.


"Kau lanjut mandi saja, sudah kedinginan." ucap Abi, dengan mengangkat kedua tangan ketika Nisa melilitkan handuk di pinggangnya.


"Bisa, ganti sendiri?"


"Berusaha... Meski akhirnya harus tetap menunggu mu datang."


"Nisa siapin dulu,"


"Kau sudah menggigil,"


"Ya, baiklah." jawab Nisa.


Abi melangkahkan kakinya, sembari sesekali menoleh pada Nisa yang tengah membuka pakaian nya satu persatu disana.


"Katakan, kalau Mas ingin Nisa saat ini."


"Tidak... Atau, belum..." jawabnya datar. Lalu keluar dari ruangan itu.


Ia membuka lemarinya. Mencari pakaian untuk dirinya sendiri meski begitu sulit dengan segala keterbatasan yang Ia miliki. Menjaga sedemikian rupa, agar tangan kirinya tak tersenggol atau pun lepas dari keseimbangan yang Ia jaga.

__ADS_1


Ia selalu menolak, ketika Nisa akan memakaikan Arm sling untuknya.


"Ya, selalu seperti ini. Menjaga diri sendiri pun, rasanya begitu sulit." gerutunya. Hingga Ia mendapatkan apa yang Ia inginkan.


Masih bisa, ketika memakai celananya dengan posisi duduk secara perlahan. Namun, Ia kebingungan untuk memakai kaos oblongnya.


"Aaaakkhh! Sakit sekali," lagi-lagi Abu meringis kesakitan. Ia pun duduk merenung, terpaksa kembali menunggu Nisa untuk menolongnya.


Nisa masih membersihkan tubuhnya. Terasa mulai meriang, dengan hidung mampet dan beberapa kali bersin yang begitu sering.


" Haish, pilek ini." gumamnya, di bawah guyuran air. Ia pun segera menghentikan mandinya, karena tubuhnya pun sudah terasa begitu dingin saat ini.


"Mas, kok belum pakai..... Hachiiiimh!"


"Iya, maaf. Gara-gara tadi, mungkin. Rasanya dingin." jawabnya, menghampiri Abi. Ia mengambil pakaian itu, dan memakaikannya satu persatu pada sang suami. Meski, bersin itu kian menjadi dengan kelopak mata yang sedikit sayu.


"Haaaachhiiim!" bersin nya lagi. Dan secars tak sengaja, menhentak kan tangan Abi yang sakit. Membuat pria itu terpekik kesakitan dengan begitu kuat. Merintih, perih sekali rasanya.


"Maaf," ucap Nisa, dengan segala sesalnya.


"Gantilah... Aku buat kan teh untukmu. Ku tunggu dibawah," ucap Abi. Berjalan dengan memegang dan mengelus tangannya dengan begitu lembut agar semua nyerinya hilang.

__ADS_1


Sesuai dengan janjinya. Ia memasak air untuk membuat kan Nisa secangkir teh. Setidaknya, Ia sadar jika Nisa begitu karena menolongnya.


" Dia, benar-benar tak memperbolehkanku menyentuh obat itu lagi? Bisa-bisanya, justru memberikan dirinya sendiri." gumamnya, dengan memeraskan sedikit lemon pada teh Nisa agar semakin segar. Itu ajaran Mama sofi, yang memang selalu memberikan nya ketika flu.


"Mas?" panggil Nisa yang turun dari kamarnya.


"Ya? Sudah selesai? Ini, ku buatkan teh untukmu." ucap Abi dengan sedikit perhatian. Membuat hati Nisa sedikit terenyuh, meski Ia malas untuk terlalu banyak berharap dalam moment ini.


"Lemon?"


"Ya, kau tak suka?"


"Suka... Hanya, Nisa punya magh. Jadi harus makan dulu," balasnya. Bahkan Ia lupa, jika masakan nya belum sempat Ia bereskan setelah matang. Dan langsung berlari untuk mempersiapkan semua di meja makan.


"Biar, aku bantu."


"Nisa aja, tangan Mas sakit."


"Hanya membantu sebisaku," jawab Abi. Membantu Nisa beberapa yang ringan, yang mampu Ia bawa dengan satu tangannya.


Nisa tersenyum begitu lepas. Rasanya begitu indah, melihat Abi dalam mode ramah seperti ini. Meski, Ia masih belum bisa tersenyum dengan segala yang Ia lakukan.

__ADS_1


"Senyum itu langka. Sangat sangat langka," ucapnya, sembari menggelengkan kepala.


__ADS_2