
"Bu?" semua mata terbelalak melihatnya. Apalagi, Dua sejoli itu.
"Bu Nisa, maaf. Ada keributan apa, disini?" bahkan sang manager pun datang menghampirinya.
Dita melepas cengkraman nya dari David, dan menatap nya lekat tajam penuh kebencian. Sedangkan Nisa, Ia sedikit canggung dengan situasi itu.
"Maaf, Pak. Ini, teman-teman saya sedang makan. Dan, ada sedikit salah faham."
"Kau masih melindungi mereka?" sanggah Dita padanya.
"Bu-bukan melindungi. Hanya tak mau, permasalahan makin panjang. Begitu banyak orang disini." jelas Nisa, membujuk agar Dita sedikit melunak.
"Apa perlu, saya panggil Pak Abi?".
"Eng-ngga usah, pak. Biar saja, ngga papa. Saya akan pulang bersama Bu Dita..."
"Hey!"
"Bapak, kembali saja bekerja. Dan ini..." Uang yang di lempar oleh David, di pungut lagi oleh Nisa. Ia memberikan nya pada manager itu. Nisa lantas meminta sang manager, untuk membagikan uang itu pada semua pelayan yang ada disana. Dan manager itu pun mengangguk bersedia.
David hanya bengong. Diam seribu bahasa dan seolah kehilangan semua rasa sombongnya. Apalagi, ketika Nisa mengeluarkan black card nya dan membayar semua pesanan yang ada.
"Yang tadi, dibungkus aja. Mau saya bawa pulang." ucapnya, pada sang pelayan yang Ia panggil untuk pembayaran.
Nisa pun berbalik sebentar. Mengucapkan terimakasih pada semua rekan yang ada disana. Ia meminta maaf, karena telah merusak acaranya. Dan sebagai gantinya, Ia yang akan membayar semua makanan itu. Semua mengangguk, berbalik begitu menghormatinya. Bahkan, Maya tampak tak enak hati padanya malam ini.
__ADS_1
"Nis, maaf." sesalnya.
"Ngga papa. Aku yang minta maaf. Harusnya, ngga aku ladenin orang itu. Jadinya, berantakan." Nisa pun pamit pergi, mengikuti Dita yang terpaksa mengasuhnya malam ini.
"Bu Dita, tunguuuu...." rengek Nisa, mengikuti langkah Dita yang begitu cepat, seolah ingin meninggalkan nya.
"Kau datang dengan siapa? Pulanglah sendiri." ucapnya, begitu datar dan cuek.
"Tapi ini udah malem."
"Terus? Kau sendiri keluar, dan kau berani. Apa masalahnya?" sergah Dita, yang berjalan dengan begitu cepat, bahkan meninggalkan Nisa. Ia pun diam di tempatnya. Berdiri, tanpa bergerak sama sekali.
Dita yang berjalan, merasa tiba-tiba hawanya sunyi. Ia pun berbalik badan, dan menatap Nisa yang mematung di tempatnya. Ia menarik nafas dengan begitu kesal. Bahkan sangat kesal, hingga rasanya ingin melempar pengait untuk menarik wanita itu ke hadapannya. Rasanya, ingin sekali Ia menjambak nya dengan brutal.
"Kau mau menjadi patung selamat datang?" tanya Dita, berkacak pinggang menatap Nisa. Sedang Nisa, hanya menggelengkan kepalanya.
"Ku hitung sampai Tiga. Jika kau tak kemari, maka Kau akan ku tinggalkan. Satu.... Dua....."
Nisa pun berlari dengan cepat, hingga Ia kini ada di depan Dita. Ia pun tersenyum dengan begitu ramah.
"Jangan harap aku buka pintumu. Aku bukan anak buah suamimu lagi," tukasnya.
Nisa dengan sigap membuka pintu mobilnya. Bagian depan, karena jika Ia duduk di belakang, Dita pasti akan lebih mengamuk dari biasanya. Akan fatal jadinya nanti.
Dita mulai menyetir, dan mengantarkan Nisa untuk pulang. Dan rupanya, Dita pun tahu jika Nisa dan Abi sudah pindah kerumah baru. Ia memilih jalan yang sesuai dengan tujuannya.
__ADS_1
"Bukan tanpa alasan, aku memintamu melatih diri. Berpakaian, bicara, kecakapan. Itu semua untuk dirimu sendiri. Semua orang menatapmu bagaimana, itu tergantung dirimu."
Nisa seketika melihat penampilan nya sendiri. Memang sedikit kacau, jika dibanding Dita dan teman-teman nya yang tadi."Maaf," ucapnya.
"Kau minta maaf pada siapa? Dirimu sendiri? Aku bahkan ngeri, ketika Abi tahu jika...."
"Tolong, jangan beritahu Mas Abi. Mas, sedang sangat sibuk sekarang. Apalagi, tanpa Bu Dita dan sedang mencari lokasi baru untuk Apartemennya." mohon Nisa.
"Hhhh, berkorban hingga seperti ini." cebik Dita, pada pernyataan itu.
Keduanya telah tiba dirumah baru Nisa. Dita menghentikan mobilnya di depan pagar, tanpa mau masuk ke halaman rumah itu.
"Turunlah... Aku tak akan mengantarmu hingga kedalam."
"Tapi...."
"Apalagi?"
"Mau minta permohonan,"
"Kau tak sedang ulang tahun. Jangan macam-macam!"
"Satu aja, ngga banyak."
"Apa?"
__ADS_1
"Balik jadi sekretarisnya Mas Abi. Pelase," mohon Nisa.