
"Masss, lagi dimana?"
"Sedang perjalanan, menuju proyek. Kenapa? Masih sakit?"
"Iya, sakit. Tapi agak mendingan, karena Mama kasih obat tadi."
"Istirahatlah, jangan terlalu banyak bergerak."
"Nisa udah rebahan daritadi, capek." keluhnya, manja.
Ia memang sudah berbaring terus selama setengah hari ini. Hanya sesekali keluar, untuk mengambil minum atau pun cemilan. Untungnya, Sang mertua selalu sigap dan memberi perhatian lebih untuknya. Bahkan tak segan mengusap punggungnya yang terasa pegal.
"Lalu, mau nya apa? Kau tak boleh keluar, jika belum pulih."
"Cium..."
"Aku sedang bekerja." jawab Abi, tampak gugup.
"Masss...." rengeknya dari sebrang sana.
Abi menelan salivanya. Bingung harus berbuat apa, untuk menuruti maunya sang istri. Ia tak tega, apalagi mengingat ringikan Nisa kesakitan semalam.
"Pleaseeeeee...." mohon Nisa dengan sangat.
Abi pun sedikit menyuruk di pojokan mobilnya, menghimpit jendela. Alex dan Dita, hanya sesekali menoleh dan menatapnya penuh tanya. Sembari mengerenyitkan dahi nya masing-masing. Apalagi, ketika Abi menutup mulutnya di sana.
"Bagaimana?" tanya Abi, dengan lirih.
"Muach... Begitu,"
__ADS_1
"Ehmmm... Muach?" timpal Abi dengan mengerenyitkan dahinya. Merasa aneh, dan ragu dengan permintaan Nisa.
"Yang mesra,"
"Muaaaach! Muaach... Muach," kecup Abi berkali-kali, dari kejauhan.
Nisa serasa langsung terbang melayang, berguling-guling diatas kasur empuknya sembari memainkan selimut tebal yang menutupi tubuhnya. Bahkan, nyaris berguling jatuh ke lantai jika selimutnya tak tersangkut ujung ranjang.
"Aaaaaaaa! Seneng," ucap nya, dengan segala kelebaian yang Ia rasakan.
"Sudah?"
"Iya, udah. Ngga papa, yang penting mood booster."
"Baiklah, aku akan kembali bekerja." ucap Abi, kembali pada mode nya yang berwibawa.
"Iya, sayang, I Love You..."
"Ya...." jawabnya, langsung mematikan telepon keduanya.
Abi terdiam, menatap keluar kaca dengan segala pemandangannya. Hiruk pikuk dan bisingnya perkotaan, tak mampu mengalihkan ingatannya pada ucapan yang baru saja Nisa lontarkan. Seperti sebuah De javu, namun tak pernah Ia dengar lagi setelah sekian lama.
"Kau kenapa, Bi?" tanya Alex, menoleh dari kursi setirnya.
"Tak apa, hanya ingin menikmati pemandangan yang ada." jawabnya, dengan tenang.
Namun, Dita dan Alex saling bertatap muka. Mereka takut, jika bukan tenang yang Abi dapatkan. Tapi kembalinya halusinasi yang akan datang menghampirinya.
Alex dengan sigap menghidupkan musik dari mobilnya, diselingi Dita yang maju dengan berbagai pertanyaan. Mengusir kekosongan yang akan hadir dalam diamnya Abi.
__ADS_1
"Hey, begitu takutnya kalian padaku?"
"Bukan padamu, tapi pada traumamu..." balas Alex.
*
"Yaaaah, ngga dibales. Ih, dasar Es batu." cebik Nisa, menatap layar Hp yang sudah kembali pada mode standby nya. Tapi hati Nisa sudah begitu bahagia, meski hanya nendapat kecupan virtual dari suaminya itu.
Nisa menyalakan kembali Hpnya, menghubungi Adhim untuk menanyakan kabar sang Nenek disana. Padahal biasanya, Adhim akan selalu melapor duluan sesuai jadwalnya.
"Kak Adhim kenapa?"
"Kenapa bagaimana?"
"Ya, kenapa diem? Biasanya ramah, kasih info Nenek setiap beberapa jam sekali."
"Aku hanya menghindari salah faham, Nis."
"Salah faham?"
"Ya, dari suamimu. Aku takut, cemburunya semakin menjadi. Dan bahkan, bisa membahayakan hubungan kalian kedepan." jelas Adhim.
"Loh! Siapa bilang Mas Abi cemburu?" Nisa masih digelanyuti rasa tak percaya akan ucapan Adhim padanya.
"Tak perlu bicara dan mengakui, Nisa. Aku lihat tatapan itu. Tatapan yang mengatakan semuanya, bahwa suamimu cemburu. Tak perlu dipertegas." timpal Adhim.
Ia sangat faham, karena sama-sama pria. Apalagi ketika melihat tatapan Abi pada Nisa yang begitu dalam. Sedang sesekali menatapnya seolah mengancam.
__ADS_1
"Dia begitu takut kehilangan kamu, Nisa...".