Nisa Untuk Abi

Nisa Untuk Abi
Solusi untuk masalah kita


__ADS_3

Nisa akhirnya menanggalkan ego. Ia mengetuk pintu ruangan beberapa kali, dan kemudian masuk setelah mendapat perintah dari Bosnya.


"Pak, saya mau antar dokumen ini. Bu Dita, nyuruhnya ke Bapak langsung." ucap Nisa, meletakkan nya diatas meja.


Abi melihat dokumen itu, lalu segera meraihnya tanpa banyak basa basi lagi. Ia membuka lembar demi lembar isinya. Begitu fokus, seolah tak ada hal lain disana yang perlu di perhatikan.


" Kau betah, berdiri se lama itu?" tanya Abi, yang rupanya tahu Nisa masih menunggunya.


Nisa pun langsung duduk, merapatkan kaki dan dengan tenang menunggu sang Bos dengan pemeriksaan nya.


"Ehmmm, Pak?" Nisa membuka percakapan di suasana menegangkan itu.


"Ya, kenapa?" tanya Abi, tanpa menatap sama sekali.


"Boleh, saya meminta jatah lembur? Saya dengar, untuk lembur akan mendapat bonusnya sendiri. Saya mau." ucap Nisa.


"Kau kekurangan uang?"

__ADS_1


"Jika saya kelebihan uang, maka saya tak akan bekerja sekeras ini." jawab Nisa, dengan begitu jujurnya.


Abi sedikit memberikan senyumnya, meski masih terasa begitu dingin dan kaku, "Ada tambahan. Dan akan ku beri imbalan besar, jika kau mau." ucapnya, yang kali ini mulai menegak kan kepala dan menatap Nisa dengan seriusnya.


Jujur, Nisa memang terpukau dengan tatapan Abi yang seperti itu. Mempesona, meski begitu dingin rasanya.


"A-apa, Pak? Kalau saya sanggup, saya akan terima." ujar Nisa, dengan gegap gempita membayangkan solusi dari permasalahannya.


"Menikah denganku." jawab Abi, dengan begitu datar.


"Kau kenapa?" tanya Abi, menatap tingkah aneh itu.


"Saya... Saya ngga salah denger? Bapak tadi ngomong apa?" tanya Nisa.


"Saya mau, kamu menikah dengan saya. Jika setuju, maka kita akan menikah secepatnya." jawab Abi, masih dalam mode santainya. Seolah, Ia tengah mengajak seorang anak kecil bermain kejar-kejaran.


"Me-menikah?" Nisa menelengkan kepalanya.

__ADS_1


"Ya, apa harus ku perjelas?"


"Gila! Bapak gila! Lelucon apalagi ini? Kemarin udah ngakuin saya pacar, sekarang ngajak nikah. Bos aneh!" sergah Nisa. Ia pun beranjak, melangkahkan kakinya keluar dari ruangan itu.


Hati Nisa terasa makin kacau. Masalah yang datang begitu bertubi-tubi, seolah tak ada waktu lain atau membiarkan Ia santai sejeak. Mereka, terlalu sering tak adil, bahkan main keroyokan, bahkan hanya dengan seorang wanita.


"Dia mengataiku aneh? Padahal, Dia lebih aneh." gumam Abi. Anehnya, Ia tak merasa canggung atau merasa bersalah sedikit pun dengan ucapannya itu. Ia kembali fokus dengan laptop dan dokumen yang diberikan Nisa padanya.


"Gila! Dasar gila! Aaarrrkh, kesel aku rasanya. Hidupku makin absurd, sejak ketemu dia. Mau keluar, tapi sayang. Cari kerjaan ngga gampang. Apalagi, gajinya lumayan besar." gerutunya, di kamar mandi.


Nisa merasa hidupnya memang semakin konyol. Apalagi, sejak bertemu dengan Abi. Bagaimana tidak, Ia sudah diakui pacar di depan Mamanya. Dan mendadak, malah diajak menikah tanpa ada nya konfirmasi, atau setidaknya pendekatan bagi keduanya.


"Bukan nya jelasin ke Mama nya, sebenarnya gimana. Ini malah tambah masalah. Aneh tuh orang."


"Siapa yang aneh? Kamu ngga ada kerjaan, ngomong sendirian di kamar mandi?" tanya Dita, yang mendadak datang dan mengagetkan Nisa. Bahkan, Nisa berjigkrak dibuatnya.


"Maaf, saya salah lagi." jawab Nisa. Ia kemudian merapikan dirinya, lalu kembali ke meja kerja dengan segala tugas yang ada. Apalagi, Ia harus kembali ke ruangan Abi untuk mengambil dokumen yang Ia tinggalkan barusan.

__ADS_1


__ADS_2