Nisa Untuk Abi

Nisa Untuk Abi
Percaya kalau Dita ikut


__ADS_3

"Alex, bagaimana?" tanya Abi via telepon.


"Maaf, sepertinya memang harus kau."


"Besok aku kesana,"


"Dengan siapa? Sendiri? Ajak sana Nisa." pitnta Alex padanya.


"Tidak... Dia belum bisa ikut, besok. Nenek pun masih harus Ia awasi, karena kau disana. Tak mungkin meminta Dita."


Nisa langsung melirik, ketika Abi mengucap nama sekretarisnya.


"Ya, baiklah. Beritahu jika sudah sampai, aku akan menjemputmu di bandara. Aku hanya takut, kau kesepian di dalam pesawat, dan...."


"Tidak... Sekarang berbeda,"


"Ah, syukurlah..." Alex mengusap dadanya, berharap apa yang dikatakan Abi memanglah kenyataan. Ia pun tenang sementara waktu ini.


"Sampai bertemu besok," Abi menyelesaikan panggilan nya.

__ADS_1


"Kok, bawa-bawa Dita? Dia ikut?" Nisa menghampiri, dengan dahi mengerenyit.


"Kau tak dengar aku menelpon?"


"Nisa kan beres-beres, mana bisa dengar? Dita ikut pergi?"


"Cemburu?"


"Sebenarnya iya. Tapi... Rasanya Nisa lebih merasa aman, kalau Mas Abi ajak dia."


"Hah?"


Abi hanya menatap istrinya, dengan segala keanehan yang ada. Seolah Nisa memang tak lagi cemburu pada Dita.


"Nisa cemburu, ketika dia deketin suami Nisa, di depan mata Nisa. Tapi, ketika diluar, Dia lebih bisa dipercaya." tuturnya, dengan segala kejujuran yang Ia miliki.


Semburat senyum terukir di bibir manis Abi. Ia pun menghampiri Nisa dan membantunya membereskan beberapa perlengkapan yang harus Ia bawa. Tapi, Nisa justru masuk kedalam koper besar itu, ketika Abi mulai akan memasuk kan barangnya.


"Hey," panggil Abi, ketika Nisa meringkuk di dalam sana dengan tubuh mungilnya.

__ADS_1


"Pengen ikut. Nisa janji bakal diem,"


"Ini bukan masalah ke aktifanmu, tapi ini masalah pekerjaan." Abi meraih tubuh itu, lalu menggendongnya di depan. Ia membawanya ke ranjang mereka dan merebahkan tubuhnya disana dengan Abi diatasnya.


"Aku akan membawamu, ketika semua urusan selesai. Dan hotel, sudah beroperasi sebagaimana mestinya." ucap Abi, dengan membelai lembut rambut yang terurai indah itu. Turun perlahan mengusap pipinya yang mulus hingga ibu jarinya meraih bibir mungilnya.


Nisa meraih lengan itu, lalu mengecupnya beberapa kali dengan gemasnya. Kecupan mesra pun di daratkan Abi ke bibir mungil itu, Nisa sedikit membuka mulut nya agar memperluas permainan suaminya disana. Sesekali, Abi melepaskan pangutannya untuk memberi Nisa kesempatan bernafas dengan lega.


Permainan pun Abi lanjutkan. Ia kembali menyerang bibir mungil itu dengan ganas, satu tangan nya beralih menggenggam tangan Nisa dengan kuat, apalagi ketika Nisa mulai menggeliat ketika Abi makin aktif menelusuri lehernya yang jenjang.


"Tapi besok mau pergi," sanggah Nisa, melepaskan Abi darinya.


"Justru karena aku akan pergi, aku meninggalkan tanda kepemilikanku disini," kecup Abi, di ceruk Nisa. Meninggalkan beberapa bekas kemerahan disana.


"Agar kau tak nakal," imbuhnya. Ia pun kembali merayap keseluruh tubuh indah itu, dengan tangan masing-masing mulai aktif melepas piyama masing-masing.


Abi seolah telah candu, apalagi dengan salah satu bagian di tubuh Nisa. Serasa tak pernah ingin melepasnya sedikitpun, bahkan hingga ketika keduanya melakukan penyatuan.


Nisa menerimanya dengan tarikan nafas yang dalam, menyesuaikan dengan segala yang Abi berikan padanya. Sesekali matanya terpejam, menikmati segala yang Abi berikan untuknya. Bahkan, Nisa tak hanya diam kali ini. Ia sudah bisa melakukan sebuah perlawanan untuk menyesuaikan diri dengan Abi. Mengambil alih permainan agar semakin menyenangkan.

__ADS_1


Suara-suara indah pun mengisi ruangan yang hening itu. Menjadi saksi dua insan yang tengah memadu cinta di dalamnya. Hingga terdengar ketika mereka saling bersahutan hingga Abi benar-benar memenuhi Nisa malam ini. Abi menyerukan nama Nisa, di sahut nya dengan sebuah kecupan hangat di bibir indah itu.


__ADS_2